Tahun Depan, Semua Bungkus Rokok Wajib Diganti

by
June 3rd, 2013 at 2:01 pm
Suaranews

Suaranews

CiriCara.comDampak buruk atau pesan mengerikan yang ada pada bungkus rokok sebenarnya sudah dicantumkan. Namun, hal tersebut nampaknya tak membuat orang berhenti untuk mengonsumsinya.

Para perokok sebenarnya tahu akan dampak buruk merokok bagi kesehatan. Namun, mereka memang sudah ketergantungan atau tidak mau berhenti mengisapnya. Dikarenakan kecanduan benda tersebut, terkadang para perokok mengisap zat-zat berbahaya itu di mana saja.

Padahal berbagai peraturan sudah dikeluarkan, antara lain peraturan Gubernur DKI Nomor 75 tahun 2005 dan Nomor 88 tahun 2010 tentang Kawasan Dilarang Merokok. Adanya regulasi tersebut, nampaknya kurang terealisasikan karena masih banyak saja tempat-tempat yang menyediakan area merokok sehingga jumlah perokok akan terus meningkat.

Namun, baru-baru ini pemerintah mengeluarkan peraturan baru yaitu produsen rokok diwajibkan mencantumkan tulisan atau gambar peringatan bahaya merokok pada kemasan atau bungkus produknya.

Peraturan tersebut dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan yang tertera pada Peraturan Menteri Kesehatan No.28/2013 tentang Pencantuman Peringatan Kesehatan dan Informasi Kesehatan pada Kemasan Produk Tembakau.

Dilansir dari Metrotvnews.com, Tjandra Yoga Aditama, Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan mengatakan bahwa pencantuman gambar atau tulisan peringatan pada bungkus harus mengacu pada persyaratan yang ditentukan.

Reuters

Reuters

Sebagai contoh, gambar bahaya peringatan rokok harus dicantumkan pada bagian depan dan belakang bungkus rokok. Masing-masing gambar luasnya  40% dari luas total luas bungkus rokok. Gambar peringatan harus dicetak berwarna, jenis huruf yang digunakan harus arial bold dengan ukuran font 10, dan tulisan peringatan harus dicetak jelas dan mencolok.

Peraturan tersebut baru akan direalisasikan tahun depan. “Kita beri tenggang waktu 12 bulan sejak Permenkes dikeluarkan. Setelah itu bungkus rokok wajib diberi gambar atau tulisan peringatan bahaya merokok,” kata Menteri Kesehatan, Nasfiah Mboi kepada Metrotvnews.com.

Jika ada yang produsen rokok yang melanggar, maka Badan POM berwenang menjatuhkan sanksi berupa teguran lisan, tertulis, dan rekomendasi pencabutan izin usaha.

Dengan adanya peraturan tersebut ditanggapi baik oleh Arist Merdeka Sirait selaku Ketua Komnas Perlindungan Anak. Namun dirinya menyayangkan batas waktu yang terlalu lama sejak dikeluarkannya peraturan tersebut. Arist mengatakan bahwa di negara lain saja pelaksanannya cukup singkat. Misalnya, di Singapura tenggang waktu hanya 5 bulan, Thailand 6 bulan, dan Srilangka 3 bulan.

Lalu, apakah peraturan tersebut akan bisa mengurangi jumlah perokok di Indonesia?

(NR)

Comment di sini