Dani : “Pak Ajid meninggal di warung saya dengan mata melotot”

by
August 24th, 2013 at 10:00 am

kecelakaan bus giri indah Bogor (CiriCara.com) Salah satu pelanggan Dani (23) pagi itu (21/8) adalah Ajid Samsudin (56), tetangganya yang menjadi salah satu dari 20 orang korban tewas dalam tragedy maut itu. Menurutnya, pagi itu Ajid datang ke warungnya untuk ngobrol. Tidak lama, Ajid menyeberang jalan.

“Dia datang ke warung ngobrol, terus dia nyeberang ketemu temannya. Katanya ada urusan mobil,” jelas Dani.

Sekitar 10 menit, Ajid datang kembali ke warungnya dan ingin membeli pulsa.

“Katanya, Dan, pulsa biasa 10 ribu,” kata Dani menirukan omongan Ajid ketika itu.

Tapi karena ada mobil Daihatsu Carry pik up yang biasa mengantar gas dan air gallon, ia meminta Ajid untuk menunggu sebentar.

“Saya bilang, sebentar ya pak karena saya mau ngambilkan galon dan tabung gas dulu,” kata Dani.

Dani pun keluar warungnya menghampiri mobil pik up berplat nomor F8237FK itu. Mobil  itu disupiri oleh Ade (28) dan Herman (24), sang kernet. Menurut Dani, Ade masih duduk di balik setirnya. Sementara, Herman yang tak lain adalah adik kandung Herman kemudian naik ke atas pik up untuk menurunkan gas ukuran 3 kilogram pesanannya.

Selang beberapa menit, Dani kembali ke dalam warungnya untuk melayani Ajid yang saat itu sedang duduk di dalam warungnya. Belum sempat masuk, pukul 8.10, Dani melihat sebuah bus berbadan putih dari arah Cianjur yang berjalan aneh.

“Busnya kencang, waktu itu saya lihat penumpang di dalam udah pada berdiri. Tapi saya nggak dengar teriakan atau suara klakson,” ujarnya.

Kecurigaan Dani berlanjut karena bus yang seharusnya belok kiri mengikuti jalan yang menurun dan menikung, malah berjalan lurus mengarah ke warungnya. Dalam posisi itu, Dani mengaku sudah ingin menghindar. Ia juga sempat berteriak mengingatkan kedua awak mobil pik up dan Ajid.

Bus terus melaju dengan kecepatan tinggi tanpa kendali langsung menabrak pik up dan warung yang berada di KM 88 itu, sebelum akhirnya masuk ke jurang berisi sungai kecil sedalam sekitar 8 meter.

Beruntung Dani sempat menarik Herman dari dalam mobilnya. Sementara Ade yang masih berada di atas pik up terpental beberapa meter. Ade menurut Dani, sesuai kabar yang diterimanya adalah korban terakhir yang meninggal sehingga menggenapkan jumlahnya menjadi 20 orang meninggal.

“Tadi saya dengar kernetnya meninggal jam 3 pagi di rumah sakit,” kata Dani prihatin.

Lalu bagaimana dengan nasib Ajid? Hal inilah yang selalu membayang-bayangi Dani hingga saat ini. Pasalnya, selain terbilang akrab, Ajid juga meninggal dengan cara yang tragis langsung di depan matanya. Jarak antara diirnya dengan Ajid menurut Dani hanya sekitar setengah meter. Meski Ajid sendiri sebenarnya tidak ikut bus masuk ke dalam sungai, tapi akhirnya .

“Pak Ajid nggak berdarah, tapi matanya melotot. Langsung meninggal di dalam warung saya. Saya melihat sendiri bagaimana dia terserempet, terjepit tembok lalu tertimpa reruntuhan bangunan warung saya. Sampai sekarang saya masih kepikiran pak Ajid karena gagal menyelamatkan dia,” kata Dani menyesal.

Akibat kecelakaan itu, Dani mengalami banyak kerugian. Selain bagunan dan perlengkapan warungnya yang hancur, barang-barang dangannya pun tak ada yang bersisa. Dari kulkas, gas, barang-barang sembako, voucher pulsa dengan nilai jutaan rupiah, dan 3 handpone lenyap tanpa bekas.

“Boro-boro dagangan. Kulkas aja ga kelihatan batang hidungnya. Habis semua A’, kalau ditotal rugi sekitar Rp. 35 jutaanlah,” katanya.

Meski mengaku megnalami kerugian puluhan juta rupiah, tapi Dani masih bisa bersykur. Pasalnya, ia tak menjadi korban meninggal atau luka dalam kecelakaan itu. Padahal menurut Dani, biasanya jam segitu di saat warung sepi, ia biasa tertidur di dalam warungnya. Tidak heran kalau beberapa saat setelah kejadian, beberapa kerabatnya menyangka kalau dirinya menjadi salah satu korban.

“Bersyukur, alhamdulillah saya masih selamat. Mungkin kalau saya di dalam udah nggak ada kali. Biasanya jam segitu saya tidur di dalam. Untung ada tukang gas datang sehingga saya tidak berada di dalam warung. Makanya orang-orang yang udah tau kebiasaan saya tidur di warung pada nyangkain saya jadi korban,” bebernya.

Menurut Dani, di warungnya selain berdagang sembako, ia juga berjualan pulsa. Sudah 4 tahun membuka warungnya tersebut. Hasilnya lumayan, kalau lagi ramai ia bisa mengantungi pemasukan hingga Rp. 6 juta dalam sehari.

Warungnya pun cukup berkembang. Tidak puas memiliki warung berukuran 2×3 meter, Dani kembali membangun sebuah warung di sebelahnya.

“Baru seminggu dibangun, rencananya mau dijadiin agen gas, air mineral sama air minum isi ulang,” katanya.

Kini Dani bingung bagaimana lagi menafkahi istri dan anaknya. Pasalnya, kios, perlengkapan warung dan barang dagangannya hancur tak bersisa. Meski trauma, tapi Dani megnaku sudah menerimanya.

“Kalau dipikir trauma ya trauma. Tapi kalau dipikirin lagi ya memang sudah nasibnya begini, ya terima aja. Sementara saya usaha agen pulsa dulu,” katanya.

“Mudah-mudahan saya dapat ganti rugi dari perusahaan bus atau penyewanya. Kalau dapat ganti rugi saya langsung bangun warung saya lagi,” pungkasnya. (yanoe)

Comment di sini