7 Jenis Pungutan di Tanah Abang

by
August 20th, 2013 at 10:23 am

Jakarta (CiriCara.com) – Penertiban para Pedagang Kaki Lima (PKL) di Tanah Abang cukup mendapat sorotan karena sempat timbul penolakan dari para pedagang yang hendak dipindahkan.

pungutan liar di tanah abang

Ilustrasi pungutan di Tanah Abang / Ist.

Para PKL yang sempat menolak ditertibkan berunjuk rasa dan menyampaikan keberatan mereka ke Wakil Gubernur Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok bulan lalu.

Para pedagang bahkan menyebut Ahok sebagai seorang Firaun karena dianggap telah melanggar hak asasi para pedagang untuk mencari nafkah.

Selain berunjuk rasa terkait nasib mereka masing-masing, para PKL juga memprotes sikap Ahok yang terkesan meremehkan seorang tokoh terkenal dari Tanah Abang, Abraham Lunggana atau Haji Lulung.

Selain sebagai Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta, Haji Lulung dikenal sebagai pengusaha yang menguasai Tanah Abang. Ia naik pitam karena Ahok menyebut lambannya penertiban PKL di Tanah Abang disebabkan oleh para preman yang menjadi tameng para pedagang di sana.

Haji Lulung sendiri memiliki sejumlah perusahaan yang mengelola keamanan di Tanah Abang. Perusahaannya antara lain PT Putraja Perkasa, PT Tujuh Fajar Gemilang, PT Tirta Jaya Perkasa, Sakom, dan juga Koperasi Kobita. Karyawan yang ia pekerjakan bahkan lebih dari 7.000 orang.

Dari data yang ditulis oleh Tempo.co, sentra bisnis di Tanah Abang melibuti luas areal 39.000 meter persegi dengan luas bangunan 82.386,5 meter persegi. Dengan luas tersebut, Tanah Abang memiliki 7.000 unit kios di Blok A, 5.000 unit kios di Blok B, 4.000 unit kios di Blok F, 1.300 unit kios di Blok G, dan 300 unit kios di Tanah Abang Bukit.

Ada 470 orang pedagang asli Jakarta yang berdagang di Tanah Abang dan 785 pedagang pendatang yang ikut mengais rezeki di situ.

Usaha para pedagang tersebut terganjal pungutan yang dilancarkan oleh sejumlah oknum. Per hari, para pedagang harus membayar sekitar Rp. 5 ribu sampai Rp. 100 ribu  per hari atau Rp. 100 ribu sampai Rp. 1 juta per bulan. Sementara untuk pemutihan, pedagang ditarik biaya Rp. 3,5 juta sampai Rp. 5 juta.

Pungutan tersebut beragam jenisnya mulai dari:

- Jasa keamanan
- Parkir kendaraan milik pedagang
- Jasa kebersihan
- Gelar meja atau pungutan yang dibayarkan pedagang sebelum mulai menggelar lapak
- Uang RW
- Uang tempel atau pungutan sukarela
- Uang pemutihan atau pungutan yang mesti dibayar pedagang menjelang puasa dan sesudah Lebaran agar tidak kehilangan lapak.

Kini jalanan di Tanah Abang yang sebelumnya sering macet akibat para PKL yang berdagang di ruas jalan sudah kembali normal. Hal ini disebabkan karena para pedagang sudah mau pindah ke Blok G Pasar Tanah Abang meski harus melewati proses yang cukup alot.

(RN)

Comment di sini