Demokrasi dan Pestanya di Indonesia

by
June 12th, 2014 at 2:06 pm

CiriCara.com – 9 Juli 2014 merupakan hari yang ditunggu oleh para rakyat Indonesia. Mungkin rakyat, namun mungkin lebih banyak ditunggu oleh para calon penerima kedudukan tertinggi dalam rakyat. Pesta demokrasi katanya. Pesta dari sebuah rasa demokratisasi yang digembar-gemborkan di dalam negara ini. Semua rakyat mengikuti pesta kemeriahannya? Tidak. Kebanyakan rakyat sudah tidak menyenangi kemeriahan pesta ini. Apatis, begitulah rasa yang ada.

 

deklarasi pemilu 2014

Karnaval Pemilu 2014 – Ist

Golput, golongan putih adalah sikap rakyat Indonesia. Golongan ini memilih untuk tidak memilih sama sekali, tidak ikut dalam kemeriahan pestanya, tidak mau tahu dengan hasil dan hadiah dari pestanya. Golongan ini terjadi karena adanya rakyat yang bersikap apatis,  tak peduli dengan politik, dan masa bodoh dengan semua ini. Namun ada juga rakyat yang bersikap kritis, memilih golput karena sudah kesal, sudah kecewa dan pesimis dengan kinerja pemerintahan yang masih korupsi, masih tidak menyampaikan aspirasi rakyat dan masih tidak bisa membuat negara ini menjadi sebuah negara yang lebih baik.

Golput bukanlah hanya sebuah bentuk ketidakpedulian rakyat terhadap pemerintahan, tapi juga sebagai pernyataan dari perjuangan perlawanan politik terhadap pemerintah. Bukankah terdengar menyedihkan ketika rakyat melawan pemerintahnya sendiri? Terdengar menyedihkan seperti anak melawan ayahnya sendiri. Tapi memang begitu adanya. Pemerintah berlaku seperti ayah yang diktator tapi tidak bisa mendengarkan isi hati anaknya, mendukung aspirasi, dan memajukan kebahagiaan anaknya.

Ayah yang tidak tahu bagaimana membuat anaknya bahagia, hanya mau mementingkan kebahagiaannya sendiri tapi tetap menuntut anaknya untuk hormat kepadanya. Bukankah suatu saat nanti sang anak akan sadar dan paham bahwa selama ini Ayahnya itu salah? Salahkah bila anak itu melawan, walaupun kodratnya itu adalah Ayahnya sendiri? Itulah kepelikan pemerintahan negara kita.

Sebagai seorang “ayah” yang baik, terkadang pemerintah kita tidak pernah mau tahu apa isi hati rakyatnya. Amanat yang diberikan sebagai seorang pemimpin, hanya ditujukan sebagai pemimpin untuk dilayani, bukan pemimpin untuk melayani. Bukan hanya perasaan ketidakpercayaan lagi yang sudah tertanam dibenak rakyat terhadap pemerintah. Perasaan dibodohi, dikhianati dengan semua janji-janji kampanye dari calon-calon legislatif bahkan calon presiden.

Janji hanyalah orasi, janji hanyalah basa-basi tanpa realisasi. Iklan tersebarluaskan dimana-mana. Media berlomba-lomba menggembar-gemborkan kehebatan masing-masing calon. Tapi pernahkah kita bangga sepenuhnya dengan janji mereka yang benar-benar terealisasi? Bukan sekedar orasi? Pencitraan? Tapi benar-benar kelakuan yang membanggakan.

gedung kpu

Pemilu 2014 – Ist

Tidak perlu banyak kata, bisa dilihat sendiri bahwa masih banyak sekali aspek dari sosial, ekonomi, pendidikan, kesehatan dan banyak lainnya yang masih perlu dibenahi oleh pemerintah, namun sepertinya pesta demokrasi ini membuat pembuang-buangan uang negara secara percuma. Pembuang-buangan uang pribadi juga sebagai serangan fajar penarik simpati masyarakat. Bukan tambah baik yang  didapatkan rakyat yang ada melainkan tambah buruk.

Citra kepemerintahan dan kepercayaan rakyat terhadap dari petinggi-petinggi rakyat saat ini masih sangat buruk di mata masyarakat. Rakyat menginginkan pemerintah yang bisa mengubah semua ini menjadi lebih baik. Rakyat ingin pesta kebahagiaan yang sebenarnya, bukan hiporia yang hanya berlangsung selama sehari dan berakhir besok. Pesta yang hanya meriah sekali, namun menggerogoti selama 5 tahun.

Rakyat butuh pemimpin yang bukan hanya wacana, tapi juga mencetak bangga. Buatlah Pemilu benar-benar sesuai dengan misinya, jujur, luber dan adil apa adanya. Selamat berpesta, kami rakyat Indonesia menunggu bahagianya dan mengingat akan seluruh janji-janjinya yang pernah terucap. Kami, menunggu realisasi dan bukti, bukan ucapan basi.

Comment di sini