Saham TV One dan MNC Anjlok Karena “Quick Count Prabowo”

by
July 10th, 2014 at 3:47 pm

Jakarta (CiriCara.com) – Sebagian besar hasil perhitungan cepat (quick count) Pemilu Presiden yang berlangsung, 9 Juli 2014, kemarin menunjukkan hasil kemenangan untuk calon presiden Joko Widodo (Jokowi). Namun ada juga quick count yang memenangkan capres Prabowo Subianto.

ihsg

Ilustrasi IHSG – Ist/Kompas

Sebanyak 8 lembaga survei menyatakan pasangan Jokowi-JK menang dalam quick count Pilpres 2014. Namun 4 lembaga survei lainnya malah menampilkan hasil berbeda, dimana dalam quick count versi mereka, pasangan Prabowo-Hatta jadi pemenangnya.

Munculnya hasil quick count yang berbeda itu memang sempat membingungkan masyarakat. Tidak hanya itu, sejumlah televisi yang menayangkan hasil quick count untuk kemenangan Prabowo-Hatta pun mengalami dampak penurunan dalam sahamnya. Stasiun televisi itu adalah TV One, ANTV, RCTI, MNC TV, dan Global TV.

Seperti dikutip dari data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), TV One yang berada di bawah naungan perusahaan PT Visi Media Asia Tbk (VIVA), sahamnya anjlok 4,85% atau setara 13 poin ke level Rp 225 per lembar. ANTV yang berada di bawah PT Intermedia Capital Tbk (MDIA) sahamnya stagnan.

Sementara itu, PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) yang menaungi RCTI, MNC TV, dan Global TV pun mengalami penurunan nilai saham. Hingga siang hari ini, saham MNCN turun 3,11% atau setara 85 poin ke level Rp 2.645.

Menurut Head of Research Universal Broker Indonesia, Satrio Utomo, para investor melepas saham VIVA dan MNCN karena dinilai tidak benar dalam menampilkan quick count yang menenangkan Prabowo-Hatta.

Turunnya saham VIVA dan MNCN bagaimanapun sangat berkaitan dengan hasil quick count yang dinilai tidak benar,” ujar Satrio.

Sekretaris Umum Forum Komunikasi Certified Securities Analyst (FK CSA), Reza Priyambada pun menilai para investor khawatir penayangan quick count yang meragukan itu dinilai akan berpengaruh pada bisnis VIVA dan MNCN ke depannya. Karenanya para investor tidak tertarik.

Adanya perbedaan (quick count) itu dikhawatirkan akan mempengaruhi bisnisnya ke depan,” kata Reza, seperti dikutip dari detik.com, Kamis (10/7/2014).

Menurut pandangan Reza, sebenarnya secara fundamental kedua perusahaan tersebut bekerja secara baik dan tidak mengalami masalah. Diduga memang karena quick count kemenangan Prabowo-Hatta yang jadi alasan anjloknya saham kedua perusahaan tersebut.

(YG)

Comment di sini