Testimoni Ayah Pemeran Wanita Video Mesum SMPN 4 Jakarta

by
November 1st, 2013 at 3:53 pm

Jakarta (CiriCara.com) – Selasa pagi 29 Oktober 2013, di samping Ketua Komnas Perlindungan Anak, Aris Merdeka Sirait, lelaki paruh baya itu hanya bisa menunduk. Berkaus hitam, wajahnya ditunduk sedalam-dalamnya. Topi hitamnya diturunkan untuk menyembunyikan wajahnya dari sorotan kamera yang ada di ruang itu.

Kasus video mesum murid SMP N 4 Jakarta

Kasus video mesum murid SMP N 4 Jakarta / Ist.

Itulah suasana pertemuan ayah pemeran video mesum SMPN 4 Jakarta yang menghebohkan itu dengan awak media. Selain menyembunyikan wajahnya, pria itu juga berusaha menyembunyikan namanya. “A-S, usia 53,” jawabnya singkat saat wartawan menanyakan namanya.

Dalam jumpa wartawan itu, AS membacakan testimoni yang ia tulis sendiri sebanyak 3 halaman. Di testimoni itu dia mencurahkan semua perasaannya, perasaan keluarga dan tentu saja perasaan putrinya, AE (14) yang saat ini menurutnya sedang trauma berat dan sedang jatuh sakit.

AS tidak sanggup membacakan seluruh testiomoni itu karena AS terus menangis. Aris Merdeka Sirait yang meneruskan membacanya. Dalam testimoni tersebut, baik AS maupun Aris tetap bepegangan kalau AE terpaksa melakukan adegan dewasa tersebut karena dipaksa atau di-bully teman-temannya. Selain berdasarkan pengakuan langsung AE, keyakinan itu juga didasarkan dari bukti baru.

Bukti baru tersebut adalah Twitter dari seorang temannya. “Jangan terlalu bully dia. Gue takut kejiwaannya terganggu,” bunyi tweet tersebut.

Dan inilah testimoni lengkap AS yang ia rasakan setelah video mesum putrinya beredar luas:

Kepada Yth. Bapak/Ibu Wartawan.

Tanggal 13 September 2013 pulang sekolah korban menemui temannya R (perempuan) dan teman-temannya yang katanya sedang piket di lantai atas. Ternyata di kelas tersebut sudah adik kelasnya, FP (pria). Mereka kemudian ngobrol, lalu R turun ke kantin katanya ingin membeli minum

Di dalam kelas tersebut, tinggallah korban dan FP. Awalnya mereka ngobrol, terus FP mulai berbuat kurang ajar karena memojokkan, mencium bibir dan meraba payudara korban. Korban marah dan berontak. Akrhinya FP melepaskan kroban, korban lari turun di tangga dan pulang sendiri.

Tiga hari setelah peristiwa itu, ada anak-anak kelas 7 yang berpapasan dengan korban, mereka lalu bilang : “Kakak ngapain ya sama FP di kelas?” Korban lalu menjawab : “Ngapain apa?”. Anak-anak itu menyahut; “Kita tahu kok kakak ngapain sama FP di kelas.” Sejak saat itulah korban mulai merasa ketakutan.

Tanggal 27 September 2013, korban saat di kantin ketemu FP dan ribut mulut. Akhirnya datang A dan C (dua-duanya perempuan) yang berkata ke korban : “Gue tahu lo sama FP ngapain di kelas, dan gue udah lihat filmnya.” Korban pun menjawab : “Emang gue ngapain? Film apa?” A melanjutkan : “Udah lo ga usah pura-pura, sekarang gue mau lo ikutin kemauan gue. Gue mau nonton live show kalo lo ga mau film itu gue sebarin dan gue laporin ke Ibu Dewi.”

Korban bullying

Korban bullying / Ist.

Diancam korban emosi dan sempat ribut mulut. AE bilang : “A, lo tuh jangan jahat kenapa? Gue udah kelas 9, gue udah mau ujian. Emang gue pernah jahatin lo apa.” A lalu menyambung : “Makanya daripada lo dikeluarin, mending lo ikutin kemauan gue.”

Akhirnya, korban dibawa A dan teman-temannya naik ke lantai atas. Korban diminta mengikuti apa mau A, dan semua yang harus dilakukan korban diatur oleh A. Korban diminta harus senyum dan enjoy. A sebagai sutradara dan C sebagai kameramen berdiri di atas meja. Beberapa temannya ikut menonton pembuatan film tersebut.

Pada saat kejadian, ibu korban yang memang setiap hari memonitor kegiatan korban melalui sms mengingatkan korban untuk segera pulang dan menjemput adiknya untuk bersama-sama ke tempat les. Tapi ditunggu tak ada jawaban. Ibu korban menghubungi hp korban juga tak diangkat. Tak lama ada WhatsApp yang isinya korban akan piket. Lalu ibu korban menjawab, bagaimana bisa piket sedangkan kamu piketnya hari Kamis.

Lama tidak dibalas, akhirnya ibu korban kembali menghubungi, tapi tidak diangkat kembali. Tidak lama masuk lagi pesan melalui whatsapp yang berisi : “Ini A tante, AE sedang piket, hape sedang di-charge di kantin.” Ibu korban percaya karena yang mengirim pesan A, ketua kelas korban melalui hp korban.

Setelah peristiwa tanggal 27 September itu, A minta live show lagi. Tapi korban enggak mau. A kembali  mengancam menyebarkan video-video korban dan diadukan ke ibu Dewi. Dan kenyataannya benar video tersebut disebarkan di sekolah juga ke alumni SMP N 4.

Antara kurun setelah kejadian sampai tanggal 13 Oktober, korban mengeluh pada ibunya. Katanya sakit dan capek, tidak seperti biasanya selalu mimpi buruk. “Aku takut…, aku takut…, aku takut….,” katanya. Tapi itu kami anggap wajar karena korban sedang sibuk les, ujian / try out.

Informasi yang kami terima, sekolah telah mengetahui peristiwa tanggal 27 September, namun tidak memberitahu kami sebagai orangtua murid. Oleh karena itu kami berinisiatif melapor ke polisi tanggal 13 Oktober dan Komnas Anak tanggal 16 Oktober.

Tanggal 14 Oktober kami datang menemui kepala sekolah memberitahu perisitiwa yang menimpa putri kami dan minta ijin anak kami tidak bisa mengikuti pelajaran sekolah, bukan meminta pidah sekolah. Saat berita pertama kali muncul di media massa dengan menyebut ada ancaman pisau itu bukan informasi dari kami.

Kami tidak pernah melarikan diri dari kasus ini sampai BAP dibuat tanggal 18 Oktober 2013. kami tetap berkomunikasi dengan Wakil Kepala Sekolah, polisi, dan Komnas Anak. selama tidak ada keberadaan kami di alamat semata-mata hanya untuk kepentingan putri kami mendapatkan rasa aman dan tenang.

Putri kami sudah lama mendapat tekanan di sekolah tersebut. Kami mengetahui itu saat putri kami mewakili sekolahnya menjelang ujian kenaikan kelas, mengikuti lomba fisika tingkat Provinsi DKI Jakarta. Istri saya juga sakit, dan saya harus ambil cuti untuk mengantarnya mengikuti lomba tersebut. Di kompetisi ini putri kami mengeluh : “Nanti selesai lomba dan aku naik kelas aku mau keluar sekolah.” Saya tanya kenapa, dia jawab “Lihat saja semua yang ikut lomba diantar guru dan temannya. Emang aku enggak punya guru, tidak punya teman?”

Semenjak TK sampai lulus SD putri kami memang selalu meraih predikat Best Student. Tapi pada kenaikan kelas bulan Juni 2013, meskipun masih ada di kelas unggulan, nilainya tidak memuaskan. Saya tanya, kenapa, ada apa? dia jawab : “Kalau ingin aku tetap jadi anak pintar dan tidak nakal, pindahkan aku dari sekolah ini. Aku sudah tidak kuat menghadapi teman-teman aku.”

Kami sebagai orangtua sepertinya sudah mati melihat kenyataan rasa takut putri kami terhadap teman-temannya. Setelah tragedi 27 September 2013 itu ia diperlakukan seperti sampah masyarakat. Padahal putri kami adalah duta dari setiap lomba science di sekolahnya dan sedang berjuang mendapatkan beasiswa dari kedutaan asing di Jakarta.

Kami melapor ke polisi dan Komnas Anak bukan untuk menuntut siapapun. Kami hanya ingin keluarga kami hidup normal. Jangankan kembali ke lingkungan masyarakat, untuk ketemu saudara pun kami sudah tidak punya harga diri. Terus bagaimana dengan nasib putri kami yang masa depannya sudah hancur?

Kami tidak menuntut siapapun. Tapi siapa yang akan bertanggungjawab dengan kehancuran keluarga kami dan masa depan putri kami?

Kami mohon bapak/ibu wartawan yang terhormat, bantu kami lindungi kami.

Terimakasih.

(yanoe)

Comment di sini