Rekor Politik Dua Jenderal

by
January 13th, 2015 at 2:00 pm

CiriCara.com – Di jagad politik Indonesia, para jenderal adalah aktor-aktor penting yang pernah mewarnai panggung kekuasaan. Maka, bicara kekuasaan, kita tak bisa menafikan peran para jenderal. Wong faktanya, Presiden RI terlama adalah seorang jenderal, yakni Jenderal Soeharto.

Prabowo dan Wiranto / Kompasiana

Prabowo dan Wiranto / Kompasiana

Dan, Presiden yang dua kali terpilih secara berturut dalam pemilihan langsung juga seorang jenderal, yakni Jenderal Susilo Bambang Yudhoyono atau biasa disapa Pak SBY. Namun di luar nama Jenderal Soeharto dan Jenderal SBY, masih ada beberapa jenderal lagi yang pernah coba menjadi Presiden, tapi sayang gagal, tak semujur kedua jenderal itu.

Namun yang pasti, setiap Pemilu tiba, para jenderal memang selalu laku untuk digadang-gadang. Apalagi menjelang Pemilihan Presiden, nilai jual mantan petinggi militer selalu tinggi tak pernah jatuh. Nah yang mau saya ceritakan ini adalah dua jenderal lain di luar Jenderal Soeharto dan Jenderal SBY. Dua jenderal yang mau saya bicarakan dalam tulisan ini adalah Jenderal Wiranto dan Letnan Jenderal Prabowo Subianto.

Di mata saya, Jenderal Wiranto dan Letnan Jenderal Prabowo masing-masing punya rekor tersendiri dalam dunia pencapresan (pencalonan presiden) di Indonesia. Bila Jenderal Soeharto, rekornya adalah menjadi Presiden dari militer yang paling lama berkuasa, lalu Jenderal SBY, rekornya dua kali terpilih secara berturut-turut dalam dua pemilihan secara langsung, maka Jenderal Wiranto dan Letnan Jenderal Prabowo pun punya rekor tersendiri.

Rekor Jenderal Wiranto dalam jagad pencapresan, dua kali maju gelanggang pemilihan calon RI-1 dan RI-2. Pertama, mantan Panglima TNI ini, maju dalam pemilihan presiden pada tahun 2004. Saat ini, Jenderal Wiranto maju sebagai calon presiden yang diusung Partai Golongan Karya (Golkar). Kok bisa Pak Jenderal Wiranto ini maju lewat Beringin? Pak Wiranto bisa jadi capresnya Golkar, setelah memenangi ajang konvensi, sebuah ajang penjaringan capres yang dibuat Golkar.

Oh ya hampir lupa. Tahun 2004, adalah tahun untuk pertama kalinya Indonesia menggelar pemilihan presiden secara langsung. Jadi, keikutsertaan Jenderal Wiranto dalam pemilihan presiden di tahun itu, juga sejarah tersendiri, karena dia akan dicatat sebagai salah satu kontestan pemilihan presiden secara langsung yang pertama di Indonesia.

Setelah menang konvensi Golkar, Jenderal Wiranto lalu menseleksi calon wakilnya yang akan mendampingi dia di ajang pemilihan presiden. Di dapatlah Solahuddin Wahid atau Gus Solah, adik kandung Gus Dur. Jenderal Wiranto berharap dengan menggaet Gus Solah, suara Nahdliyin bisa mendukunnya.

Namun bukan perkara mudah ternyata, karena pasangan calon presiden dan calon wakil presiden tak hanya dua pasangan. Ada empat pasangan lagi yang harus dihadapi Jenderal Wiranto dan Gus Solah memperebutkan tiket ke Istana. Empat pasangan itu adalah, duet Pak Amien Rais dengan Pak Siswono Yudhohusudo, lalu pasangan Jenderal SBY dengan Pak Jusuf Kalla dan yang terakhir kombinasi antara Ibu Megawati Soekarnoputri dengan Kyai Hasyim Muzadi. Ups lupa, yang terakhir adalah pasangan Pak Hamzah Haz dan Pak Jenderal Agum Gumelar.

Maka bertarunglah Jenderal Wiranto-Gus Solah melawan empat pasangan lainnya. Lima pasangan itulah yang saling berjibaku memperebutkan tiket ke Istana. Dewi fortuna, sepertinya tak memayungi Jenderal Wiranto dan Gus Solah. Pilpres 2004, bukan rezeki politiknya Jenderal Wiranto. Raihan suara Jenderal Wiranto dan Gus Solah, tak sesuai harapan. Dari lima pasangan yang bertarung, raihan suara Jenderal Wiranto dan Gus Solah, hanya ada di urutan tiga, di bawah Jenderal SBY-Jusuf Kalla dan Ibu Megawati-Kyai Hasyim Muzadi.

Comment di sini