Berbagi Lewat Sampah ‘ala’ Istri Saya

by
January 6th, 2015 at 8:38 am

CiriCara.com – Sejak saya pindah ke rumah sendiri, setelah sekian lama ‘numpang’ di komplek ‘mertua indah’, ada kebiasaan baru istri saya yang saya cermati. Alhamdulillah, setelah sekian lama ‘ngirit’, ketatkan ikat pinggang berhemat dengan sangat, akhirnya doa saya dikabulkan Tuhan, Kredit Kepemilikan Rumah yang diajukan disetujui bank. Senang rasanya bisa pindah ke rumah sendiri, meski rasa KPR, tapi milik sendiri. Tugas berat berikutnya ya mencicil KPR hingga 10 tahun. Tidak apalah, yang penting sekali lagi, itu rumah milik sendiri.

berbagi

Mari Berbagi – Ist

Kembali ke kebiasaan baru istri saya setelah ‘hijrah’ ke rumah sendiri. Kebiasaan istri saya itu, rajin sekali mengumpulkan barang atau sampah, entah itu dus atau kotak bekas susu formula, botol eks air mineral, koran, kertas dan lainnya. Bahkan mainan anak saya yang terbuat dari plastik yang sudah rusak, tak luput diamankan. Ditumpuk, di kardus besar. Sampai penuh.

Suatu waktu, saya sempat menanyakan kenapa rajin mengumpulkan ragam sampah itu. Kenapa tak langsung saja dibuang ke tong sampah, biar dibawa petugas kebersihan yang rutin mengangkut sampah di perumahan saya. Ini jawaban istri saya. Katanya, sampah-sampah dikumpulkan, agar ia bisa berbagi rezeki dengan orang lain. Saya pun tak lagi banyak tanya.

Sampai kardus besar belakang rumah pun penuh terisi sampah. Istri saya kemudian ‘bertitah’. ” Ayah coba panggil satpam ke sini. Bilang ada barang bekas gitu,”

Karena itu titah istri tercinta, wajib dilaksanakan. Apalagi titahnya adalah titah untuk kebaikan, haram untuk ditolak, dan ditunda-tunda. Maka saya pun sigap mengiyakan melaksanakan titahnya. Meluncurlah saya ke pos satpam. Di pos satpam, tampak Pak Pendi, anteng nongkrong mengawasi depan perumahan. Segelas kopi tampak isinya tinggal setengah.

Pak Pendi, terlihat rada kaget, melihat saya tergopoh masuk pos satpam. “Tumben pak, ada apa ni?” sapa Pak Pendi, begitu saya sudah di dekatnya.

Tanpa basa-basi yang diplomatis, saya langsung bicara tentang isi ‘titah’ istri saya. Pak Pendi juga langsung sigap mengiyakan, siap datang ke rumah saya. Hanya ia perlu mengontak koleganya Mas Iwa, satpam lainnya yang bertugas dengannya hari itu. “Saya panggil Iwa dulu ya pak, biar tak kosong pos ni,” kata Pak Pendi.

Ia pun langsung menelpon Mas Iwa, yang berjaga di belakang perumahan. Tak selang berapa lama, nampak Mas Iwa datang menaiki sepeda motor. Setelah memarkirkan motornya, tergopoh Mas Iwa menghampiri saya dan Pak Pendi di pos satpam.

” Ada apa Pen?” tanya Mas Iwa.

To the point, Pak Pendi menerangkan maksudnya memanggil Mas Iwa. Mas Iwa pun langsung paham. “Ya udah biar saya jaga dulu ini pos,” kata Mas Iwa setelah mendengar paparan to the point Pak Pendi.

Setelah itu, saya dan Pak Pendi, dengan mengendarai motor masing-masing langsung bergegas menuju rumah saya. Setelah tiba, saya langsung mempersilahkannya menuju ke belakang rumah. Sudah ada istri saya menunggu di belakang. Begitu lihat Pak Pendi sudah datang, istri saya langsung berkata, “Pak, ini ada sampah-sampah bekas, mungkin bisa dijual, ya lumayan untuk ngopi-ngopi,”

“Oh ya bu, terima kasih banyak,” jawab Pak Pendi. Pak Pendi pun langsung mengepak kardus-kardus berisi ‘sampah istri saya’. Ada dua kardus besar, berisi ragam dan macam sampah. Diangkatnya lalu ia gotong menuju depan rumah. Dengan cara mencicil, Pak Pendi bolak-balik membawa sampah-sampah itu ke pos, sampai habisnya. Penasaran, setelah Pak Pendi pergi dengan bawaan terakhirnya, saya ikut pergi ke pos satpam.

Comment di sini