Cinta Ditolak, Beras Kencur yang Ditenggak

by
January 7th, 2015 at 10:36 am

CiriCara.com – Tulisan ini, adalah rekaman dari jejak lawas saya kala masih berstatus mahasiswa. Ini kisah, saat saya menuntut ilmu di Program Diploma III Fisip Universitas Padjadjaran yang kampusnya di Jatinangor. Kalau ingat episode cerita ini, saya selalu mesem-mesem. Dari pada hanya diingat dalam benak, lebih baik saya abadikan dalam tulisan. Begini ceritanya…

cinta ditolak

Akibat cinta ditolak – Ist

Walau saya mahasiswa dari desa, tapi saya juga manusia dan lelaki biasa. Lihat mahasiswi cantik mata membeliak, lalu berkhayal, andai dia jadi kekasih tercinta. Ahhhh… Betapa indahnya kalau itu terjadi.

Tapi salah satu problem, yang membuat saya harus berpikir ulang untuk jatuh cinta, adalah ‘keuangan’ sebagai mahasiswa dari desa yang bukan dari keluarga berada. Jatah kiriman, hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan primer saya sebagai mahasiswa. Soal kebutuhan sekunder, apalagi berani jatuh cinta, itu nanti saja. Tak berani saya untuk berspekulasi.

Karena bayangkan, kalau pacaran, tentu banyak biaya tak terduga. Apa yang mau dikorupsi coba, untuk biaya itu. Kalau pejabat kan masih mungkin, setip, selip dan catut anggaran. Palingan “mengkorupsi” uang kiriman, dengan resiko ada kebutuhan primer yang terpaksa tak dialokasikan anggaran. Bahaya kalau itu terjadi, sama saja pertaruhkan karir kemahasiswaan saya.

Tapi itu tadi, walau berasal dari desa, tapi tetap lelaki biasa. Punya hati dan perasaan (jieleee). Punya keinginan, kalau malam minggu tak hanya ngendon di kosan dengerin wayang golek semalam suntuk, tapi berapel ria seperti dicerita dan sinetron remaja.

Satu waktu, ada teman saya yang juga berasal dari desa. Kebetulan juga kawan sekelas juga kawan satu kosan. Ia perlu utarakan isi hati, pada salah seorang mahasiswi, teman sekampus. Bahkan sekelas. Ia pun lalu bermanuver. Mencari dukungan politik cintanya. Akhirnya kawan koalisi, teman-teman satu kosan, yang mendukung all out proyek penembakan cinta itu, didapatkan.

Dirancanglah strategi. Setelah didahului, rapat dengar pendapat dengan kawan-kawan, keluarlah rekomendasi, bikin surat cinta. Tim panitia khusus surat cinta dirancang. Jadilah tiga lembar surat cinta berisikan rayuan maut he…he… Rayuannya dikutip dari berbagai buku. Ngutip puisi rendra dan kahlil gibran. Yahud pokoknya isinya. Bahkan biar mulus, dibentuk tim lobi, yang tugasnya mencari momen tepat untuk serah terima surat cinta.

Tim lobi, sudah berangkat duluan. Tujuannya mencoba mengkondisikan agar surat cinta itu sampai dengan momen yang tepat. Biar romantis gitu.

Saya kebagian jadi tim lobi itu. Ya basa-basi dengan ‘mangsa’ serta mencari momen tepat agar surat cinta itu sampai ke tujuan. Momen pulang kuliah, disetujui sebagai waktu yang tepat untuk serah terima surat cinta.

Akhirnya berhasil juga surat cinta itu diserah terima kan pada yang bersangkutan. Wuhhh, kerja hampir selesai. Tinggal tunggu balasan, apakah gayung bersambut cinta, atau justru bersambut guyuran air penolakan. Biarlah harus dicoba, bukankah mencoba lebih baik dari pada diam. Karena urusan cinta, harus diungkapkan, bukan malah menganut falsafah diam itu emas.

Ternyata balasan cukup cepat. Hanya selang satu hari balasan diberikan. Satu amplop mungil diterima oleh salah seorang tim sukses ‘katakan cinta’. Tak sabar pulang kuliah, semua tim sukses dan calon kandidat sudah ngumpul disalah satu kamar, di kosan tempat base camp kami, mahasiswa perantauan.

Comment di sini