Kronologi Penembakan Tahanan di Lapas Sleman Versi LSM

by
March 25th, 2013 at 10:51 am

Sleman (CiriCara.com) - Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (Kontras) menuturkan kronologi penembakan empat orang tahanan yang terjadi di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Cebongan, Sleman, Yogyakarta pada hari Sabtu, 23 Maret 2013 dini hari.

Metro TV

Metro TV

Dilansir dari Kompas.com, investigasi insiden penyerangan Lapas oleh kelompok senjata yang tidak dikenal ini dilakukan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) tersebut langsung kepada Kepala Lapas, Sukamto dan para saksi lainnya.

Dan inilah kronologi peristiwa penembakan yang dilakukan oleh orang-orang tak dikenal di dalam Lapas tersebut seperti ditulis Kompas.com berdasarkan penuturan Kontras:

Selasa, 19 Maret 2013

Sersan Satu (sertu) Santoso, tewas dikeroyok di kawasan Hugo’s Cafe, Sleman, Yogyakarta pada dini hariu pukul 02.45 WIB. Pengeroyokan dimulai dari kasus senggol menyenggol antara korban dan tersangka sehingga terjadi adu mulut. Santoso tewas dengan luka tusukan.

Kurang dari 24 jam, Polda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menangkap empat tersangka di tiga lokasi yang berbeda. Penangkapan dilakukan pada pukul 14.00 WIB. Keempat tersangka yaitu Gameliel Yermiyanto Rohi Riwu, Adrianus Candra Galaja, Hendrik Angel Sahetapi alias Deki, dan Yohanes Juan Manbait ditangkap oleh Polda setempat dan ditahan di Polres Sleman.

Rabu, 20 Maret 2013

Keempat tersangka dipindahkan ke tahanan Polda DI Yogyakarta.

Jumat, 22 Maret 2013

Keempat tahanan bersama dengan tahanan lainnya dipindahkan ke LP Cebongan, Sleman pada pukul 11.00 WIB dengan alasan ruang tahanan Polda DIY sedang berada dalam tahap renovasi. Kuasa hukum para tersangka mengaku tidak mengetahui pemindahan mereka.

Haris Azhar selaku Koordinator Kontras yang melakukan investigasi mengatakan bahwa keterangan saksi, pihak Lapas sempat mempertanyakan alasan pemindahan para tersangka. Mereka sempat curiga karena 4 dari 11 orang tersangka yang dipindah adalah tersangka pembunuh Kopassus.

Namun, pihak Polda DIY mengatakan akan memberikan pengamanan terhadap para tersangka di Lapas. Lapas itu dijaga sekitar 8 orang hingga malam hari. Pemindahan tahanan secara cepat dinilai sangat janggal. Atas kejanggalan itu, pihak Polda DIY diduga kuat telah mengetahui akan ada penyerangan terhadap empat pelaku.

Tempo

Tempo

Sabtu, 23 Maret 2013

Pada pukul 00.30 WIB, dua orang petugas di meja piket Lapas itu didatangi oleh seseorang yang mengaku berasal dari Polda DIY. Mereka mengaku ingin berkoordinasi dengan tahanan yang baru saja dilimpahkan ke LP Cebongan. Petugas piket lalu memanggil Kepala Keamanan yang menanyakan maksud kedatangan kepada para tamu.

Ketika pintu dibuka, ada 17 orang bertopeng dan bersenjata laras panjang serta mengenakan pakaian bebas yang memaksa masuk ke Lapas. Mereka mendodongkan senjata dan menyandera penjaga LP. Mereka juga mengancam akan mengebom Lapas.

Di waktu yang sama, belasan pelaku itu menanyakan letak para tahanan yang baru saja dilimpahkan oleh Polda DIY. Penjaga Lapas yang mengaku tidak tahu lalu dianiaya dan dipaksa untuk memberi tahu. Mereka juga diseret paksa untuk menunjukkan lokasi tahanan.

Petugas lalu memberi tahu para pelaku bahwa tahanan berada di sel 5a. Kunci sel tahanan diambil dan petugas Lapas dipaksa untuk mengantar ke dalam sel.

Setelah sampai di sel 5a, ada 35 orang tahanan termasuk empat orang tersangka pembunuhan anggota Kopassus. Seorang pelaku langsung menanyakan siapa empat orang yang menjadi tersangka peembunuhan anggota Kopassus sehingga terjadi kepanikan dan kegaduhan di dalam sel tersebut hingga keempat orang tersebut terpisah.

Keempat orang tahanan pembunuh anggota Kopassus lalu ditembak hingga tewas oleh seorang eksekutor di hadapan tahanan lainnya.

Pelaku lainnya meminta paksa petugas Lapas untuk menunjukkan tempat pengaturan CCTV. Petugas mengatakan bahwa ruang CCTV ebrada di lantai dua.

Para pelaku kemudian mendobrak pintu yang bertuliskan “Kepala Lapas” dan merusak sekaligus mengambil kelengkapan CCTV. Penyerangan secara keseluruhan diperkirakan hanya berlangsung selama 15 menit. Berdasarkan keterangan, ada seorang pelaku yang diduga berperan sebagai time keeper karena terus melihat jam yang berada di tangannya.

Para penyerang diduga memasuki Lapas dengan melompat pagar karena pagar sedang dikunci. Warga sekitar juga mengatakan bahwa mereka mendengar suara tembakan dan melihat ada tiga truk besar yang parkir di dekat Lapas yang berlokasi did aerah yang sepi dan jauh dari pemukiman penduduk.

Berdasarkan kronologi dan keterangan yang didapat oleh Kontras, kemungkinan besar, penyerangan ini dilakukan dengan sangat terencana dan profesional.

Pembagian tugas sudah diatur dengan baik dengan waktu penyerangan hanya 15 menit. Menurut Haris, operasi yang dilancarkan para penyerang itu seperti operasi buntut kuda karena hanya ada satu orang yang mengeksekusi di dalam Lapas sementara  yang lainnya berjaga-jaga.

Kemungkinan besar para penyerang ini adalah kelompok yang terlatih dengan penggunaan senjata karena mereka membawa senjata AK 47 jenis FN dan juga granat.

Diduga kuat, penyerangan yang dilakukan di Lapas Cebongan, Sleman ini dilatarbelakangi atas motif balas dendam. Walau diduga para pelakua adalah anggota TNI, Panglima Kodam IV/Diponegoro Mayor Jenderal Hardiono Saroso dan Kepala Seksi Intelijen Kopassus Grup-2 Kapten (Inf) Wahyu Yuniartoto langsung membantah keras penembakan dilakukan anggota Kopassus. (RN)

Comment di sini