Cara Murah dan Ramah Lingkungan untuk Bepergian di Jakarta

by
December 4th, 2013 at 5:00 pm

CiriCara.com – Beberapa hari belakangan ini, para pengguna transportasi pribadi seperti mobil dan motor mengeluhkan kondisi jalan raya Jakarta yang semakin macet, dikarenakan adanya sterilisasi jalur busway, sehingga mereka tidak bisa menggunakan jalur busway dalam kondisi apapun, atau akan didenda sebesar 500 ribu rupiah.

Bus Transjakarta

Bus Transjakarta / Ist.

Kebijakan denda untuk pelanggar jalur busway ini mulai dijalankan pemerintah DKI Jakarta sejak November 2013, mengingat semakin banyaknya pengguna Transjakarta yang mengeluh jalur busway macet karena banyak mobil dan motor pribadi yang masuk jalur busway selain Transjakarta.

Kemacetan, memang merupakan persoalan utama dan seakan tidak pernah selesai di Jakarta. Karena semakin banyaknya volume kendaraan yang ada di Jakarta, yang juga berfungsi sebagai ibukota Indonesia, sementara jalan Jakarta kecil kemungkinannya untuk ditambah, dengan wilayah yang semakin sesak dengan penduduknya yang terus bertambah.

Jadi, solusi untuk mengatasi kemacetan yang ditawarkan oleh pemerintah Jakarta dengan memperbanyak transportasi publik seperti Transjakarta. Alat transportasi ini tergolong murah. Dengan hanya membayar Rp.3.500,-/sekali jalan, kita bisa bertukar naik Transjakarta ke jurusan yang ada tanpa membayar lagi. Pastinya tanpa keluar dari halte bus. Pemerintah Jakarta secara bertahap juga memaksimalkan ruang di jalur busway dan menambah armada bus, sehingga untuk menunggu Transjakarta hanya membutuhkan paling lama lima menit.

Pada awal Transjakarta beroperasi, masyarakat banyak protes terhadap alat transportasi jenis ini. Mereka menganggap akan semakin membuat Jakarta macet, karena jalur Transjakarta mengambil jalan dari jalan yang sudah ada. Namun setelah ada, hampir 80% warga Jakarta pernah menggunakan kendaraan ini.

Terutama para komuter yang bekerja di Jakarta dan tinggal di pinggir-pinggir Jakarta. Meski rela berdesak-desakan mereka tetap memilih menggunakan Transjakarta. Alasannya murah, cepat dan tidak panas. Karena alat transportasi ini menggunakan AC. Bahan bakar kendaraan ini menggunakan bahan bakar gas yang tidak menimbulkan polusi udara.

Bahan bakar yang ramah lingkungan, juga merupakan satu hal yang penting diperhatikan dalam memilih transportasi di Jakarta. Kenapa? Karena Jakarta saat ini sudah tumbuh menjadi salah satu kota di dunia dengan tingkat polusi tertinggi. Dilansir dari National Geographic, Sekitar 686.864 ton polutan yang dihasilkan Jakarta pertahun, dengan gas yang paling banyak dihasilkan yaitu karbon monoksida.

Pada jalur busway, saat ini juga sudah dioperasikan bus sedang dan besar yang berfungsi sebagai feeder bus dan Angkutan Terintegrasi Bus Transjakarta (APTB), dengan tujuan berbagai kota di sekitar Jakarta seperti Bekasi, Bogor dan Tangerang.

Transportasi murah lain yang sudah lama disediakan oleh perusahaan transportasi, PT.KAI, yaitu kereta api. PT KAI Commuter Jabodetabek secara rutin mengembangkan pengelolaan dan pelayanan pengguna jasa kereta api sehingga menjadi lebih aman, nyaman dan cepat dalam bepergian di Jakarta.

Diberitakan oleh Kompas.com, pada November 2013 ini saja misalnya, PT KAI Commuter Jabodetabek menyediakan 50 kereta dengan teknologi rel listrik dari Jepang yang akan melayani jalur Jakarta-Bogor dan sebaliknya, untuk menggantikan kereta yang mengalami gangguan.

Tidak hanya melayani jalur Jakarta-Bogor atau sebaliknya, kereta api sudah lama diketahui memiliki jalur-jalur dari Jakarta ke kota-kota besar lainnya di Jawa, yang menjangkau sampai ke Jawa Timur dan Jawa Barat. Saat ini, diperkirakan sekitar 50% lebih pekerja di Jakarta yang tinggal di luar Jakarta, terutama yang tempat tinggalnya di sekitar stasiun kereta menggunakan kereta api untuk menuju tempat kerja mereka.

KRL Jabodetabek

KRL Jabodetabek / Ist.

Saat ini, untuk menggunakan kereta api, kita hanya perlu membeli kartu untuk satu kali jalan dengan besaran harga tiket sesuai jarak atau bulanan, sebesar Rp.50.000,- dan seterusnya, yang kemudian dapat diisi ulang, sama seperti mengisi pulsa telpon.

Sedangkan untuk masyarakat yang ‘cerdas’ dan sudah peduli dengan gaya hidup yang ramah lingkungan, selain akan menggunakan transportasi publik yang sudah disediakan oleh pemerintah Jakarta tersebut, juga akan memilih kendaraan bebas emisi lainnya alias bersepeda. Beberapa tahun belakangan ini, sepeda menjadi pilihan kendaraan yang murah meriah bagi para pekerja di Jakarta. Tidak hanya murah, bersepeda pun dapat menurunkan berat badan dan tentunya ramah lingkungan.

Gubernur DKI Jakarta, Bapak Joko Widodo sendiri sudah mencontohkan, dengan bersepeda menuju kantornya di kawasan Merdeka setiap Jumat. Di Jakarta sendiri, sudah terdapat komunitas sepeda, yang tiap harinya mereka bersepeda menuju ke kantor atau ke tempat mereka berkegiatan seperti komunitas Bike to Work (B2W).

Di beberapa tempat perkantoran, sekolah atau kampus di Jakarta, halte sepeda juga sudah bisa ditemukan. Teknologi sepeda juga sudah berkembang, sehingga sekarang ini kita bisa temukan sepeda dari listrik yang juga bisa digunakan karena lebih sedikit menyumbang emisi karbon daripada motor.

Komunitas peduli lingkungan lainnya, yaitu Komunitas Nebeng, terdiri dari para pekerja yang berpatungan membeli bensin untuk satu mobil yang digunakan bersama-sama pulang dan pergi kerja, sehingga bisa lebih hemat, dan tentunya meminimalisir emisi karbon yang ditimbulkan dari mobil. Modal dari komunitas ini adalah kepercayaan dan jaringan.

Alternatif lain dari transportasi yang ramah lingkungan namun tidak murah yaitu dengan memanfaatkan teknologi terbaru dari industri otomotif, seperti mobil yang ramah ramah lingkungan atau sering disebut mobil hybrid. Mobil ini biasanya menggunakan bahan bakar listrik atau bahan bakar nabati. Di Indonesia, sudah ada beberapa merek ternama yang mengeluarkan mobil jenis hybrid, tapi tentunya dengan harga yang tidak murah. (Diyah)

Comment di sini