Ahok Tetap Santai Meski Dimaki PKL Tanah Abang

by
July 16th, 2013 at 1:34 pm

Jakarta (CiriCara.com) – Jakarta Baru yang merupakan visi misi Jokowi dan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta saat berkampanye pada Pilkada DKI Jakarta tahun lalu.

Liputan6

Liputan6

Dalam mewujudkan Jakarta Baru tentunya bukan hanya merupakan hasil kerja mereka berdua saja sebab jajaran pemerintahan dalam provinsi DKI Jakarta dan juga masyarakat harus bersatu untuk mewujudkan Jakarta yang baru, bebas dari masalah terutama macet dan banjir.

Namun apa jadinya jika masyarakat tidak bisa diatur? Misalnya saja dalam mengatasi kemacetan parah di lokasi Tanah Abang yang terjadi hampir setiap hari, para Pedagang Kaki Lima (PKL) Tanah Abang harus mematuhi peraturan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk memindah lapaknya.

Sayangnya para pedagang enggan mematuhi peraturah pemerintah di bawah kepemimpinan Jokowi dan Ahok tersebut dengan alasan lokasi baru tempat mereka berdagang nanti terlalu jauh dan kemungkinan tidak akan menarik perhatian pembeli.

PKL tersebut bahkan menggelar aksi unjuk rasa kemarin, Senin, 15 Juli 2013 untuk memprotes rencana relokasi tempat mereka berdagang. Salah satu pedagang bahkan menyamakan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dengan Firaun.

Namun menanggapi tuduhan dari pedagang itu, Ahok tidak marah atau keberatan. Ia hanya tertawa karena baginya sosok Firaun adalah sosok yang besar.

“Hah? Ya bagus dong. Sekarang gini deh, emang lu kira gampang dilahirkan jadi ibunya Firaun,” tanggapnya seperti dikutip oleh sumber berita, Liputan6.com, Senin, 15 Juli 2013.

Aksi unjuk rasa yang dilakukan pedagang tersebut terjadi di pertigaan pasar Tanah Abang. Meski sudah berunjuk rasa namun para pedagang tetap melanjutkan aktivitas berdagangnya.

Para PKL tersebut menolak relokasi karena ada beberapa pihak tak bertanggung jawab yang meminta PKL untuk membayar uang sewa blok baru tempat relokasi mereka hingga puluhan juta. Blok relokasi tersebut terletak di Blok G Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat. Menurut para pedagang lokasi tersebut sulit dijangkau pembeli sehingga dikhawatirkan omset mereka menurun. (RN)

Comment di sini