Sandi Minta Uang Polisi, dari “Kaliber” Hingga “Tambah Darah”

by
May 27th, 2013 at 10:43 am
Ist

Akpol

Jakarta (CiriCara.com) – Tersangka kasus korupsi di Indonesia kerap dikabarkan menggunakan sandi-sandi khusus untuk berkomunikasi agar tidak terendus pihak lain yang bisa membuat aksi kotor mereka terbuka.

Dalam kasus simulator  surat izin mengemudi, pihak yang terlibat juga diduga menggunakan kata sandi tertentu.

Seperti diberitakan Kompas.com, staf Korlantas Polri bernama Heru dan Ni Nyoman Suartini menggunakan sandi “kaliber” ketika meminta uang dari Direktur Utama PT Inovasi Teknologi Indonesia (ITI) Sukotjo S. Bambang.

Hal ini terkuak ketika Sukotjo hadir memberikan kesaksian dalam kasus dugaan korupsi simulator SIM dengan terdakwa Irjen Djoko Susilo pada Jumat (24/5). (Baca juga: Daftar Kekayaan Irjen Djoko Susilo yang Disita KPK)

Kepada majelis hakim, Sukotjo mengaku dimintai sejumlah dana oleh Ni Nyoman Suartini dan Heru dengan kode sandi kaliber 50 dan kaliber 100.

Ketika ditanya ketua majelis hakim Suhartoyo tentang arti kaliber 50 dan kaliber 100, Sukotjo menerangkan bahwa kaliber 50 berarti 50 juta sedangkan kaliber 100 artinya 100 juta.

Sukotjo mengaku akhirnya memberikan kaliber 50 yang terbungkus dalam kemasan kue brownies yang disebutnya sebagai oleh-oleh khas dari Bandung, kota di mana PT ITI berlokasi.

Menurut Sukotjo, oleh-oleh tersebut diserahkan kepada Didik selaku Wakil Korlantas lewat perantara seorang staf bernama Indra. Oleh-oleh ini digunakan untuk melancarkan komunikasinya dengan Korlantas dalam mengerjakan proyek simulator SIM.

Selain “kaliber” dan “brownies”, Sukotjo mengungkapkan polisi yang terlibat kasus juga menggunakan kode sandi “tambah darah”.

”Sudah capek Bos, malam Minggu nih, butuh tambah darah,” Sukotjo menirukan kata-kata Nyoman ketika meminta uang. Setiap kali mendapat sandi tersebut, Sukotjo memberikan uang rata-rata 10 juta rupiah kepada Nyoman. (Baca juga: Inilah Kata Sandi yang Sering Dipakai Koruptor)

(hp)

Comment di sini