Mengenal Cara Kerja Quick Count di Pemilu

by
July 11th, 2014 at 3:29 pm

CiriCara.com – Pemilihan Umum (Pemilu) Presiden 2014 hingga saat ini masih menyisakan saling klaim kemenangan di dua kubu, baik Prabowo-Hatta maupun Jokowi-JK. Hal ini menyusul munculnya hasil hitung cepat (quick count) yang berbeda dari sejumlah lembaga survei. Mana yang benar?

Quick Count Pilpres 2014 - Ist

Quick Count Pilpres 2014 – Ist

Istilah quick count memang sudah familiar di telinga masyarakat, apalagi pas musim Pemilu. Namun masih sedikit masyarakat yang memahami cara kerja quick count. Pasalnya hanya hitungan beberapa jam setelah TPS ditutup, hasil quick count sudah bisa diketahui.

Hasil quick count memang nyaris presisi dengan hasil real count karena sampelnya langsung dari TPS. Meskipun demikian, hasil quick count setiap lembaga survei pasti berbeda-beda. Tapi biasanya selisih perbedaannya hanya sebesar 1 persen.

Perbedaan tersebut merupakan hal yang wajar mengingat setiap lembaga mengambil sampel suara di TPS yang dipilih secara acak. Di sinilah timbul kesalahan dan muncul istilah batas kesalahan (margin of error) pada survei quick count tersebut.

Angka margin of error setiap lembaga itu juga berbeda, tergantung dari seberapa banyak sampel TPS yang diambil. Semakin banyak sampel TPS yang diambil, maka semakin kecil angka margin of error sebuah hasil quick count.

Umumnya, peneliti atau lembaga survei akan mengambil margin of error +/- 1 persen dalam quick count, sehingga selisih dengan suara riil berkisar di rentang itu. Contohnya, misal salah satu pasangan capres di quick count mendapat suara 45,1 persen, berarti suara riilnya berada dalam rentang 44,1 persen – 46,1 persen.

Banyak sedikitnya jumlah sampel itu juga berpengaruh pada biaya yang harus dikeluarkan oleh lembaga survei yang mau mengeluarkan quick count tersebut. Menurut data KPU, terdapat 479.183 TPS di seluruh Indonesia.

hitung cepat pilpres 2014

Prabowo-Hatta vs Jokowi-JK – Ist/Kompas

Mengenai metode penarikan sampel, lembaga biasa menggunakan stratified random sampling atau multistage random sampling. Nantinya ada relawan yang ditunjuk untuk memantau hasil di TPS yang telah dipilih secara acak. Kemudian para relawan itu akan melaporkan hasilnya melalui media online ataupun pesan singkat SMS ke lembaga survei.

Dengan metode yang relatif sama, seharusnya semua hasil quick count pada Pilpres kemarin tidak akan saling bertentangan. Diduga, ada lembaga survei yang keliru atau mungkin sengaja memanipulasi data quick count demi kepentingan klien.

Terlepas dari itu semua, hasil pasti dari pemungutan suara di Pemilu itu baru akan diketahui setelah real count KPU keluar. (YG)

Comment di sini