BI Musnahkan Rp 195,16 Miliar Uang Tidak Layak Edar

by
August 19th, 2014 at 11:55 am

Manado (CiriCara.com) – Bank Indonesia (BI) memusnahkan uang tidak layak edar sebanyak Rp 195,16 miliar pada triwulan II tahun 2014. Jumlah uang yang dimusnahkan tersebut diketahui meningkat 3,93 persen dibanding pada triwulan 1 tahun 2014.

cara jadi kaya

Jadi orang kaya – Ist

“Peningkatan 3,93 persen dari Rp 187,78 miliar menjadi Rp 195,16 miliar pada triwulan II tahun 2014,” kata Kepala Kantor BI Perwakilan Sulut Luctor Tapiheru di Manado, seperti dikutip dari Merdeka.com, Selasa (19/8/2014).

Menurut Luctor, meningkatnya jumlah uang tidak layak edar tersebut dikarenakan masih banyak masyarakat yang tidak memperlakukan uang rupiah dengan baik. Ia mencontohkan para pedagang daging yang seakan tidak peduli uangnya basah dan kotor karena terkena noda darah.

“Masih banyak kedapatan warga hanya mengucel uang kertas rupiah dan langsung dimasukkan ke kantong atau pedagang yang membiarkan uang terseut kotor,” jelas Luctor.

Sementara itu, Asisten Direktur BI Perwakilan Sulut Eko Siswantoro menjelaskan kriteria uang tidak layak edar. Bedasarkan standar kualitas yang ditetapkan BI, uang rupiah asli tidak layak edar adalah uang yang sudah lusuh, uang cacat, uang rusak dan uang yang telah dicabut atau ditarik dari peredaran.

- Uang lusuh adalah uang yang ukuran fisiknya tidak berubah dari ukuran aslinya tetapi kondisi uang telah berubah disebabkan, antara lain karena jamur, minyak, bahan kimia, dan coret-coretan.

- Uang cacat adalah uang hasil cetak spesifikasi teknisnya tidak sesuai dengan yang telah ditetapkan oleh Bank Indonesia.

- Uang rusak adalah uang yang ukuran atau fisiknya telah berubah dari ukuran aslinya yang antara lain karena terbakar, berlubang, hilang sebagian, atau uang yang ukuran fisiknya tidak berubah dari ukuran aslinya antara lain karena robek, atau uang yang mengerut.

Baca juga: Foto Penampakan Uang Baru NKRI 2014 Rp 100 Ribuan.

Karenanya, BI dan perbankan yang ada di Sulut berencana untuk melakukan sosialisasi bagaimana memperlakukan uang rupiah dengan baik dan benar. Menurut Eko, masyarakat harus tahu bahwa proses pembuatan uang rupiah itu juga memakan biaya yang tidak sedikit.

“Proses percetakan uang rupiah sangat mahal, kita harus mengimpor bahan baku dari luar negeri dengan harga sangat tinggi, jadi perlu dihargai dengan baik,” jelas Eko.

Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda sudah memperlakukan uang rupiah dengan baik dan benar?

(YG)

Comment di sini