Takut didatangi korban bus maut, Dani mengungsi ke rumah bapak

by
August 24th, 2013 at 9:55 am

kecelakaan bus giri indah

Bogor (CiriCara.com) Pagi baru mulai, dan Jalan raya Puncak, Cisarua, Kabupaten Bogor masih sepi. Sementara Dani (23) sudah membuka warung kelontongnya yang terletak di tepi jalan jalur wisata menuju Puncak tersebut. Padahal, biasanya hari Rabu dan Kamis Dani tidak membuka warungnya tersebut. Entah mengapa hari itu (21/8) ia akhirnya membuka warungnya.

“Saya buka warung semau-maunya, kapan buka atau nutup. Tapi biasanya hari Rabu atau Kamis saya tutup karena sepi. Tapi nggak tahu kenapa hari itu saya malas di rumah, makanya saya buka warung,” kata Dani yang masih bingung mengapa hari naas itu dia membuka warungnya.

Hari kejadian itu, Rabu memang diakui Dani menjadi kebiasaannya menutup warung. Ia masih heran mengapa hari itu ia membuka warungnya. Dani juga heran dengan pelanggan yang datang hingga menjelang detik-detik warungnya ditabrak bus PO Giri Indah. Selama sekitar 2 jam membuka warungnya, Dani memang mendapat kunjungan 3 orang pelanggannya. Tapi sayang, ketiga pelanggannya itu belum membayar.

“Ada yang datang minta rokok sebungkus tapi baru bayar Rp. 2 ribu. Ada juga yang datang mesen gas tapi bayarnya setelah dianter. Ada juga yang minta pulsa tapi belum bayar,” kata Dani.

“Saya ini orangnya percaya saja, makanya saya kasih aja. Jadi pagi itu saya baru megang duit penglaris 2 ribu,” tambahnya.

Dani adalah warga Desa Tugu Utara, Kampung Persit, RT 1 RW 1, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor. Ia tinggal di salah satu bangunan milik ayahnya, Haji Husen. Sementara ayahnya tinggal persis di depan rumah Dani.

Antara rumah Dani dengan warungnya hanya dipisahkan sebuah jalan setapak dan sungai. Selain warung kelontong milik Dani, dalam deretan kios pinggir jalan tersebut juga terdapat toko bahan material, rumah makan padang dan sebuah kios baru milik Dani yang sedang dibangun di sebelah warungnya. Tapi dalam kecelakaan tersebut hanya kios kelontong milik Dani dan toko material yang hancur.

Saat ditemui pada kamis sore (22/8), bersama beberapa saudaranya, Dani tengah membereskan halaman rumahnya. Beberapa puing sisa kecelakaan juga masih berserak.

Dani dan keluarganya memang masih trauma atas tragedy yang menghancurkan usahanya itu. Apalagi beberapa mayat korban kecelakaan sempat digeletakkan di halamannya. Tidak heran, selepas maghrib, rumah kediaman Haji Husen dan keluarganya sangat sepi karena tak ada satu pun penghuninya yang terlihat di luar. Bahkan kini Dani, istri, anak dan saudara-saudaranya untuk sementara tinggal berkumpul di rumah orang tuanya karena masih terbayang tragedy naas itu.

“Kemarin (21/8) ada 13 mayat dijejerin di sini, mana ada ibu hamilnya lagi. Makanya kita masih ngeri,” kata Ajid yang enggan difoto dengan latar puing-puing warungnya karena mengaku masih merasa takut didatangi para korban bus maut. (yanoe)

Comment di sini