Anang: Deklarasi Kemenangan Jokowi-JK Bisa Picu Konflik

by
July 11th, 2014 at 2:27 pm

Jakarta (CiriCara.com) – Pasangan capres-cawapres Joko Widodo (Jokowi) dan Jusuf Kalla (JK) berhasil unggul di hitung cepat (quick count) sejumlah lembaga survei usai pelaksanaan Pemilu Presiden, 9 Juli 2014, lalu. Hal ini pun disambut baik oleh Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri.

jokowi dan jk

Jokowi-JK – Ist

“Alhamdulillah setelah kita menyaksikan proses penghitungan cepat, yang namanya pasangan insinyur Joko Widodo bersama haji Jusuf Kalla telah dapat dinyatakan sebagai Presiden RI tahun 2014 sampai 2019 versi quick count,” demikian kutipan dari pidato Megawati.

Namun, Pengamat Komunikasi Politik Universitas Brawijaya Anang Sujoko menilai apa yang dilakukan Megawati itu tidak etis. Menurut Anang, Megawati seharusnya tidak perlu berpidato seolah-olah Jokowi-JK sudah menang, apalagi KPU belum merilis hasil resmi Pilpres 2014.

“Megawati harusnya punya etika, taat hukum dengan hormat pada keputusan Komisi Pemilihan Umum (KPU). Dia harusnya menunggu real count,” ujar Anang, seperti dikutip dari Okezone.com, Jumat (11/7/2014).

Pidato Megawati, kata Anang, itu bisa menggiring opini masyarakat untuk percaya bahwa Jokowi-JK sudah menang. Padahal, keputusan resmi pemenang Pilpres baru akan diumumkan KPU pada 21-22 Juli 2014, mendatang.

Lebih lanjut, Anang khawatir pidato Megawati itu akan memicu konflik di masyarakat dan pendukungnya. Masyarakat yang telanjur percaya Jokowi-JK sudah menang, bisa ribut jika ternyata KPU mengumumkan hasil yang berbeda dari hasil quick count.

“Pidato deklarasi kemenangan Jokowi-JK ini bisa berpotensi konflik karena sebenarnya pasangan yang diusung PDIP, PKB, Hanura, NasDem, dan PKPI ini tidak unggul mutlak,” kata Anang kepada wartawan, Kamis (10/7/2014), kemarin.

Pasalnya, menurut Anang, saat ini tidak semua lembaga survei menyatakan Jokowi-JK unggul dalam quick count. Namun, ada juga lembaga survei yang menyatakan keunggulan untuk kubu Prabowo Subianto-Hatta Rajasa.

“Jika banyak orang berbeda pendapat, timbul konflik dan akhirnya bisa terjadi chaos,” ujar Anang.

Seperti diketahui, penentu siapa yang akan jadi Presiden Republik Indonesia periode 2014-2019 baru akan ditentukan berdasarkan real count KPU.

(YG)

Comment di sini