Mengenal Proses Melahirkan Lewat Gentle Birth

by
January 8th, 2014 at 8:31 am

Jakarta (CiriCara.com) – Proses melahirkan pada umumnya menjadi momok tersendiri di dalam benak setiap wanita. Kekhawatiran terjadinya komplikasi, posisi bayi yang sungsang, rasa sakit yang tidak tertahankan, serta segala penanganan medis yang dapat menimbulkan trauma, seakan sudah menjadi sesuatu yang dianggap wajar.

Gentle birth

Gentle birth / VIVAnews

Padahal, persalinan dapat dilalui dengan metode yang jauh lebih menyenangkan sehingga meminimalisir trauma baik bagi sang ibu maupun si jabang bayi. Jauh sebelum kita mengenal metode melahirkan secara modern yang dipersenjatai dengan peralatan medis canggih, melahirkan sejatinya adalah proses alami yang sudah menjadi bagian dari insting seorang wanita.

Di dalam situs resmi Gentle Birth Indonesia, mereka memaparkan percakapan antara Liz Sinclair dengan pasangan Dewi Lestari dan Reza Gunawan, yang menjalankan proses melahirkan secara alami pada kelahiran anak kedua, Atisha Prajna Tiara. Pada kelahiran anak pertamanya, Dewi melahirkan melalui proses caesar di sebuah rumah sakit di Bandung.

Proses melahirkan yang diberi tenggat waktu dan kondisi di ruangan yang tidak kondusif, menghadirkan rasa tidak nyaman sehingga pembukaan pun berjalan lambat. Dokter pun akhirnya menawarkan operasi caesar karena tidak ada bukaan lebih lanjut.

Proses melahirkan yang sarat akan tekanan dan intervensi medis, ternyata meninggalkan trauma tersendiri dalam diri Dewi tanpa ia sadari. Berbekal pengalaman itu, pada kehamilan kedua Dewi memutuskan ingin melakukan persalinan yang benar-benar berbeda.

Dari situlah pasangan ini memutuskan untuk mempelajari lebih dalam mengenai metode persalinan alami. Menurut Reza, secara alamiah tubuh manusia memiliki banyak mekanisme termasuk hormonal yang akan memudahkan proses persalinan.

Baca juga: Cara Agar Proses Persalinan Lancar

 Mekanisme-mekanisme itu hanya berjalan dalam kondisi serba alamiah, misalnya harus berlangsung di tempat yang tenang, hangat dan tidak terlalu terang, serta hanya dikelilingi oleh orang-orang tertentu yang memiliki kedekatan secara intim dengan sang ibu. Sementara persalinan modern yang kita ketahui dilakukan di rumah sakit dalam kondisi hiruk pikuk dan terang benderang. Kadang menjadi lebih sulit karena banyaknya orang asing yang keluar masuk ruang persalinan sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman bagi sang ibu.

Reza pun menuturkan konsep “medan energi persalinan” yang dijelaskan oleh Elena, pembuat film dokumenter Birth as We Know It. Ketika seorang perempuan berproses untuk melahirkan, ada semacam medan energi yang mengelilinginya dan semua orang yang berada di dalam medan energi tersebut akan terpengaruh, seolah masuk ke dalam kesadaran yang berbeda. Menurutnya medan energi ini lebih mungkin terasa ketika persalinan terjadi di rumah dibanding di rumah sakit.

Ia mempraktikkan sendiri proses persalinan alami ini melalui metode water birth yang dilakukan di rumah mereka, tanpa didampingi oleh bidan. Ketika berada dalam air, menurut Dewi sensasi dorongan itu tidak terasa menyakitkan.

Bayi gentle birth

Bayi gentle birth / Ist.

Tiga puluh menit setelah mereka berdua masuk ke dalam air, bayi Atisha pun meluncur ke luar dan langsung ditangkap oleh Reza. Dengan mengikuti insting alaminya, Dewi berhasil melalui proses persalinan tanpa kesulitan yang berarti, bahkan tanpa disertai adanya sobekan.

Metode gentle birth sendiri sebetulnya bukan metode baru. Selain dengan metode persalinan di dalam air, gentle birth juga dapat dilakukan dalam posisi berjongkok maupun menungging. Posisi ini sangat memudahkan bagi sang ibu maupun bayi untuk menemukan jalan lahir karena dibantu oleh daya gravitasi. Sedangkan di rumah sakit kondisinya lebih sulit karena sang ibu berada dalam posisi berbaring dengan kaki terangkat ke atas. (TZ)

Comment di sini