Cerita Salah Ketik Surat Mendagri Tjahjo Kumolo

by
January 14th, 2015 at 10:22 am

CiriCara.com - Karena terlilit kasus korupsi, Pak Rachmat Yasin, dengan terpaksa harus berurusan dengan aparat penegak hukum. Dia terpaksa harus berhadapan dengan Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang membongkar tindak tercelanya, menerima suap dari PT Bukit Jonggol Asri terkait dengan tukar-menukar kawasan hutan. Uang suap yang diterima Pak Yasin, sebesar Rp 4,5 miliar.

tjahjo kumolo

Mendagri Tjahjo Kumolo – Ist

Upss, kayakanya saya keliru menulis. Yang membongkar kasus korupsi Pak Yasin bukan KPU, tapi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang dipimpin Pak Abraham Samad. Mohon maaf, nuwun sewu atas salah ketik nama lembaga. Namanya juga manusia, selalu dihinggapi khilaf, salah ketik itu biasa. Jadi saya ralat, bukan KPU tapi KPK yahhh.

Nah, ternyata yang salah ketik itu bukan hanya saya. Tapi ada yang salah ketik yang lebih hebat lagi yakni salah ketiknya surat keputusan yang dikeluarkan Kementerian Dalam Negeri, sebuah kementerian utama di negeri ini. Kementerian ini sekarang dipimpin oleh Pak Tjahjo Kumolo, yang menggantikan Pak Gamawan Fauzi.

Kok bisa, Kementerian Dalam Negeri salah ketik surat keputusan? Kok bisa pula, Pak Mendagri, yakni Pak Tjahjo tak teliti hingga surat yang salah ketik itu terlanjur diteken dan dikeluarkan? Begini ceritanya….

Suatu sore, saya membuka sebuah situs berita, sebuah media online terkemuka di negeri ini. Dalam salah satu berita yang saya baca dari media online tersebut, diceritakan bahwa Mendagri telah memberhentikan Pak Rachmat Yasin dari jabatannya sebagai Bupati Bogor, karena Pak Yasin terbukti terlibat menerima suap dari PT Bukit Jonggol Asri. Pak Yasin terbukti menerima duit suap sebesar milyaran rupiah, kompensasi dari proses tukar lahan kawasan hutan seluas 2.754 hektar untuk PT Bukit Jonggol Asri di Kabupaten Bogor.

Maka Pak Yasin pun diadili. Bahkan Pak Yasin sudah dibui. Karena perbuatannya itu Pak Yasin diganjar hukuman tambahan oleh Kementerian Dalam Negeri, diberhentikan dengan tidak hormat. Pak Mendagri sendiri yang bilang begitu, bahwa Pak Yasin karena korupsi, maka pemberhentiannya dengan tidak hormat.

Namun, Pak Menteri sepertinya tak teliti. Beliau mungkin sibuk, sehingga tak membaca cermat bunyi isi surat keputusan pemberhentian Pak Yasin yang ditekennya. Karena sekarang beredar foto surat keputusan pemberhentian Pak Yasin yang ditanda tangani Pak Mendagri. Dalam foto surat itu, status pemberhentian Pak Yasin, bukan dengan tidak hormat. Tapi tertera Pak Yasin diberhentikan dengan hormat.

Pak Mendagri mungkin kaget, kok bisa seperti itu, sedangkan dia sudah terlanjur mengucap bahwa Pak Yasin diberhentikan dengan tidak hormat. Tapi, sepertinya Pak Mendagri tak kehabisan akal. Kata beliau, itu salah ketik dan itu biasa.

Jadi Pak Yasin, Anda jangan gembira dulu, bila sudah menerima surat pemberhentian dari Mendagri. Bapak tak diberhentikan dengan hormat, tapi dengan tidak hormat. Surat yang sudah diteken itu keliru, salah ketik. Nanti, akan ada staf dari Kemendagri akan membawa tip ex, menghapus kata dengan hormat dengan kalimat tidak hormat.

rahmat yasin

Rahmat Yasin jadi tahanan KPK – ist

Mohon maaf ya Pak Yasin, bila itu bikin jengkel bapak. Kami pun jengkel dengan ulah bapak yang mau menerima suap. Perbuatan menerima suap itu perbuatan yang tidak hormat. Jadi pantas kalau diberhentikan dengan tidak hormat. Mungkin bapak memang punya jasa, tapi ibarat pepatah, karena nila korupsi rusak sudah jasa sebelanga. Korupsi itu kejahatan luar biasa. Dampaknya terasa pada rakyat banyak. Bila bapak korupsi, artinya bapak telah mengkhianati rakyat yang mempercayai bapak jadi pemimpin. Bapak juga mengkhianati sumpah bapak, yang bapak ucap saat dilantik dulu. Bahkan sumpah bapak itu menyebut nama Tuhan. Artinya bapak juga “melecehkan” Tuhan.

Buat Pak Mendagri, jadikan cerita salah ketik surat untuk Pak Yasin, sebagai pelajaran. Telitilah sebelum meneken surat. Karena surat seorang menteri tak seperti surat cinta anak SD. Tapi ini surat yang dikeluarkan oleh kementerian penting di negeri ini. Coba lain kali baca kata demi kata isi surat yang akan diteken. Jangan biasakan salah ketik surat jadi tradisi. Bukannya saya curiga, karena bisa saja bapak sedang dikadalin bawahan, meneken surat yang isinya salah. Pesan saya sekali lagi, telitilah sebelum menandatangani. Karena tanda tangan menteri itu punya tuah. Tak seperti tanda tangan saya, yang tak punya pengaruh apa-apa.

Penulis: Agus Supriyatna

Comment di sini