Berbagilah, Meski Sebatas Obrolan!

by
December 24th, 2014 at 4:35 pm

CiriCara.com – Jadilah tangan yang mengulur. Jadilah telinga yang mendengar. Jadilah tutur yang bisa membangkitkan harapan dan optimisme. Jadilah manusia yang memanusiakan. Menjadi insan yang selalu mensyukuri nikmat sekecil dan sesederhana apapun itu. Berbagilah, meski itu hanya obrolan dan tanya kabar. Karena lewat hal yang acap kita pandang sepele, kita belajar menjadi bagian dari sesama. Menjadi sesama yang tak pandang label atau status sosial. Itulah sederet nasihat sederhana tapi mengena dari seorang teman yang saya terima siang menjelang sore, kala langit mendung menjelang hujan via blackberry messenger.

ngobrol di warung kopi

Ngobrol di Warung Kopi – Ist/mythzmoiselle/blogspot

Benar saja hujan turun. Cukup deras. Bahkan sesekali geledek terdengar nyaring. Saat hujan, apalagi dengan deras, kebiasaan untuk merenung sejenak sulit untuk ditampik. Namun memang merenung barang beberapa menit sangat diperlukan. Katakanlah itu sekedar cara sederhana untuk kontemplasi dan refleksi. Di temani segelas kopi pengusir hawa dingin yang dibawa semilir angin berbaur serpihan tipis lidah hujan, pikiran menerawang, mengingat-ngingat jejak dan laku yang sudah terlewat.

Duduk di sebelah saya, Pak Wawan, lelaki tua yang ramah asal dari salah satu kabupaten di Jawa Barat. Karena hujan cukup deras, saya ‘terpaksa’ mesti menepi ke pinggir jalan, berteduh di sebuah kios rokok sederhana. Untungnya, kios rokok milik Pak Wawan, menyediakan kopi seduh. Maka, prosesi kontemplasi sembari menunggu hujan pun terjadi. ” Berbagilah, meski itu hanya sebatas obrolan,” sepenggal nasihat itu kembali terngiang.

Saya lihat wajah Pak Wawan, seperti sedang tapakur. Mulutnya nampak komat-kamit. Tangannya seperti sedang menghitung sesuatu. Oh, mungkin beliau sedang berdzikir. Ah, lelaki yang religius sepertinya. Sempat ada ragu untuk memulai obrolan. Takut menganggu. Tapi nasehat sang kawan kembali terngiang jelas. Maka dengan hati-hati saya mencoba mengawali obrolan. Intinya menanyakan, dan mengenalkan diri.

Ternyata, mujarab, Pak Wawan antusias menyambut. Dari obrolan itu pun, nama Pak Wawan bisa saya ketahui. Asal usul, umur, istri sampai jumlah anak pun meluncur di tutur Pak Wawan. Ternyata, ia satu kabupaten dengan saya, kabupaten Kuningan, salah satu kabupaten di Jawa Barat. Hanya saya dan dia, berbeda kecamatan, yang berjarak cukup jauh. Mungkin karena merasa satu ‘kampung’, Pak Wawan nampak begitu gembira. Seakan saya ini adalah tetangga sebelah rumahnya. Ia pun tanpa diminta, banyak bercerita. Suka duka selama di Jakarta ia kisahkan dengan runut.

Saya pun jadi pendengar yang baik yang sesekali ikut menimpali ceritanya. Obrolan pun sudah seperti antar dua kawan karib yang lama tak bersua. Saya pun, sampai harus bercerita tentang gula darah saya yang naik. Tanpa diminta, ia memberi solusi alternatif. Katanya, pakai bunga pepaya saja pak, di giling halus (diblender), lalu airnya diminum. Atau kalau zaman sekarang di jus. “Tetangga saya ada yang minum itu rutin pak, Alhamdulillah gula darahnya turun,” kata Pak Wawan.

Comment di sini