Hati-hati Tawaran Investasi Emas Berimbal Hasil Besar

by
February 28th, 2013 at 1:34 pm

raihan jewelleryJakarta (CiriCara.com) - Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi menyatakan pengaduan masyarakat terkait dugaan penipuan investasi emas oleh Raihan Jewellery sudah diproses oleh Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti).

Pihak Bappebti sebelumnya menerima laporan dari para investor Raihan Jewellery yang kecewa karena perusahaan itu tidak menepati janji investasi yang sebelumnya sudah disepakati.

Kepala Bappebti Syahrul R. Sempurnajaya mengungkapkan telah ada satuan petugas (satgas) yang bertugas mengawasi perusahaan pialang di Indonesia. Satgas ini dibentuk karena banyak laporan tentang investasi lancung yang menjadikan masyarakat sebagai korban.

Menurut Syahrul, publik wajib memeriksa dua poin penting dari sebuah perusahaan pialang ketika akan melakukan investasi. Pertama, cek apakah status hukum perusahaan terdaftar di Bappebti atau tidak. Kedua, cek apakah perusahaan terdaftar di  Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) atau Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI) atau tidak. Jenis penawaran kontrak dari perusahaan juga harus ada di bursa tersebut.

Syahrul menyebutkan telah banyak perusahaan investasi emas yang dibekukan karena menjual penawaran yang tidak jelas. “Praktik mereka telah mencoreng kontrak berjangka komoditas di Indonesia,” jelasnya.

Sementara itu Areston Tjendra yang merupakan kepala divisi riset dan analisa PT Monex Investindo Futures mengungkapkan ada 3 hal penting yang mutlak dilakukan ketika mendapatkan penawaran investasi:

1. Mengecek legalitas pengelola investasi: Calon investor wajib mengecek keberadaan perusahaan di situs otoritas seperti bapepam.go.id, bi.go.id, dan bappebti.go.id. Menurut aturan pemerintah, perusahaan yang berhak mengelola uang publik hanyalah perusahaan yang telah memiliki izin dari otoritas terkait.

2. Mengecek mekanisme investasi: Calon investor harus teliti dalam memahami mekanisme investasi. Misalnya, dalam investasi jangka panjang investor tak perlu mentransfer dana investasi ke rekening individu atau perusahaan, melainkan ke rekening terpisah yang sudah masuk di data badan kliring untuk menghindari penyalahgunaan dana.

3. Waspada terhadap janji keuntungan besar: Investor jangan mudah terlena dengan janji-janji yang terlontar ketika mendapat penawaran. Investor harus memahami bidang investasi agar bisa bertindak sesuai logika yang berlaku di bidang tersebut.

Rakhmi Permatasari dari Safir Senduk dan Rekan serta Risza Bambang dari Padma Aktuaria berpendapat investor yang menginvestasikan dananya secara tidak wajar adalah investor yang rakus.

Rakhmi menyarankan investor semestinya bersikap skeptis terhadap setiap tawaran investasi. Menurutnya, imbal hasil sebesar 5 persen per bulan terbilang sudah tidak wajar.

Raihan Jewellery yang dilaporkan nasabahnya menawarkan imbal hasil sebesar 3-5 persen per bulan. Sebelumnya imbal hasil selalu mengucur dari 2010. Nasabah mulai mengeluh ketika pada Januari 2013 perusahaan ini berhenti membayarkan imbal hasil. Menurut Kompas cetak edisi Kamis, 28 Februari 2013, dana nasabah diprediksi mencapai Rp 13,2 triliun untuk total emas 2,2 ton. (hp)

Comment di sini