Dipimpin Perempuan, Tapi Angka Kematian Ibu Tinggi

by
January 7th, 2015 at 8:20 am

CiriCara.com – Tanggal 22 Desember, yang lalu, diperingati sebagai Hari Ibu. Harinya, orang yang telah melahirkan kita. Hari emak, hari mamah, hari mimih, apapun sebutannya, tapi itu hari bagi perempuan yang telah berjuang mempertaruhkan nyawanya demi kelahiran si buah hati.

kematian ibu hamil

Ibu Hamil – Ist

Pada tanggal 22 Desember di email saya mampir pesan yang dikirimkan Mbak Mumtahanah. Mbak Mumtahanah ini adalah Direktur Lembaga Bantuan Hukum Apik Banten. Jadi Mbak Mumtahanah ini adalah aktivis bantuan hukum. Isi pesan Mbak Mumtahanah itu tentang peringatan hari Ibu. Pesannya berjudul “Meluruskan Kembali Hari Ibu”.

Menurut Mbak Mumtahanah, hari Ibu yang ke- 86 ini, jika dilihat dari sejarahnya, agak kurang tepat bila disebut “Hari Ibu”. Lebih tepat kalau hari Ibu, kata Mbak Mumtahanah disebut sebagai “Hari Kebangkitan Perempuan”.

Masih menurut Mbak Mumtahanah, banyak masyarakat yang kurang paham mengenai sejarah hari Ibu. Ia pun kemudian menjelaskan sekelumit sejarah “Hari Ibu”. Kata Mbak Mumtahanah, pada Kongres Perempuan pertama, 22 Desember 1928 salah satu yang diperjuangkan para peserta kongres adalah perbaikan kedudukan perempuan secara umum. Bukan kedudukan perempuan secara individu.

Jadi kata Mbak Mumtahanah, dengan memilih istilah “Hari Ibu”, posisi perempuan sebagai “individu seorang ibu” diangkat sebagai yang paling penting. Kata dia, dengan posisi seperti yang ditonjolkan bukan peran perempuan sebagai pejuang kepentingan kaumnya dalam arti yang lebih luas seperti memperjuangkan akses anak perempuan pada pendidikan, hak untuk menikah tanpa paksaan, dan bebas dari kekerasan dan poligami.

Selain itu, kata Mbak Mumtahanah, penggunaan istilah “Hari Ibu” juga menitikberatkan perempuan sebagai individu dalam perannya sebagai seorang Ibu. Mbak Mumtahanah pun menyayangkan, publik sudah terlanjur mengenal 22 Desember sebagai Hari Ibu. Ia pun mengajak, “Mari jaga makna Hari Ibu agar tidak mengalami distorsi,” kata Mbak Mumtahanah dalam pesan yang dikirimkannya ke email saya.

Ditambahkannya, dalam konteks kekinian, perjuangan perempuan difokuskan pada pengurangan angka kematian ibu. Perjuangan yang tak kalah penting, kata Mbak Mumtahanah adalah penghapusan kekerasan terhadap perempuan seperti kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan seksual dan kekerasan negara melalui kebijakan-kebijakan yang mendiskriminasikan perempuan.

Mbak Mumtahanah pun kemudian membeberkan fakta nasib dan kondisi kaum perempuan dengan mengambil sampel fakta di Banten. Kata dia, pada 2014, angka kematian Ibu di Provinsi Banten menduduki posisi kelima secara nasional, yakni mencapai 189 per 100.000 kelahiran hidup. Sementara angka kematian bayi sebanyak 818 kasus. Menurutnya penyebab tingginya angka kematian Ibu dan bayi di provinsi yang dikenal dengan tanah para jawara, karena jumlah penduduk yang tinggi, tapi fasilitas pelayanan kesehatan masih sangat kurang. Ditambah kondisi sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat di Banten.

Tentu ini fakta yang ironis, karena Banten adalah provinsi yang pertama kali dipimpin gubernur perempuan. Lebih ironisnya lagi, ibu gubernur itu sekarang tersangkut kasus korupsi dan sudah meringkuk di tahanan. Silahkan tebak, siapa gubernur perempuan yang masuk bui karena korupsi yang beritanya pernah begitu menggegerkan jagad pemberitaan.

Fakta lain kata Mbak Mumtahanah yang membuatnya semakin miris, berdasarkan catatan tahunan Komisi Nasional Perempuan di 2011, kasus kekerasan terhadap perempuan di Banten mencapai 4.154 kasus.

Duh, memang ironis dan bikin miris yahhhh apa yang diungkap Mbak Mumtahanah. Provinsi yang pernah dipimpin seorang Ibu, justru angka kematian Ibu begitu tinggi.

Saya pun bertanya-tanya, apa si Ibu gubernur yang sekarang dibui itu tak punya naluri seorang ibu, seorang perempuan? Karena yang saya tahu, ketika si ibu itu lagi ramai-ramainya diberitakan, untuk belanja kerudung saja sampai harus ke Mesir. Mungkin bagi si ibu gubernur yang tak lagi jadi gubernur itu, bersolek diri lebih penting ketimbang memikirkan kaumnya. Ironis kalau begitu. Benar-benar bikin hati miris.

Penulis: Agus Supriyatna

Comment di sini