5 Cara Memberikan Ruang Pada Anak Pra Remaja

by
October 6th, 2014 at 10:08 am

CiriCara.com – Pada umumnya anak berusia dua belas tahun mulai ingin eksis di hadapan kawan-kawannya sehingga membuatnya merasa tidak nyaman dengan hal-hal tak sesuai yang dilakukan orang tuanya. Perselisihan demi perselisihan bisa saja timbul antara orang tua dan anak. Orang tua bukan lagi merupakan satu-satunya figur teladan baginya. Jangan buru-buru merasa kecewa, tela’ah lebih bijak dulu.

menasehati anak remaja

Anak remaja – Ist

Yang sebenarnya terjadi adalah, ia berusaha untuk mandiri. Tetapi yang dirasakan orang tua bisa berkebalikan. Orang tua bisa merasakan anaknya tengah menolaknya. Padahal mereka hanya butuh “ruang” untuk perkembangan kepribadiannya.

Ada saatnya anak-anak di usia ini lebih percaya untuk terbuka kepada kawan-kawannya. Maka berikan ia ruang. Pada saat yang tepat ia tentu akan kembali kepada ayah dan bundanya selama ayah dan bundanya memahaminya.

Ada kecemasan tersembunyi dalam dirinya dan setiap masalah kelihatan besar. Ia khawatir apakah ia akan diterima oleh teman-teman sebayanya atau tidak. Ia pun bimbang, apakah hendak menjadi pribadi yang unik atau menjadi populer bersama teman-teman yang menuntut kesamaan.

Berdasarkan buku Ensiklopedia Perkembangan Anak, terbitan Erlangga yang ditulis oleh Carol Cooper dan kawan-kawan, sebagai orang tua, Anda perlu mengantisipasi sensitifitas perasaan anak pra remajanya dengan mengambil sikap sebagai berikut:

  1. Coba ingat-ingat saat Anda seusianya. Biasanya ada kemiripan perilaku karena apa yang dialami anak Anda itu merupakan perilaku umum anak pra remaja. Bila Anda tak berkenan dengan sebuah kesalahan yang dilakukannya karena dulu Anda pernah melakukannya, walaupun wajar Anda hentikan karena Anda orang tuanya tapi jangan dulu melakukannya. Karena tidak banyak anak yang belajar dari kesalahan orang tuanya.
  2. Coba ingat-ingat lagi, waktu Anda seusia dia, apakah Anda suka bila orang tua Anda mengatakan hal ini: “Waktu Mama seusiamu dulu, Mama … bla … bla … bla.” Kalau dulu Anda tak senang, nah bisa jadi anak Anda pun demikian. Ingatlah, anak Anda perlu mencoba segala sesuatunya sendiri dan membuat kesalahan-kesalahannya sendiri agar dapat benar-benar belajar dari pengalamannya tersebut. Untuk menghindari konflik, bantu dia memikirkan sendiri tentang faktor pro dan kontra dari setiap ide baru daripada sekadar memerintahkannya melakukan sesuatu. Misalnya jika dia bolos sekolah, tanyakan kepadanya, “Apa yang Kau nikmati dari melanggar peraturan sekolah dan apa keuntungan dan kerugian dari perbuatanmu itu?”
  3. Pada usia dua belas tahun, anak memiliki “insting alami” untuk melanggar batasan-batasan dan menantang keputusan serta sikap Anda. Hal ini normal dan penting untuk pengembangan dan pemahaman dirinya. Semua itu butuh waktu dan bisa menyebabkan ketidaknyamanan antara Anda dengan dia.
  4. Mengembangkan kecerdasan emosional merupakan tujuan ideal bagi anak dua belas tahun. Ini berarti ia mampu mengenali, mengekspresikan dan mengendalikan emosinya sendiri, sekaligus mendengarkan dan memahami perasaan orang lain. Pada umumnya si pra remaja yang sehat secara emosional itu mampu mengatur perasaannya tapi adakalanya ia membutuhkan bantuan Anda.
  5. Ingatlah, Anda tetap yang memiliki wewenang, baik sebagai wali sahnya maupun karena Anda mengkhawatirkan kesejahteraannya. Biar bagaimana pun juga, seharusnya Anda lebih bijaksana daripada dirinya.

Membesarkan anak seperti sebuah seni. Ada saat-saat di mana orang tua perlu menyesuaikan kembali batasan-batasan yang telah ditetapkan agar selaras dengan tingkat kedewasaan anak dan kemandiriannya yang semakin meningkat. Jangan lupa berdo’a kepada Tuhan karena segala upaya akan berjalan lancar dengan berserah diri kepada-Nya.

Comment di sini