Pernikahan Dini, Haruskah?

by
July 11th, 2014 at 9:43 am

CiriCara.com – Tren menikah di usia dini (15-19 tahun) akhir-akhir ini telah menjangkit remaja di Indonesia. Faktor yang menyebabkannya pun beragam. Namun yang bersumbangsih cukup besar adalah karena adanya MBA (Married by Accident), di mana pasangan menikah bukan karena memang sudah memiliki kesiapan mental secara psikis dan ekonomi, tapi karena terpaksa.

Pernikahan dini – Ist

Sebenarnya jika kita menelisik lebih jauh, fenomena pernikahan dini bukanlah hal yang baru di Indonesia, khususnya daerah Jawa. Semenjak dahulu, trend menikah penduduk Jawa adalah pada usia dini, yakni di usia yang dari segala sisi penunjang pernikahan masih jauh dari kata “matang”. Orang dulu menganggap perempuan yang tidak segera menikah akan mendapat tanggapan miring dari masyarakat. Perempuan yang tidak segera menikah akan dicemooh sebagai perawan kaseb ataupun perawan tua.

Undang-undang Negara Indonesia telah mengatur batas usia pernikahan bagi para penduduknya. Kebijakan pemerintah dalam menetapkan batas minimal usia pernikahan ini tentunya melalui proses dan berbagai pertimbangan. Hal ini dimaksudkan agar kedua belah pihak benar-benar siap dan matang dari sisi fisik, psikis, dan mental.

Untuk menurunkan tren tersebut, BKKBN menggencarkan program Generasi Berencana (Genre). Program itu berisi sosialisasi tentang pengetahuan mengenai keluarga berencana yang menyasar kalangan siswa SMA dan mahasiswa. Menurut Dr. Sudibyo Alimoeso MA, Deputi Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga BKKBN, penyebab perceraian tertinggi di Indonesia di antaranya pernikahan di bawah umur, mulai dari pernikahan dini karena faktor orangtua, ataupun menikah karena sudah hamil di luar nikah. Di sisi lain karena kebutuhan ekonomi yang tak terpenuhi. Lebih dalam, belum matangnya secara mental dan ekonomi seseorang merupakan pemicu perceraian di Indonesia.

Berikut ini adalah dampak negatif dari adanya pernikahan dini :

1. Peluang kematian ibu hamil muda sangatlah besar. Mengingat bahwa kehamilan pada usia kurang dari 17 tahun meningkatkan risiko komplikasi medis, baik pada ibu maupun pada anak. Anatomi tubuh anak belum siap untuk proses mengandung maupun melahirkan, sehingga dapat terjadi komplikasi berupa obstructed labour serta obstetric fistul.

2. Menurut para psikolog, ditinjau dari sisi sosial pernikahan dini dapat mengurangi harmonisasi keluarga. Hal ini disebabkan oleh emosi yang masih labil, gejolak darah muda dan cara pikir yang belum matang. Melihat pernikahan dini dari berbagai aspeknya memang mempunyai banyak dampak negatif. Oleh karenanya, dalam hukum perdata telah diatur bahwa pernikahan seseorang harus di atas umur 19 tahun untuk pria dan 16 tahun untuk wanita. Faktanya salah satu penyebab tingginya angka perceraian di Indonesia adalah karena adanya pernikahan dini.

3. Pelaku pernikahan dini akan kehilangan kesempatan mengenyam pendidikan yang lebih tinggi. Dengan kata lain, pernikahan dini merupakan faktor menghambat terjadinya proses pendidikan dan pembelajaran. Dengan terputusnya akses pendidikannya itu ia juga akan mengalami masalah ketenaga kerjaan. Realita yang ada di dalam masyarakat saat ini adalah seseorang yang mempunyai pendidikan rendah hanya dapat bekerja sebagai buruh. Apabila seseorang tidak menikah dini mungkin dapat menjadi generasi penerus bangsa yang tangguh.

Pergaulan seperti dunia pacaran pun hendaknya harus diwaspadai para pemuda dan pemudi di Tanah Air. Karena dalam beberapa kasus pun ada pernikahan dini yang disebabkan karena perilaku pacaran yang melebihi batas. Boleh pacaran, namun tetap harus ada aturannya.

Comment di sini