Indonesia Bangsa yang “Kagetan”

by
January 13th, 2015 at 9:16 am

CiriCara.com – Malam Minggu, tepatnya Sabtu malam, 27 Desember 2014 menjelang masuk ke hari Minggu, 28 Desember 2014, saya sempat mengobrol dengan Pak Deni Aprili. Beliau ini bukan pakar, atau pengamat. Tapi Pak Deni adalah tetangga saya. Dia tinggal satu komplek perumahan dengan saya, hanya berbeda blok.

banjir di jakarta

Banjir Jalan Panjang Green Garden, Jakbar – @TMCPoldaMetro

Malam Minggu itu, saya mengobrol dengannya di pinggir pos satpam di depan perumahan tempat saya tinggal. Sambil ditemani segelas kopi manis, obrolan berlangsung cukup seru. Saat mengobrol, saya lebih banyak berposisi sebagai pendengar. Pak Deni-lah yang banyak menerangkan. Salah satu tema yang diobrolkan adalah tentang maraknya bencana yang terjadi di Indonesia, negeri yang saya cintai dan pastinya dicintai pula oleh Pak Deni.

Pak Deni bicara bencana sudah bak pakar saja. Ia begitu bersemangat mengurai pendapatnya dibumbui dengan petuah-petuahnya. Dengan takzim saya menyimaknya. Pak Deni tak sadar, bila omongannya saya rekam. Usai mengobrol dengannya, di rumah saya kembali mendengarkan ulang rekaman pembicaraan dengan Pak Deni. Cukup menarik. Karena itu saya putuskan, alangkah baiknya bila saya dokumentasikan dalam sebuah tulisan.

Ketika mengawali obrolan tentang bencana, Pak Deni langsung mengeluarkan kalimat yang lumayan menohok. Katanya, bangsa ini bangsa kagetan. Bangsa yang terkaget-kaget ketika sudah terjadi bencana. Baru setelah itu bertindak. Dalam bahasa dia, bangsa ini bangsa yang bertindak setelah ada kejadian. Karena polanya seperti itu wajar kata Pak Deni, bila bencana terus saja marak. Wah, dalam pikir saya, ini sebuah pernyataan yang menarik. Ini pernyataan yang dalam benak saya, analisisnya sudah seperti pakar atau pengamat.

Ia pun kemudian mengomentari tentang banjir di Bandung, juga tentang tragedi longsor di Banjarnegara, Jawa Tengah. Kata dia, bencana di Bandung, juga di Jawa Tengah, pelakunya ya manusia itu sendiri. Kenapa banjir, kata Pak Deni, karena sungai sudah tak berfungsi. Bantaran sungai menyempit, karena disesaki pemukiman. Sampah juga ia tuding sebagai salah satu biang keladi. Juga buruknya got-got.

“Kan sudah tahu, saya lihat di berita tv, banjir di Bandung itu tiap tahun. Penyebabnya sudah tahu, tapi tak ada solusi yang radikal. Ya jadi banjir datang dan datang lagi,” kata Pak Deni dengan berapi-apinya.

Begitu juga dengan tragedi longsor di Banjarnegara, itu karena ulah manusia. Perbukitan gundul jadi lahan pertanian. Maka ketika hujan turun dengan derasnya, bukit tak mampu lagi menahan air hujan,karena tak ada tanaman yang menguatkan tanah. Akibatnya sudah dipastikan longsor yang terjadi. Pemerintah setempat atau yang berwenang pastinya tahu dan paham kata Pak Deni, bila bukit gundul, itu rawan longsor. Tapi, ketika longsor itu sudah terjadi, dan menelan banyak nyawa baru mereka terkaget-kaget. Baru terpikir untuk merelokasi. Coba kalau relokasi dilakukan sebelum longsor, jatuhnya korban mungkin bisa dihindari.

“Bener juga”, pikir saya setelah mendengar paparan Pak Deni.

Pak Deni pun berhenti sejenak. Ia menyeruput kopinya. Kemudian setelah itu ia melanjutkan paparannya. Kata dia, 70 persen bencana yang terjadi di dunia itu karena ulah manusia. Kecuali gempa kata dia, yang memang disebabkan oleh pergeseran lempeng bumi. Dari mana data 70 persen bencana karena ulah manusia, saya tak tahu, sebab Pak Deni tak menerangkan sumbernya. Mungkin ia pernah dengar atau baca itu. Atau itu hanya kesimpulannya.

Kata Pak Deni, gempa juga sebenarnya bisa juga disiasati agar tak banyak menelan banyak korban jiwa. Misalnya, di daerah yang memang rawan gempa, bangunannya ya jangan yang mudah dirubuhkan goyangan gempa. Tapi bangunannya yang tahan gempa. Atau minimal, kalau rubuh, dampak ke penghuninya tak terlalu parah. Saya diam menyimak dengan serius uraian ‘pakar bencana’ dari perumahan saya.

Bahasan obrolan makin berat saja. Kali ini Pak Deni bicara tentang efek rumah kaca. Pemanasan global misalnya kata Pak Deni, itu juga ulah manusia. Ya, manusia yang mengundang bencana itu.

Tapi ya begitu kata dia, kita ini baru kaget, tersentak-sentak ketika sudah mengalami kejadian. Kita kaget dan ramai-ramai bertindak dan bergerak ketika bencana sudah jadi tragedi. Kata dia, setelah ada bencana yang bikin air mata tertumpah, baru semua intropeksi. Terutama pemerintah mereka baru kaget, kalau bencana sudah banyak menelan korban. Barulah mereka berpikir merumuskan solusinya. Padahal mereka sudah tahu akar penyebabnya. Mereka sudah paham potensinya.

Namun ya begitulah, kata Pak Deni, tindakan baru dilakukan bila sudah ada korban yang jadi ‘tumbalnya’. Mendengar uraian Pak Deni, saya pun tercenung. Pendapat Pak Deni memang sangat tepat. Bahkan terasa menohok. Kita terkadang selalu menjadi bangsa yang bertindak setelah ada kejadian besar. Kita selalu tak mau jadi bangsa pencegah. Maka tak heran bila bencana seperti sebuah tradisi. Karena seperti kata Pak Deni, kita ini seperti bangsa kagetan.

Penulis: Agus Supriyatna

Comment di sini