Kronologi TKI Satinah Dihukum Pancung

by
March 26th, 2014 at 3:33 pm

Jakarta (CiriCara.com) – Kasus tenaga kerja Indonesia (TKI) bernama Satinah kembali menjadi isu nasional. Seperti diketahui, Satinah yang bekerja menjadi TKW di Arab Saudi ini terancam hukuman pancung karena didakwa telah membunuh majikannya.

satinah

Aksi penggalangan dana Save Satinah – VIVAnews

Kasus Satinah tersebut pun sudah dibahas Presiden Susilo Bambang Yudhyono (SBY). Bahkan, SBY harus menyurati Raja Saudi untuk ke sekian kalinya agar perempuan asal Semarang itu bisa bebas dari hukuman pancung.

Pada tahun 2006, Satinah mengadu nasib sebagai TKW di Arab Saudi melalui penyalur TKI, PT Djasmin Harapan Abadi. Dia ditempatkan di Provinsi Al Qassim untuk bekerja di keluarga Nura Al Gharib.

Namun, Satinah mengaku kerap disiksa oleh majikannya. Tidak tahan karena terus-terusan disiksa, akhirnya pada 2007, Satinah melawan. Saat itu Satinah dan majikan perempuannya, Nura Al Gharib, sedang berada di dapur.

Entah karena apa, Nura tiba-tiba saja membenturkan kepala Satinah ke tembok. Satinah pun langsung melawan dengan memukulkan adonan roti ke tengkuk Nura sampai pingsan. Nura akhirnya dinyatakan meninggal setelah sempat koma di rumah sakit.

Satinah langsung menyerahkan diri ke kantor polisi setempat dan mengakui perbuatannya. Satinah juga dikenai pasal perampokan karena dituding telah melarikan uang milik majikannya, sebesar 37.970 riyal.

Satinah kemudian diadili pada 2009-2010, dia dijatuhi hukuman mati dengan dakwaan melakukan pembunuhan berencana terhadap majikannya. Satinah awalnya dijadwalkan dihukum mati pada Agustus 2011.

Baca juga: Muncul Iklan “TKI Murah” di Malaysia.

tki satinah

Satinah – Ist

Pemerintah Indonesia kemudian meminta pihak Arab Saudi untuk ikut membujuk pihak keluarga Nura agar mau memaafkan Satinah dengan diganti membayar uang darah (diyat) atau kompensasi dari hukuman pancung.

Karena campur tangan pemerintah, Satinah pun sempat mendapat perpanjangan waktu hingga tiga kali, yakni Desember 2011, Desember 2012, dan Juni 2013. Dan akhirnya, pihak keluarga Nura pun sepakat pemancungan Satinah diganti pembayaran diyat.

Pihak keluarga Nura awalnya meminta diyat 15 juta riyal (Rp 45 miliar), kemudian turun jadi 10 juta riyal (Rp 30 miliar), dan terakhir turun jadi 7 juta riyal (Rp 21 miliar). Tanggal 3 April 2014 nanti menjadi batas waktu pembayaran diyat Satinah.

Pemerintah Indonesia menganggarkan Rp 12 miliar untuk Satinah. Karena butuh Rp 9 miliar lagi untuk menebus Satinah, saat ini muncul sejumlah aksi untuk menggalang dana dengan hashtag Save Satinah.

(YG)

Comment di sini