Jangan Menilai Orang dari Ijazahnya

by
January 8th, 2015 at 9:01 am

CiriCara.com – Tulisan ini, sebenarnya saya buat sekitar bulan September 2013. Jadi sudah basi. Tapi tadi malam saya iseng-iseng buka-buka folder data di komputer jinjing muncul tulisan ini. Ah daripada ngendon di folder laptop, alangkah baiknya bila di share saja. Untung ada Ciricara.com, jadi tak pusing mau lempar kemana hasil racikan tangan dan pikiran saya ini. Agar lebih update, saya sangkutpautkan dengan fakta yang lebih fresh. Cerita yang saya tulis ini tentang Mbak Nikita Mirzani yang sexy dan bahenol nerkom dan Neng Zaskia Gotik si pemilik goyang itik. Begini ceritanya.

kerja

Ist

September 2013, muncul berita yang banyak dikutip media-media online. Di televisi pun, terutama di acara infotainment juga ramai ditayangkan. Berita itu tentang Mbak Nikita Mirzani ‘ngenye’ Neng Zaskia Gotik. Kata artis seksi kontroversial itu, Mbak Zaskia, si pemilik goyang itik itu adalah artis dangdutan cabutan. Pendek kata, eks tunangan ‘ahli bahasa baru’ Vicky Prasetyo itu, menurut Mbak Nikita, tenar dengan instan. Bahkan, Mbak Nikita juga mengungkit latar pendidikan Neng Zaskia yang katanya hanya lulusan Sekolah Dasar.

Kisah selanjutnya, Neng Zaskia, ‘mewek’, merasa tersinggung dengan ucapan Mbak Nikita yang memang mencibir. Mbak Nikita sendiri, saat dimintai tanggapannya oleh wartawan hiburan, tentang Neng Zaskia yang menangis, hanya menjawab enteng. “Terus kenapa?,”

Saya sebenarnya tak begitu tertarik dengan cerita artis seperti itu. Tapi, entahlah kok cibiran Mbak Nikita menggelitik, memaksa tangan untuk genit menulis. Neng Zaskia lulusan SD. Neng Zaskia, artis instan. “Lalu kenapa, kalau Neng Zaskia lulusan SD. Apa tak boleh lulusan SD jadi artis dangdut?”

Ya, pertanyaan genit itu yang hinggap di otak saya. Dan, lalu kenapa kalau Neng Zaskia tenar tiba-tiba? Apa salah?

Terus terang saya merasa lucu saja mencermati cerita yang disuguhkan dari panggung hiburan, dengan aktornya Mbak Nikita dan Neng Zaskia. Mba Nikita, di kampung saya, banyak lulusan SD, ternyata berhasil kehidupannya, setidaknya dari sisi ekonominya. Saya kira itu tak salah. Mereka yang sukses hanya bermodalkan ijasah SD, justru hebat. Ijasah boleh SD, otak mungkin lebih hebat dari yang berijasah sarjana.

Yang salah itu, ijasah sarjana, tapi otak koruptor. Di negeri ini banyak seperti itu. Kalau sempat, Mba Nikita boleh sekali-sekali menengok ke KPK, yang korupsi, kebanyakan berijasah sarjana. Tapi, banyak juga yang sarjana baik hati dan tak korupsi.

Toh, Tukul saja ijasahnya bukan S3, tapi dia tenar dan sohor, kaya pula dan masuk jajaran artis berpenghasilan mapan. Jadi, menurut saya yang bukan pengamat artis, janganlah menilai orang itu dari ijazahnya. Terus, kalau Neng Zaskia tenar dengan instan, tak ada yang salah juga. Mau cepet mau bertahap, faktanya Neng Zaskia itu sekarang terkenal, mau apalagi, kenyataannya seperti itu. Mungkin, karena lagunya mengena di banyak telinga orang, karena itu Neng Zaskia cepat tenar.

Saya sendiri tak mau meributkan Neng Zaskia itu tenar dengan cara instan atau tidak. Kalau meributkan ketenaran orang, bisa-bisa saya dituduh iri. Iri kan tanda orang tak mampu..he..he..he

Jadi biarkan Neng Zaskia tenar. Biarkan ketenarannya sejauh mana. Toh, pasar yang akan menentukan. Tak usah ribut. Mau dia tenar dengan cara bergoyang, atau duduk, atau melonjak-lonjak, itu mah soal cara saja. Bila dengan goyang, lalu cepat tenar, lalu kenapa? Mba Nikita juga kalau mau tenar, silahkan tak ada yang larang. Mau dengan cara apa saja silahkan, asal jangan dengan cara yang melanggar hukum. Tak baik, karena tak memberi contoh yang bisa diteladani.

Dan, sekarang di tahun 2014, kita punya menteri yang hanya lulusan SMP, yaitu Ibu Susi Pudjiastuti. Bahkan mungkin menurut saya, Ibu Susi yang lulusan SD ini paling tenar bin paling populer diantara menteri-menteri lainnya di kabinet kerjanya Pak Jokowi. Tapi Ibu Susi, tenar bukan karena blundernya. Bukan populer karena kesalahannya. Namun Ibu Susi populer, karena keberaniannya. Ibu Susi ini bukan menteri yang pandai berwacana, tapi dia pembantu presiden yang tegas bertindak. Penenggelaman kapal adalah salah satu karya Ibu Susi. Jadi buat Mbak Nikita, saya sarankan ralat penilaian terhadap orang berdasarkan ijasah. Orang bijak bilang, jangan lihat buku dari covernya, tapi nilailah buku dari isinya.

Ya, tapi yang saya catat Mbak Nikita itu lebih dikenal orang karena ‘covernya’. Terakhir Mbak Nikita bikin heboh, tampil ‘menantang’ di pengadilan agama, kala mengurus perceraian. Bahkan, sampai-sampai Mbak dipanggil Komisi Yudisial, diklarifikasi karena dianggap ‘merendahkan’ martabat para hakim.

Penulis: Agus Supriyatna

Comment di sini