Politik Esuk Dele, Sore Tempe

by
December 22nd, 2014 at 10:51 am

CiriCara.com - Esuk dele, sore tempe (pagi kedelai, sore tempe), mungkin itu perumpamaan yang tepat untuk menggambarkan sikap Partai Golongan Karya di bawah Aburizal Bakrie, menyikapi Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No 1 tahun 2014 tentang Pemilihan Kepala Daerah yang biasa disingkat Perppu Pilkada. Masih segar dalam ingatan, usai didapuk menjadi Ketua Umum dalam Musyawarah Nasional (Munas) partainya di Bali, Aburizal atau biasa disapa Ical dengan gagah mengeluarkan ‘maklumat’ politiknya kepada para kadernya: tolak Perppu Pilkada.

gedung dpr

Gedung DPR – Ist

Namun kini sikap Ical berubah 180 derajat. Pada Selasa 9 Desember 2014, lewat akun twitternya @aburizalbakrie, nakhoda beringin versi Munas Pulau Dewata itu mengeluarkan ‘maklumat’ lain. Maklumat yang bertolak belakang dengan perintah politiknya sesaat setelah ia terpilih secara aklamasi di Munas Bali. Ical berkicau, Golkar mendukung Perppu Pilkada langsung.

Sulit untuk tak mengkaitkan perubahan sikap Ical itu dengan reaksi mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Usai Ical mengeluarkan maklumat menolak Perppu Pilkada, SBY langsung bereaksi keras. Lewat akun twitternya @SBYudhoyono, mantan Presiden dua periode itu menumpahkan kekecewaannya, bahkan juga kemarahannya. Ketua Umum Partai Demokrat itu kecewa dengan sikap Golkar hasil Munas Bali yang menolak Perppu yang dikeluarkan di ujung masa jabatannya sebagai presiden. SBY pun, mengungkit kesepakatan Partai Demokrat yang bersedia mendukung paket pimpinan DPR dan MPR yang diusung Koalisi Merah Putih (KMP), koalisi yang terdiri dari partai-partai pendukung Prabowo-Hatta. Golkar, adalah salah satu partai yang tergabung dalam koalisi partai pendukung Prabowo.

Kompensasinya, Demokrat mendapat dukungan dari KMP, Perppu Pilkada tak akan dijegal. Tapi, dengan sikap Ical yang menolak Perppu, SBY pun ‘berang’. Ia merasa ditelikung. Dalam kicuannya di twitter, nampak sekali SBY begitu berang. Bagi SBY taat pada sebuah kesepakatan, adalah hal yang prinsip. Namun, sekali kesepakatan itu diingkari, itu sama saja pengkhianatan yang tak bisa dimaafkan. Ketika SBY sudah bicara prinsip, artinya dia telah bicara tentang harga dirinya.

“Kini, secara sepihak PG (Partai Golkar) menolak Perppu, berarti mengingkari kesepakatan yang telah dibuat. Bagi saya hal begini amat prinsip. *SBY*,” tulis SBY dalam akun Twitter resmi miliknya, @SBYudhoyono, yang diposting Kamis malam, 4 Desember 2014.

Maka tak heran bila kemudian SBY dengan cepat memerintahkan ‘anak buahnya’ di Demokrat segera merapat ke koalisi pendukung Jokowi yang sedari awal  mati-matian menolak Pilkada via DPRD. Bahkan, seperti masih memelihara ‘bara’ kekecewaan, SBY tiba-tiba langsung datang menyambangi Jokowi di Istana. Memang agenda resminya ia datang dalam kapasitasnya sebagai Chairman Global Green Growth Institute (GGGI) yang ingin mengundang Jokowi  hadir dalam acara organisasi itu di Bali nanti. Tapi sulit ditampik, bila kedatangan SBY ke Istana, tak terkait dengan ‘kemarahannya’ di Twitter.

Comment di sini