Bahaya Mengejek Calon Presiden Lawan di Medsos

by
June 16th, 2014 at 12:00 pm

CiriCara.com – Tak lama lagi Indonesia akan menyambut pesta demokrasi. Tepatnya 9 Juli 2014 mendatang, banyak jari kelingking masyarakat Indonesia tak lagi seperti warna kulitnya. Tinta tanda telah memakai hak pilihnya pada Pemilihan Presiden (Pilpres) senantiasa ikut kemana pun pergi.

pemilu

Pemilihan Umum 2014 – Ist

Bicara Pilpres tahun ini, pilihan sudah mengerucut ke dua aktor politik nasional. Prabowo berdampingan dengan Hatta Rajasa, serta Jokowi bersama Jusuf Kalla. Keduanya telah memiliki nomor urut, tinggal mengampanyekan kapabilitas mereka di depan masyarakat banyak.

Terinspirasi dari bapak Proklamator bangsa, Soekarno, yang sering berbicara persatuan bangsa, penulis memiliki sebuah analogi untuk menggambarkan bagaimana keadaan Persatuan Indonesia:

“Perbedaan budaya di Indonesia biarkanlah tumbuh seperti sebuah taman/kebun. Di dalamnya terdapat bunga matahari, melati, mawar, anggrek, pohon pepaya, pisang, jambu, mangga dan lain-lain. Mereka saling tumbuh berkembang dengan pesat, meski ada pula yang terlambat, tapi mereka tak pernah saling mengganggu karena benci pada perbedaan. Justru, karena perbedaan itulah taman/kebun tersebut tampak indah elegan.”

Rasanya sungguh nyaman hidup di negara seperti itu. Masyarakat tidak saling bertengkar karena mengurusi perbedaan. Sayang, sepertinya Indonesia belum sepenuhnya bersatu. Kotak-kotak masih menguat dalam pola pikir dan hidup bangsa Indonesia.

Apalagi seperti hari ini, saat setiap individu semakin berdebar hatinya menyambut pesta demokrasi rakyat Indonesia. Dan perpecahan sangat tampak untuk Pilpres mendatang. Terutama di Medsos (media sosial), kedua kubu saling bersahut-sahutan. Syukur bila mereka bersahut-sahutan menggunakan logika dan referensi yang jelas. Ini tidak, sudah tanpa bukti konkrit dan sumber valid, saling menghina dan menyudutkan pula. Tampak besar jurang pemisah antara kubu Prabowo-Hatta dan Jokowi-JK.

Jurang pemisah ini akan sangat berdampak untuk bangsa Indonesia ke depannya. Terutama saat berbicara stabilitas Indonesia. Kenapa?

Pertama, pola pikir masyarakat Indonesia masih belum siap untuk menerima informasi. Bukan karena tidak bisa membaca atau apalah, melainkan mental masyarakat belum menunjukkan adanya keinginan untuk mencari dan mengkonfirmasi informasi yang dia dapat, benarkah faktanya demikian atau hanya permainan media belaka?

Selanjutnya, Arus informasi begitu cepat untuk zaman sekarang. Bila ditemukan dengan kondisi mental masyarakat Indonesia yang masih belum siap menerima informasi mentah-mentah, akan ada pengaruh kuat media. Sedangkan, beberapa media memiliki sajian informasi yang tidak objektif, bahkan sangat subjektif dan rasial.

Kemudian informasi dari media ini dibagikan ke media sosial. Misal, keburukan tentang si calon Z. Muncullah pertentangan dari kubu X. Keduanya saling bersahutan. Media senang beritanya diambil sebagai referensi, tandanya semakin banyak dibaca dan semakin banyak dapat uang. Sedangkan, konsumen beritanya? Sibuk bersahut-sahutan, bahkan sampai melibatkan emosi, menjadi benci dengan kubu lawan, sekaligus dendam pada si aktor yang didukung lawannya.

Terkumpullah masa kubu Z dan X semakin besar. Indonesia akhirnya terbagi jadi dua bagian, Indonesia bagian Z dan Indonesia bagian X.

jokowi

Prabowo dan Jokowi – Ist

Selanjutnya usai 9 Juli apa yang terjadi?

Saat Z terpilih sebagai pemenang, kubu X akan melakukan perlawanan. Sebaliknya, X yang menang, Z tak mungkin tinggal diam. Bagaimana bentuk perlawanannya, syukur bila dengan cara yang baik dan sehat, permasalahannya ketika perlawanannya dilakukan karena perasaan benci dan dendam yang memupuk sebelum kampanye.

Saat itulah Indonesia kelam, mengalami perpecahan. Padahal masih ada tugas bersama untuk membangun bangsa Indonesia. Tapi, kebencian menyelimuti, jadilah Indonesia tak lagi harmonis. Persatuan Indonesia hanya meratap terabaikan.

Comment di sini