Jaipongan: Tradisi Kesenian yang Kian Tergusur

by
January 8th, 2015 at 9:32 am

CiriCara.com – Jaipongan adalah sebuah tradisi kesenian yang mengakar di Tanah Parahiyangan. Kesenian itu menampilkan, Pesinden yang akan melantun lagu yang dipesan. Juga Pesinden yang akan tampil dengan aksi tari jaipongannya mengiringi lagu. Lagu dalam langgam jaipongan berbahasa Sunda. Yang terkenal dan paling saya ingat adalah lagu “Adu Manis”. Tariannya yang tenar adalah Ketuk Tilu. Akar itu kini, tercerabut.

jaipongan

Tari Jaipongan – Ist/Wikipedia

Mendiang ayah saya, kala masih jumeneng, adalah penggemar dari jaipongan. Selain suka pada musik degung, kesenian Sunda lainnya, juga kacapian, kesenian yang juga dari Tanah Parahiyangan. Sayang, ayah saya, tak sempat menyaksikan kesenian yang digandrunginya mulai berubah wajah. Bermetamorfosis, karena desakan jaman. Padahal, kala ayah saya masih ribut, kesenian jaipongan, dengan wayang golek, adalah dua tradisi kesenian favorit yang kerap ditanggap orang yang punya hajatan khitanan atau kawinan.

Kini, memang kesenian itu masih ada. Grup jaipongan, kala saya kecil laris ditanggap, juga masih eksis. Namun, kini tak lagi menampilkan Sinden yang merdu melagukan lagu Langgam Jaipongan. Tak ada lagi tarian ketuk tilu dan lagu Adu Manis. Kini berganti “Keong Racun” dan “Cinta Satu Malam”.

Tak ada lagi sinden yang berkebaya dan bersanggul, serta piawai menarikan tari jaipongan. Kini grup kesenian jaipongan yang dulu laris itu, tak lagi menampilkan itu. Yang tampil ada biduan berbaju seksi, minim dengan tampilan seronok. Bergoyang “ngebor” atau “patah-patah”, ala Inul atau Dewi Persik. Desakan jaman dan selera telinga memang membuatnya mesti mengalah pada kondisi.

Gamelan pun kini banyak nganggur, digantikan organ, drum, ketipung, dan gitar listrik. Tak ada lagi, Jaipong, nyaris tak pernah lagi, yang hajatan menanggap kesenian itu. Kini, goyangan dangdut yang mengharu biru.

Mau apalagi, bila tradisi memang tak jadi selera telinga dan rasa anak muda. Pun di kampung saya. Anak muda, lebih gandrung dan suka naik panggung di iringi musik dangdutan, dan goyangan genit sang biduan. Jarang anak muda, yang lihai ngarengkenek menarikan tari jaipong. Bahkan mungkin, tak ada lagi.

“Ketuk Tilu” pun tinggal jejak. “Adu Manis” juga tak lagi manis. Keong Racun dan Cinta Satu Malam, itu yang sering dipesan para anak muda. Bergoyang, dengan lembaran rupiah terselip di jari tangan untuk menyawer sang biduan. Mau apalagi, itulah kenyataannya, yang tradisional kian terdesak. Mungkin, kelak, hanya tinggal cerita saja yang didongengkan menjelang tidur.

Padahal di negeri sebrang, jaipongan digemari. Dianggap kesenian eksotis. Banyak bule yang belajar ingin menguasai. Di sini, kebalikan. Anak muda lebih ingin hapal lagu dangdut dan pop rock. Televisi pun tak bersahabat. Metamorfosis jaipongan, ujungnya mungkin kepunahan.

Comment di sini