Tirulah Pak SBY dan Pak Ical, Marah via Twitter

by
December 23rd, 2014 at 9:08 am

CiriCara.com – Saya bayangkan, Dick Costolo, bos Twitter sepekan ini mungkin sedang tersenyum bangga. Sambil duduk di kursi empuk dengan secangkir kopi, sembari menyilangkan kaki, Om Dick menyunggingkan senyum puas, menyaksikan suguhan kisah politik dari negeri nun jauh dari tempat duduknya, negeri bernama Indonesia. Hati bos Twitter pun mungkin berbunga-bunga. Merasa bungah dan bangga, tokoh-tokoh penting di Indonesia lebih memilih Twitter ketimbang konferensi pers untuk menyampaikan pesannya pada publik.

ical dan sby

Aburizal Bakrie (Ical) dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) – Tribunnews

Ya sepekan ini, jagad Twitter riuh. Beberapa kicauan di Twitter ramai-ramai dikutip media-media besar di Indonesia.  Adalah tiga akun yang membuat Twitter sukses menggeser tradisi jumpa pers tokoh penting di Indonesia. Tiga akun itu adalah @SBYudhoyono, @aburizalbakrie dan @hattarajasa. Akun @SBYudhoyono, pemiliknya bukan netizen biasa, tapi dia adalah mantan orang nomor satu di Indonesia, yang memimpin negeri ini sepuluh tahun lamanya. Sementara akun @aburizalbakrie, pemiliknya ya Pak Aburizal Bakrie atau biasa disapa Pak Ical, konglomerat yang sekarang jadi nakhoda Partai Golkar untuk keduakalinya. Sedangkan akun @hattarajasa dipunyai Pak Hatta Rajasa, Ketua Umum PAN, yang juga mantan calon wakil presidennya Pak Prabowo Subianto.

Pada 4 Desember 2014, Pak SBY berkicau via akun twitternya. Kali ini kicauan Pak SBY nadanya lain. Nada kicauan Pak SBY, penuh kekecewaan dan kemarahan. Dalam kicauannya Pak SBY marah, kecewa, dan merasa dipermainkan oleh Partai Golkar yang ia nilai mengingkari kesepakatan yang telah diteken. Kemarahan Pak SBY ini, terkait sikap Partai Golkar yang akan menolak pengesahan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No.1 tahun 2014 tentang Pemilihan Kepala Daerah secara langsung atau biasa disingkat Perppu  Pilkada.  Perppu ini dikeluarkan Pak SBY diujung masa jabatannya sebagai Presiden untuk mengganti Undang-Undang No 22 tahun 2014 tentang Pemilihan Kepala Daerah.

Penolakan terhadap Perppu Pilkada sendiri diucapkan Pak Ical, usai mantan orang paling tajir di negeri ini terpilih sebagai nakhoda Partai Golkar untuk kedua kalinya di ajang Musyawarah Nasional (Munas) partai tersebut di Bali. Atas pidato Pak Ical itu, Pak SBY langsung bereaksi keras. Lewat akun Twitternya, reaksi keras itu ditumpahkan. Bagi Pak SBY, mentaati sebuah kesepakatan adalah sebuah prinsip yang dipegangnya erat-erat. Dengan kata lain, Pak SBY sedang mengatakan Golkar dan Pak Ical tak punya prinsip karena mengingkari begitu saja kesepakaan yang telah dibuat keduanya. Bila seseorang sudah bicara prinsip, artinya dia  sedang  berbicara harga diri. Prinsip atau harga diri Pak SBY telah dilukai. Maka Pak SBY pun marah.

Saya kira, Pak SBY tepat memilih Twitter untuk menunjukan ‘kemarahannya’. Kenapa tepat, karena kalau Pak SBY menggelar jumpa pers sekedar untuk memberitahu publik dan juga Pak Ical, bahwa ia marah, kecewa dan dikhianati  tentu jutaan mata akan merekam seperti apa mimik Pak SBY yang sedang ‘marah besar’. Pastinya jutaan mata akan melihat itu. Sebab tak mungkin jumpa pers mantan Presiden, apalagi ini bicara politik, hanya dihadiri kerabat. Pasti akan mengundang para awak.

Para kuli tinta pun, dengan sukarela bakal berbondong-bondong datang untuk merekam dan mencatat jumpa pers Pak SBY.  Apalagi bila isunya “seksi”, seperti isu nasib Perppu Pilkada. Di tambah yang mau disampaikan adalah ‘rasa kecewa dan marahnya Pak SBY, Ketua Umum Partai Demokrat, mantan Presiden dua periode. Ini jumpa pers yang hukumnya fardu ain untuk diliput. Biar pun jumpa pers digelar di Cikeas yang lumayan jauh dari Jakarta.

Nah kalau lewat Twitter, publik tak akan bisa menonton mimik marah Pak SBY. Apakah ketika Pak SBY mengungkapkan kekecewaaanya pada Golkar dan Pak Ical sambil mengepalkan tangan, atau menggebrak meja tak ada yang tahu. Tahu-tahu lewat Twitter Pak SBY ‘marah’ atas pidato politik Pak Ical yang menolak Perppu Pilkada yang dikeluarkan di ujung masa jabatannya.

Mungkin saja, saat Pak SBY menuliskan kicauannya, giginya gemerutuk menahan amarah. Atau mungkin saja dia kala mengetik tweet-annya sembari kepalkan tangan, mendengus dan menggebrak meja. Mungkin saja seperti itu, sebab tak ada yang tahu. Publik hanya bisa menduga-duga saja. Pengamat pun bisanya cuma menerka. Berbeda jika kemarahan itu diungkap dalam  sebuah acara konferensi pers. Merah padam wajah Pak SBY bisa dicatat, direkam dan dinikmati.

Comment di sini