Ayo Bangun Tuntas Kota Jakarta!

by
June 6th, 2014 at 3:23 pm

CiriCara.com – Magnet Jakarta tak juga pudar kekuatannya. Seperti tak habis-habis daya tarik yang menarik para pendatang dari luar daerah, entah berapa ribu tepatnya yang masuk ke Jakarta setiap tahunnya. Motif mereka yang paling umum adalah mencari nafkah mengadu nasib di belantara beton Ibukota, mereka yang merasa di kampungnya sudah tidak mungkin untuk menafkahi keluarga, karena lahan pertanian atau kebun mereka sudah habis dilibas untuk proyek pembangunan pabrik-pabrik baru, pusat-pusat pertokoan, perumahan, dan sebagainya. Tidak juga kita bisa salahkan mereka, karena toh mereka berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak.

jakarta

Keramaian di Kota Jakarta – Ist

Masalahnya sekarang, seberapa besar kemampuan Jakarta sebagai megapolitan bisa terus menerima kedatangan para pencari kerja tersebut. Daya dukung kota ini secara kasat mata, tidak lagi cukup. Contoh nyata sehari-hari adalah sangat terganggunya kelancaran mobilitas warga. Kemacetan dan antrian di jalan-jalan tidak cuma pada hari-hari kerja tapi juga berlangsung di akhir pekan, dari terbitnya matahari bahkan sampai jauh malam!

Komplikasi penyakit hingar bingar Jakarta diperparah lagi dengan penegakkan disiplin yang cenderung tanggung-tanggung, inkosisten, baik di sektor ketertiban berlalu lintas, sektor kebersihan, sektor tata kota. Belum lagi terbatasnya lahan hunian, ketersediaan air bersih, ruang terbuka hijau.Tantangan sangat besar bagi jajaran Pemda DKI Jakarta untuk membenahi kota, dan itu jelas adalah amanah bagi yang telah terpanggil untuk menunaikan tugas mulia bagi masyarakat.

Bagi setiap warga Jakarta yang mendamba kehidupan dengan kualitas yang lebih baik, di pundak mereka sebenarnya juga ada beban tanggungjawab untuk memperbaiki dan mempercantik kota di mana mereka mencari nafkah. Tanggung jawab itu tidak saja bagi warga yang memang lahir, sekolah, bekerja, menetap di Jakarta, tapi juga para warga pendatang. Sinergi yang kuat antara masyarakat dengan aparatur Pemda seyogyanya sangat berdampak bagi realisasi Jakarta menjadi kota yang senyaman-nyamannya, layak huni, sehat, tertib, teratur, sejauh tidak lagi sekedar slogan.

Mungkinkah warga tidak lagi melihat petugas dinas kebersihan yang tiap pagi, pada jam yang sama, selalu kerepotan mengangkuti berkubik-kubik sampah berbagai jenis barang dari kali-kali yang membelah kota Jakarta? Belum lagi berbagai jenis sampah yang dengan bebas dilempar ke jalanan oleh para pengendara kendaraan bermotor dan warga pengguna jalan lainnya, tanpa rasa bersalah.

Yang sebenar-benarnya, jika sungguh kuat niat di hati…., bukankah tidak sulit menyediakan sekedar tempat buang sampah di dalam mobil? Atau sekedar kantong plastik untuk tempat sampah bagi pengendara sepeda motor? Amati pulalah betapa mudahnya seorang pejalan kaki, baik itu orang dewasa maupun anak-anak yang telah habiskan sebotol air mineral atau sebungkus snack melemparkan begitu saja kemasan kosong ke jalan, tanpa ada usaha untuk mencari tempat sampah. Mungkin pikir mereka daripada repot-repot cari tempat sampah, bukankah sudah ada petugas dari Dinas Kebersihan yang akan menangani sampah ini.

buang sampah yang benar

Tanamkan kebiasaan buang sampah pada tempatnya – Ist

Seberapa repotnyakah, seberapa susahnyakah? Lalu apakah ada ketentuan denda dari pemerintah yang dijalankan dan ditegakkan atas ketidakbersihan yang timbul akibat ketidaktertiban warga yang semacam itu? Itu baru salah satu indikasi lemahnya sinergi masyarakat dengan aparatur pemerintah kota dalam menegakkan disiplin kebersihan.

Membangun dan menata kota, berarti juga membangun dan menata masyarakatnya. Menata berarti pula berani dan tegas dalam mendisiplin, menegakkan peraturan secara berkesinambungan dan tanpa pandang bulu.

Cantik megah bersih asrinya Jakarta seharusnya bukan hanya di seputaran “segitiga emas” (jalan-jalan protokol Thamrin, Sudirman, Kuningan), tapi sampai ke seluruh penjuru dan sudut-sudut kota. Ayo bangun tuntas Jakarta!

Comment di sini