Jokowi Heran Masih Banyak Gepeng di Jakarta

by
November 29th, 2013 at 10:03 am

Jakarta (CiriCara.com) – Gubernur DKI Jakarta, Jokowi, yang semulan telah berjanji akan merombak taman di sekitar Monumen Nasional (Monas) beberapa waktu yang lalu, sangat tercengang dan cukup bingung melihat keadaan di tempat wisata dan tempat bersejarah kota Jakarta itu.

Pengemis di Jakarta

Pengemis di Jakarta / Ist.

Pasalnya, masih saja ada gelandangan dan pengemis (gepeng) yang semakin tumbuh menjamur di sekitar Monas tersebut. Bahkan, hampir di setiap titik kota Jakarta, masih terlihat sejumlah Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial atau PMKS.

Memang selama ini, yang jadi masalah utama semakin bertambahnya gelandangan dan pengemis, adalah masalah ekonomi rendah, kebanyakan setiap orang yang memilih untuk berprofesi sebagai gepeng di karenakan penghasilan yang cukup lumayan, bahkan penghasilan yang melebihi upah para buruh.

Bayangkan saja, penghasilan mereka selama menjadi gepeng sangat mengagetkan, seperti yang telah di hasilkan oleh 2 pengemis yang bernama Walang bin Kalon (54 tahun) dan Sa’aran bin Satiman (70 tahun ), yang bisa meraup penghasilan mencapai Rp 25 juta dalam waktu 15 hari.

Di samping itu, mereka juga bukanlah warga asli kota Jakarta, hampir keseluruhannya berasal dari daerah. Ini yang menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan para gepeng semakin pesat dan silih berganti. Sebuah pemandangan yang sudah cukup membuat ironi potret kota jakarta.

Jokowi sendiri telah mengatakan bahwa pihaknya sudah membangun dan memiliki banyak panti sosial untuk menampung kaum gelandangan dan pengemis itu. Namun di katakan kembali oleh Jokowi,panti-panti sosial tersebut kapaitasnya telah penuh dan tidak bisa lagi menampung mereka, hingga banyak di antara mereka yang memilih kembali ke jalanan.

Tapi, bukan soal penuhnya kapasitas panti sosial yang menjadi permasalahannya, sebab pihaknya telah rutin melakukan razia dan pembinaan buat para gepeng yang sudah terjaring, namun para gepeng itu jumlahnya makin hari semakin banyak dan terus silih berganti.

Hasil yang menggiurkan sebagai pengemis telah memicu bertambahnya jumlah mereka. Oleh karena itu, Jokowi dan pihaknya telah melakukan sidak dan terus merazia para gepeng.

Seperti razia yang baru-baru ini di gelar, Walang seorang pengemis yang semula di kabarkan meraup hasil Rp. 25 juta itu, ikut terjaring dalam sebuah penertiban di daerah Pancoran, Jakarta Selatan. Setelah terjaring dan tertangkap dalam razia, Walang membantah dan berdalih, bahwa hasil Rp. 25 juta yang di temukan petugas dalam gerobakny , bukanlah murni dari hasil mengemis.

Gepeng di Jakarta

Gepeng di Jakarta / Republika

Menurutnya, hasil Rp. 25 juta itu didapatkannya dari hasil menjual sapi dan kambing di kampung halamannya subang, jawa barat sebelum berangkat menuju jakarta. Nah, dari hasil itu, dia mendapatkan uang sebesar 21 juta, dan membawanya ke Jakarta sebagai modal usaha.Tetapi, sesampainya di Jakarta, dia mengurungkan niatnya untuk membuka usaha, dan memilih menjadi pengemis, dari mengemis itulah, dirinya mendapatkan hasil 4 juta selama 15 hari.

Sebelumnya Komisi Perlindungan Anak (KPAI) mengkritik kinerja pemerintah Jakarta yang juga di nilai tidak mampu mengentaskan anak jalanan.

Namun, Jokowi dan pihaknya memang mengakui bila belum memiliki jurus jitu untuk dalam mengentaskan anak jalanan dan gepeng. Oleh sebab itu, Jokowi mengharapkan adanya masukan dari masyarakat tentang cara mengurangi dan pengentasan gepeng ini.

Jokowi beserta Dinas Sosial terus mengupayakan dan sudah menyiapkan panti-panti sosial, namun masyarakat yang datang jauh dari luar Jakarta untuk menjadi pengemis, semakin bertambah dan bertumbuh jumlahnya, hingga panti-panti sosial yang adapun sudah tidak mencukupi untuk menampung mereka lagi.

Jadi, tidaklah benar jika profesi mengemis itu bisa meraup penghasilan besar. Ini hanya sebuah kesalah pahaman warga luar jakarta lainnya yang tergiur mendengar berita tentang Pak Walang, sehingga semua akan berdatangan ke Jakarta dan berbondong-bondong untuk jadi pengemis juga. Bahkan, sebenarnya sebagian besar mereka yang berprofesi sebagai pengemis di Jakarta adalah orang yang kehidupannya masih cukup layak di kampung halamannya.

 

Comment di sini