Menalangi “Dosa Dunia Akhirat” Lapindo

by
January 13th, 2015 at 11:15 am

CiriCara.com – Beberapa hari yang lewat, saya sempat membaca berita tentang keputusan pemerintahan Pak Joko Widodo (Jokowi) yang hendak mengambil alih pembayaran ganti rugi PT Minarak Lapindo kepada para korban di area terdampak lumpur di Sidoarjo, Jawa Timur.

lapindo

Lumpur Lapindo – Ist

Berita tentang pengambilalihan ganti rugi bagi korban lumpur Lapindo itu saya baca dari situs Tempo.co. Namun berita tentang itu, hampir semua portal berita memuatnya. Dalam berita yang dimuat Tempo.co, pemerintahan Pak Jokowi akan menalangi utang PT Minarak yang harusnya dibayarkan kepada para korban yang terkena dampak semburan lumpur. Besaran dana yang akan ditalangi sebanyak Rp 781 miliar. Situs Tempo.co, mengutip keterangan Sekretaris Kabinet Mas Andi Widjajanto yang mengatakan, bahwa Pak Jokowi itu mementingkan nasib dan hak warga Sidoarjo yang terkatung-katung karena itu diputuskan untuk menalangi utang PT Minarak pada para korban.

Dalam beritanya Tempo.co menuliskan pemerintah akan menyita kepemilikan tanah PT Minarak Lapindo senilai 3,2 trilyun yang merupakan 80 persen tanah di area terdampak yang sudah dilunasi Minarak, sebagai jaminannya.

Selain itu, juga dikutip pernyataan Dirut PT Minarak, Pak Andi Darussalam Tabussala, bahwa perusahaan yang dikendalikan keluarganya Pak Aburizal Bakrie itu lagi tak punya uang, sehingga belum bisa membayar kewajibannya pada para korban lumpur Lapindo. Namun yang menarik adalah isi berita Tempo.co tentang ancaman yang pernah dilontarkan Pak Susilo Bambang Yudhoyono, saat masih menjadi Presiden. Ancaman Pak Susilo kepada PT Minarak itu, dilontarkan pada pada 13 Februari 2013. Begini bunyi lengkap kutipan Pak Susilo yang saya baca dari Tempo.co.

“Sampaikan kepada Lapindo, kalau janji harus ditepati, kalau main-main dengan rakyat dosanya dunia akhirat.”

Kalimat tentang dosa dunia akhirat yang diucapkan Pak Susilo seperti yang saya kutip dari situs Tempo.co yang bikin menarik, hingga saya merasa perlu untuk menuliskan catatan tak penting ini. Tragedi lumpur Lapindo, memang seakan melekat pada sosok Pak Aburizal atau Pak Ical yang sekarang kembali jadi nakhoda Partai Golkar, setelah terpilih secara aklamasi di hajatan Musyawarah Nasional partai tersebut yang digelar di Bali, awal Desember kemarin.

Lapindo, bisa dikatakan trade marknya Pak Ical. Bahkan, selalu dijadikan senjata ampuh oleh lawan-lawan politiknya untuk menyerang Pak Ical, konglomerat yang pernah tercatat sebagai orang tertajir se-Indonesia versi Majalah Forbes. Kini, Golkar terpecah dalam dua kubu. Bahkan ada dua Munas yang menghasilkan dua ketua umum. Munas Bali, menghasilkan Pak Ical sebagai Ketum. Sementara satunya lagi yang digelar di Ancol, Jakarta melahirkan Pak Agung Laksono sebagai ketua umum.

Baik kubu Pak Ical maupun Pak Agung, saat ini saling mengklaim sebagai pemilik sah Beringin. Bahkan dua kubu ini rajin saling menyerang di media. Meski kabarnya, dua kubu sedang meretas jalan untuk islah. Nah, soal Lapindo ini menjadi salah satu senjata andalan kubu Pak Agung memojokan kubu Pak Ical. Lihat saja pernyataan nyinyir yang dilontarkan Bang Yorrys Raweyai, salah satu pentolan kubu Pak Agung, yang menyatakan, Pak Ical sebaiknya bentuk saja Partai Lapindo Jaya. Tapi memang ingat Lapindo, pasti ingatan langsung dibawa pada satu nama yaitu Pak Aburizal Bakrie alias Pak Ical.

Comment di sini