Kontroversi Ibu Menteri Akan Jual Gedung

by
January 6th, 2015 at 9:19 am

CiriCara.com – Ibu Rini Soemarno, Menteri BUMN yang saya hormati. Selamat petang menjelang malam Ibu Rini. Sehat? Semoga sehat wal afiat. Bila Ibu tak sehat, tentu Pak Jokowi akan rugi. Tugas Ibu teramat berat. Sebagai Menteri BUMN, tentunya Ibu punya pekerjaan yang berlipat beban. Ibaratnya, Ibu didapuk untuk jadi raja midas untuk menyentuh dan memoles perusahaan-perusahaan plat merah agar jadi emas. Jadi penghasil pundi bagi negara. Tentu bila sudah banyak pundi, Pak Jokowi setidaknya tak akan pusing, negara akan kekurangan modal ‘menyuapi’ rakyatnya.

gedung bumn

Gedung BUMN – Ist

Sekali lagi semoga ibu sehat walafiat. Tak sedang terserang flu, atau badan lagi meriang. Bisa berabe bila ibu masuk angin misalnya. Bisa-bisa BUMN pun ikut-ikutan masuk angin. Kenapa ibu saya doakan tak masuk angin, karena penyakit ini seakan jadi penyakit langganan di kementerian yang Ibu pimpin.

Kemarin, dan juga hari ini telinga saya kok rasanya tidak enak mendengar suara-suara tentang Ibu. Katanya Ibu mau jual gedung kementerian BUMN. Ke Pak Ahok (Basuki Tjahja Purnama), Ibu tawarkan itu. Mungkin niat menjual gedung kementerian berangkat dari tekad mulia ibu, agar bisa hemat. Dengan hemat, ada uang yang bisa disimpan. Efesiensi dan efektivitas, mungkin itu tujuan Ibu. Sangat baik Ibu. Karena efesiensi adalah lawan dari pemborosan. Pepatah pun bilang, hemat pangkal kaya. Tak ada hemat pangkal rugi. Kecuali hematnya orang kecil. Hemat karena terpaksa.

Seperti kata Ibu, kementerian BUMN fokusnya mengelola perusahaan plat merah. Bukan mengelola gedung. Jadi, karena ingin fokus itulah, gedung sebaiknya dilego. Apalagi, masih kata Ibu, banyak ruangan kosong. Sementara pegawai kementerian hanya 250 orang. Intinya, penghematan. Sungguh tekad yang sangat mulia. Semoga, karena itu, banyak ruang mubazir, maka harus dijual. Semoga bukan karena Ibu ‘hobi’ jual aset.

Dengan menjual gedung, tentunya nanti akan ada dana didapat. Tapi, dengan catatan gedung cepat laku, dan harga memang menguntungkan. Ibu berdoa saja, Pak Ahok bisa menawar dengan harga tinggi. Pada Ahok pun saya mohon, menawarlah dengan harga yang pantas sesuai pasar. Jangan menawar murah, biar Ibu menteri senang. Apalagi ini gedung 21 lantai, di pusat jantung kota pula. Harganya pasti super mahal. Bila tak ratusan milyar, mungkin bisa menyentuh trilyunan rupiah.

Tapi yang mengganggu, kata menjual itu. Sepengetahuan saya, menjual barang apalagi aset berharga, adalah langkah terakhir yang tak pernah sekalipun tersangkut dalam pikiran. Ini langkah terpaksa yang harus diambil karena kepepet. Dulu saya pernah terpaksa jual hape, padahal itu salah satu aset berharga saya. Ya, karena kepepet butuh bayaran anak sekolah yang jatuh tempo, terpaksa saya lego, itu pun setelah ditawar kiri kanan. Harganya pun, tak sesuai harapan. Namanya juga jual hape bekas.

Ketika kepepet, lalu terpaksa melego aset yang berharga, saya merasa gagal jadi orang berhasil. Saya merasa inilah salah satu fase hidup, yang seperti ‘kiamat kecil’. Ini salah satu fase kegagalan hidup saya yang menyesakan dada. Beda, bila menjual untuk membeli barang baru yang lebih canggih. Tapi itu pun menurut saya, belum sepenuhnya bisa disebut sukses. Karena kalau sukses, ia tak perlu menjual, namun justru menambah koleksi. Apalagi bila barang itu adalah aset yang punya nilai sejarah. Barang lama disimpan, barang baru jadi dimiliki. Itu menurut saya yang disebut kesuksesan. Ini gedung pula, bukan hape.

Comment di sini