Dalam Satu Hari, Dilantik Sekaligus Diberhentikan

by
January 13th, 2015 at 2:54 pm

CiriCara.com – Di negeri bernama Indonesia, yang unik bejibun. Mungkin tak terhitung, sebanyak jumlah penduduk dan seberwarna suku serta etnis yang mendiami barisan Kepulauan Nusantara, bernama Indonesia. Jadi tak usah mencari yang unik dari negeri tetangga, atau jauh-jauh ke negeri yang asing nun jauh di sana.

jefferson

Jefferson – Ist

Salah satu keunikan adalah kisah satu ini yang hendak saya tuturkan. Ini kisah unik aseli buatan anak negeri. Tapi kisah unik ini, saya minta jangan jadikan dongeng pengantar si Upik tidur. Bukan karena kisahnya horor dan menakutkan, yang bisa membuat mimpi buruk hadir dalam lelap. Bukan, bukan cerita tentang kuntilanak, genderewo atau lainnya, meski itu juga salah satu keunikan di negeri ini. Ini cerita atau kisah nyata yang tak patut dicontoh. Cerita tentang anak negeri yang diberi mandat lalu khianat.

Ya ini cerita, anak bangsa yang didaulat jadi pemimpin lalu korupsi, setelah itu masuk bui. Lalu dimana uniknya, toh korupsi adalah cerita yang bukan lagi luar biasa. Uniknya, begini.

Namanya, Jefferson Soleman Montesquieu Rumanjar. Dia masih terbilang muda. Gagah pula. Hidupnya makin sempurna, kala ia terpilih sebagai Wali Kota Tomohon pada 2005. Di tangannya perubahan diharapkan bisa lahir. Rakyat Tomohon berharap, di tangan pemimpin muda, kehidupan akan lebih baik lagi. Tomohon pun bisa jadi kota yang sejahtera dan maju.

Namun syahwat kekuasaan selalu menggoda pemimpin berbuat lancung. Jefferson termasuk salah satu pemimpin yang tak tahan godaan. Padahal, kepercayaan publik Tomohon pada Jefferson masih cukup besar. Faktanya pada 2010, ia kembali terpilih jadi Wali Kota. Tapi ternyata, KPK mengendus jejak lancungnya saat menjabat Wali Kota di periode pertamanya. Jefferson pun terpaksa dicokok ke Rasuna Said. Lalu di jebloskan ke LP Cipinang karena terlibat dalam kasus korupsi APBD Kota Tomohon tahun 2007.

Harusnya tahun 2011, menjadi tahun sumringah bagi Jefferson. Sebab, ia akan kembali dilantik jadi orang nomor satu Tomohon untuk kedua kalinya. Tapi, belum juga dilantik, ia keburu dicokok KPK, karena terjerat kasus korupsi. Maka sejarah pun ia ukir, menjadi Wali Kota pertama di Indonesia yang dilantik langsung dipecat (dicopot). Bahkan, pencopotan hari itu juga berbarengan dengan pelantikannya. Pelantikannya pun dilakukan di Jakarta, di gedung Kementerian Dalam Negeri.

Sungguh pemandangan ironis saat pelantikan Jefferson. Ia datang dari LP Cipinang, memakai mobil tahanan dengan kawalan ketat. Lalu berganti baju putih-putih, baju kebesaran Wali Kota. Ia pun kemudian dilantik. Tapi setelah itu, baju putih ditanggalkan, Jefferson kembali lagi ke LP Cipinang.

Menurut Gamawan Fauzi, yang saat itu menjadi Mendagri, pelantikan Jefferson berbarengan dengan pencopotannya. Jadi Jefferson, menerima dua SK sekaligus dalam waktu bersamaan. Satu SK, berisi tentang keputusan pelatikan. Satu SK lainnya, berisi keputusan pencopotan Jefferson dari jabatan Wali Kota Tomohon.

Nasib serupa dialami Yusak Yaluwo, Bupati Kabupaten Boven Digoel terpilih. Yusak pun terpaksa harus dilantik di Jakarta, karena sudah berstatus sebagai tahanan dalam kasus korupsi yang menjeratnya. Sama seperti Jefferson, begitu selesai dilantik saat itu juga Yusak menerima SK penonaktifannya. Jadi dalam waktu bersamaan, dua SK dikantongi Yusak. Satu SK tentang pelantikannya, satunya lagi berisi tentang keputusan penonaktifannya sebagai Bupati.

Mungkin, hanya hitungan setengah jam-an, Yusak jadi Bupati terpilih, tapi setelah itu ia sudah diberhentikan. Padahal, jika tak terjerat kasus korupsi, Yusak sudah tersenyum bangga, menjadi Bupati, menempati rumah dinas dan dapat kendaraan operasional kepala daerah yang kinclong. Namun perbuatannya ‘mencatut’ uang negara membuat mimpi indahnya langsung buyar. Bukan rumah dinas dan kendaraan kinclong yang dinikmati, tapi ia justru mesti menghuni bui.

Cerita serupa pun kembali terjadi, saat KPK membongkar kasus suap yang melibatkan Akil Mochtar yang saat itu menjabat Ketua Mahkamah Konstitusi. Mahkamah Konstitusi adalah pihak yang berwenang memutuskan sengketa hasil pemilihan kepala daerah. Saat itu, salah satu kasus sengketa hasil pemilihan yang di tangani mahkamah adalah sengketa hasil Pilkada di Kabupaten Gunung Mas.

Menurut hasil perhitungan KPU setempat, Hambit Bintih adalah calon kepala daerah terpilih. Entah karena takut kalah di MK, Hambit pun berupaya menyuap Akil. Pada akhirnya, mahkamah menguatkan kemenangan Hambit. Tapi apa daya, KPK keburu mengendus perbuatan Hambit. Publik pun geger, ketika penyidik KPK menggelandang Akil dari rumah dinasnya. Ikut ditangkap pula dari tempat berbeda, dalam waktu hampir bersamaan adalah Hambit Bintih, Bupati terpilih Kabupaten Gunung Mas.

Maka buyarlah mimpi Hambit jadi Bupati Gunung Mas. Nasib Hambit pun akhirnya sesial Jefferson dan Yusak. Hambit terpaksa dilantik di Jakarta. Tapi, sekaligus bersamaan dengan hari pelantikannya, Hambit menerima pil pahit, dinonaktifkan dari jabatannya sebagai Bupati.

Mungkin cerita yang ironis itu, hanya ada di Indonesia. Cerita yang tak layak jadi contoh. Dalam satu hari, dilantik sekaligus diberhentikan. Ini fakta unik, tapi fakta unik yang bikin mual dan muak.

Penulis: Agus Supriyatna

Comment di sini