Izin Belum Turun, Jokowi Dinilai Langgar Aturan Kampanye

by
February 18th, 2013 at 10:56 am

Jakarta (CiriCara.com)Joko Widodo atau Jokowi, Gubernur DKI Jakarta yang berasal dari Partai PDI Perjuangan ikut dalam kampanye pasangan Rieke Diah Pitaloka dan Teten Masduki, Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat, Sabtu dan Minggu, 16-17 Februari 2013.

Antara

Antara

Beragam reaksi muncul atas aksi Jokowi tersebut. Diberitakan oleh Republika.co.id, Kemendagri menilai tindakan yang telah dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta itu telah melanggar Peraturan Pemerintah 14/2009 tentang Tata Cara bagi Pejabat Negara dalam Melaksanakan Kampanye.

Menurut peraturan tersebut, izin cuti berkampanye bagi pejabat harus diajukan paling lambat 12 hari sebelum hari pelaksanaan. Sedangkan izin yang dibuat oleh Jokowi baru masuk pada hari Jumat, 15 Februari 2013 pukul 14.00 WIB atau sehari sebelum pelaksanaan kampanye.

Apalagi saat kampanye dilaksanakan, izin dari Mendagri Gamawan Fauzi belum turun.

“Intinya kita belum bisa memproses surat izin kampanye Jokowi,” kata Staf Ahli Mendagri Reydonnyzar Moenek, Senin 18 Februari 2o13 seperti dikutip oleh sumber yang sama.

Sebagai seorang pejabat negara, menurut Reydonnyzar, Jokowi seharusnya taat terhadap aturan yang berlaku. Aturan yang berlaku tersebut adalah izin cuti yang disampaikan pada 12 hari sebelum melaksanakan masa kampanye.

Reydonnyzar menyayangkan sikap Jokowi yang tidak melampirkan jadwal dan tujuan dari tindakan kampanye yang dilakukannya. Sikap Jokowi yang tidak tertib terhadap aturan ini bisa membuat Kemendagri melakukan proses lebih lanjut terhadap sang Gubernur DKI Jakarta.

Walaupun kampanye dilakukan di hari libur, seharusnya Jokowi tetap memandang jabata Gubernur DKI Jakarta yang melekat pada dirinya.

Jika Jokowi berkampanye untuk pemerintah, maka Jokowi tidak memerlukan izin namun bila kampanye hanya dilkaukan untuk kepentingan partai maka Jokowi harus mendapat izin terlebih dahulu.

Sikap Jokowi ini dinilai bisa mempengaruhi sikap kepala daerah lainnya yang kemungkinan besar bisa mementingkan kepentingan partai masing-masing. Dampaknya pun bisa berimbas pada roda pemerintahan yang dijalankan mereka. (RN)

Comment di sini