Bahaya Membonceng Menyamping Saat di Jalan

by
January 8th, 2013 at 8:45 am

Lhokseumawe (CiriCara.com) – Larangan membonceng mengangkang bagi wanita di kawasan Lhokseumawe mulai digulirkan sejak awal tahun 2013, minggu kemarin.

Peraturan baru ini menuai banyak pro dan kontra dari berbagai pihak. Dilihat dari sisi kontra, sebenarnya apa dampak larangan membonceng mengangkang pada wanita di Lhokseumawe itu?

Kompas

Diberitakan oleh Detik.com, Chief Instructor dari Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Jusri Pulubuhu, menganalisa bahaya yang mengancam pembonceng wanita yang harus duduk menyamping saat di jalan.

Jusri berharap agar pemerintah juga memperhatikan keselamatan para pembonceng wanita walau aturan itu dibuat berdasarkan adat istiadat yang berlaku.

Menurut Jusri, perempuan sebaiknya jangan duduk menyamping karena keselamatan saat berkendara adalah hal yang paling utama. Menurut Jusri, jika duduk menyamping, ukuran anggota tubuh akan lebih lebar daripada stir motor sehingga ketidakseimbangan saat bermotor rentang terjadi.

“Kaki yang dibonceng akan keluar dari objek. Jika sudah keluar, itu berbahaya dari sisi keselamatan. Selain untuk pengendara, orang yang dibonceng dan orang lain,” kata Jusri seperti dikutip Detik.com, Selasa, 8 Januari 2013 .

Bahaya cara membonceng menyamping adalah berkurangnya keseimbangan terutama saat si pengendara motor yang berada di depan membawa motor dengan cara meliuk-liuk.

Pakar otomotif tersebut juga mengatakan bahwa bahaya membawa orang yang membonceng menyamping ini lebih berbahaya daripada saat membawa barang muatan dalam boncengan sebab barang yang dibawa bisa diikat erat dan mengikuti manuver si pengemudi.

“Jika duduk yang benar diatur dalam peraturan, khususnya untuk penumpang adalah forward facing atau duduk menghadap ke depan, bukan lateral facing/side saddle sitting atau duduk menyamping,” kata Jusri saat memberikan cara yang benar bagi para wanita ketika dibonceng.

Namun adat dan peraturan agama yang berlaku di daerah Lhokseumawe tampaknya lebih diutamakan dari saran pakar otomotif. Akankan pemerintah kota Lhokseumawe tetap memberlakukan peraturan ini walau bahayanya saat di jalan sangat besar? (RN)

Comment di sini