TransJakarta, Sudah Memadai?

by
May 28th, 2014 at 9:02 am

CiriCara.com – Transjakarta yang sudah menjadi transportasi publik sejak tahun 2004 tampaknya mulai menuai beberapa kritikan. Unit bus yang mulai tidak nyaman membuat warga Jakarta enggan untuk menggunakan TransJ. Hal tersebut membuat kemacetan ibukota makin menjadi. Padahal teorinya dibuat TransJ supaya warga Jakarta dapat berpergian menggunakan TransJ yang diharapkan berdampak pada tingkat kemacetan Jakarta yang seharusnya semakin berkurang. Kenyataannya malah sebaliknya.  Keluhan terus terucap dari mulut penumpang ketika menunggu di halte, seperti bus yang tak kunjung datang, halte yang panas dan lain-lain.

Bus Transjakarta

Bus Transjakarta / Ist.

Debbie Widjaja, seorang novelis dan Marketing Manager Fokado.com dan giftcard.co.id merupakan salah satu penumpang TransJ. Beliau menceritakan ketidak-puasan akan halte yang padat dan unit bus yang sedikit ketika diwawancara beberapa hari lalu. Beliau menggunakan TransJ untuk pergi ke kantor. “Banyak unit bus yang sudah tidak layak. Kalau koridor 1 dan 12 busnya enak, tetapi kalo naik yang arah Kalideres, busnya mengeluarkan bunyi ‘kretek-kretek’ ”, ucap beliau ketika diberikan pertanyaan apakah kenyaamanan bus sudah memenuhi ekspektasinya. Beliau mengakui harga tiket TransJ sangat ekonomis yaitu Rp 3.500,- sekali perjalanan dan jika dibandingkan dengan transportasi publik lainnya seperti angkot dan kopaja, TransJ bisa dikatakan cukup baik tetapi jika dibandingkan dengan transportasi publik di negara tetangga, TransJ hanya 1/50 nya saja. Beliau menyampaikan bahwa saat waktu pulang kantor, ia sudah tidak bisa membedakan apakah tubuhnya memang terpegang orang lain atau sengaja dipegang dan beliau merasa dirugikan.

Sementara itu, Nadia Juliana yang adalah seorang mahasiswa dan penyiar di radio Kis FM juga mengutarakan pengalamannya ketika naik TransJ. Masalah waktu sampainya bus TransJ dan tidak adanya waktu yang pasti atau jadwal menjadi salah satu keluhan yang diutarakan Nadia. Selain itu kejadian buruk yang pernah menimpa Nadia juga membuatnya merasa sangat tidak aman. “Jadi waktu itu sempet naik TransJ ke arah Balai Kota, lalu sedang terjadi demonstrasi, bus nya sempet diberhentikan sama demonstran lalu ga lama kemudian mereka mecahin kaca belakang bus. Pada saat itu ngeri banget naik TransJ, ternyata TransJ bisa ga aman juga”, ceritanya ketika ditemui beberapa waktu lalu di LSPR.

Keraguan akan unit-unit TransJ diperkuat dengan adanya peristiwa bus yang tiba-tiba terbakar di Pasar Rumput, Jakarta Selatan yang terjadi pada 8 Mei 2014 lalu. Banyak peristiwa lain seperti unit yang seringkali mogok sehingga menyebabkan kemacetan membuat TransJ tidak dipercaya oleh warga Jakarta. Mereka seringkali bertanya apakah busway masih aman untuk dinaikki. Selain itu, terjadinya pencopetan beberapa kali di halte dan bus juga membuat warga enggan. Debbie pun memberikan komentar jika TransJ mau menjadi transportasi yang dapat diandalkan, maka TransJ harus memiliki jadwal keberangkatan yang jelas sehingga penumpang tidak perlu ‘menumpuk’ di halte bus tanpa kepastian yang jelas kapan bus itu datang.

Apakah Transjakarta sudah memadai? Menurut saya sangat jauh dari memadai. Armada yang kurang jika dibandingkan dengan jumlah penumpang TransJ dan halte bus yang kurang layak dan tidak adanya jadwal kedatangan bus yang jelas makin membuat Bus TransJakarta jauh dari sempurna. Bahkan sebagai penumpang pun, warga Jakarta harus berhati-hati dalam menaikki Bus TransJakarta, adapun  sebagai penumpang, diharapkan untuk tidak memakai perhiasan yang menarik perhatian dan sebisa mungkin untuk tidak mengeluarkan telepon seluler atau barang mewah lainnya supaya tidak memunculkan niat siapapun untuk mencuri serta luangkan waktu sedikit lebih banyak supaya dapat sampai tujuan dengan tepat. Keadaan ini memperlihatkan harapan pemerintah untuk mengurangi kemacetan Jakarta tampaknya menjadi sia-sia. Bagaimana mau membuat Monorail kalau Transjakarta saja masih belum dapat diandalkan?

Comment di sini