Komentar Jokowi-Ahok Soal Pemberantasan Pengemis

by
November 29th, 2013 at 3:08 pm

Jakarta (CiriCara.com) – Jokowi dan Ahok adalah 2 figur sentral yang populer di kalangan masyarakat khususnya masyarakat Ibukota. Beragam gebrakan pun dilakukan untuk membenahi Ibukota sesuai dengan slogan mereka saat Pilkada lalu, yaitu ‘Jakarta Baru’.

Pengemis di Jakarta

Pengemis di Jakarta / NYTimes

Kali ini kedua pemimpin tersebut dihadapkan dengan problema baru menyangkut masalah sosial. Baru-baru ini Suku Dinas Sosial Jakarta Selatan menjaring dua orang pengemis yaitu Walang dan Sa’aran yang baru 15 hari tinggal di Jakarta namun sudah meraup Rp. 25 juta dari hasil mengemis yang terbungkus rapi di dalam gerobaknya.

PMKS atau Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial memang menjadi momok bagi masyarakat Ibukota. Tak jarang banyak orang yang ingin mengais rezeki dengan cara mengemis karena berpenghasilan lebih tinggi ketimbang bekerja diluar sana. Menanggapi hal ini Gubernur DKI Jakarta Joko widodo atau yang lebih akrab dipanggil Jokowi belum menemukan solusi yang tepat.

“Belum punya jurus. Kamu punya usulan apa? Karena ini masalah kemiskinan,” ujarnya ketika menghadiri acara di Monas, Jakarta Pusat, Kamis, 28 November 2013 seperti dikutip oleh Detik.com

Namun menurut Jokowi, para gepeng atau gelandangan dan pengemis tersebut tidak bisa dipidanakan.

“Pengemis tidak dipidana, yang ditipiring itu yang memberi,” lanjutnya.

Hal berbeda dituturkan oleh wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, menurutnya pengemis terus bermunculan dengan silih berganti di Ibukota  karena masyarakat yang sering memberi uang kepada pengemis. Ia pun mengimbau agar masyarakat tidak memberi sumbangan dalam bentuk apapun kepada pengemis karena menurutnya pemberian tersebut tidak mendidik dan dapat merusak mental.

“Karena sumbangan kamu, uang kamu, merusak mental dia. Itu tidak baik. Niat kamu memang baik, tapi akibatnya buruk,” tegas Ahok saat di Balai Kota, Kamis, 28 November 2013, dilansir dari Republika.co.id.

Ahok juga memiliki solusi agar kemiskinan dan masalah sosial dapat diberantas, menurutnya para pemberi sumbangan kepada pengemis akan diberi hukuman baik hukuman pidana atau hukuman sosial,

“Kita lagi berharap KHUP tentang kerja sosial diberlakukan. Jadi kalau kamu kasihan sama orang miskin berarti kamu bantu kerja sosial seperti bantu bersihin WC, taman, kan juga boleh,” lanjut Ahok yang dikutip dari Detik.com.

Selain itu para pemberi uang juga akan diberikan hukuman pidana bisa dengan ancaman kurungan atau denda. Berdasarkan Perda Nomor 8 tahun 2007 yang mengatur sanksi bagi para pengemis dan mereka yang memberi sedekah kepadanya dalam Pasal 61 tertulis ancaman kurungan 10 hari, paling lama 60 hari atau denda sedikitnya Rp 100.000 dan maksimal Rp 20.000.000.

Untuk para pengemis, Jokowi mengusulkan untuk menampung para PMKS itu ke dalam panti sosial. Ia juga telah menginstruksikan pihak-pihak terkait seperti Dinas Sosial dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) untuk melakukan penertiban sekaligus pembinaan terhadap pengemis yang ditangkap dan dimasukkan ke dalam panti sosial. Namun tetap saja pengemis masih terus bertebaran di Jakarta.

Pengemis ditangkap Satpol PP

Pengemis ditangkap Satpol PP / Ist.

“Sebetulnya lihat rumah sosial yang kita punyai. Itu sudah rutin terus kita lakukan razia dan pembinaan di sana. Nanti kapan-kapan saya ajak. Hanya memang itu tumbuh silih berganti. Rumah sosial kita ini penuh semua. Karena ini masalahnya kemiskinan,” katanya kepada Detik.com,Kamis, 28 November 2013.

Jokowipun berharap dengan cara tersebut dapat menjadi jurus jitu untuk memberantas masalah kemiskinan dan pengemis di Ibukota.

Menarik untuk ditunggu apakah kedua pemimpin ini dapat mengatasi problema sosial tersebut. Di satu sisi masyarakat merasa iba dengan pengemis, namun jika melihat penghasilan mereka hanya dengan meminta-minta saja tentunya kita harus berpikir dua kali sebelum memberi. Seperti kata Ahok, “Kamu rusak (mental) mereka dengan uang Anda.”

Comment di sini