Petuah “Agama dan Astronomi” dari Pak Deni

by
January 14th, 2015 at 9:23 am

CiriCara.com – Saya punya tetangga namanya Pak Deni Aprili. Dia tinggal satu komplek perumahan dengan saya, tapi berbeda blok. Pekerjannya seorang karyawan di sebuah perusahaan laboratorium pertambangan.

bulan

Astronomi – Ist

Dia jadi ‘langganan’ teman mengobrol. Saya sering berbincang dengannya kala pulang dari tempat kerja. Biasanya sepulang kerja, atau saat menunggu jadwal menjemput istrinya dari tempatnya bekerja, dia suka mampir ke pos satpam. Ketika saya pulang sering saya mendapatinya sedang menemani Pak Satpam di pos pengamanan di pintu masuk perumahan.

Maka saya pun sering menyempatkan waktu sebentar mampir ke pos. Tradisi mampir ke pos itu, membuat saya sering mengobrol dengan Pak Deni. Ada saja tema yang diobrolkan. Dia penceramah obrolan yang baik. Sementara saya berusaha jadi ‘pendengar’ yang baik pula.

Seperti Minggu malam lalu, 28 Desember 2014, saya dapati Pak Deni sedang nongkrong di pos Satpam. Setelah berbasi-basi sebentar, kami pun mengobrol. Kata dia, ia sedang menunggu waktu untuk menjemput istrinya pulang dari tempatnya bekerja yang memang jaraknya tak jauh dari perumahan saya.

Tema pembuka obrolan, Pak Deni, tetangga saya yang sudah saya anggap pakar segala tema, bicara laiknya seorang ustadz kahot. Ia mengurai tentang agama. Wah, tema yang berat dan sensitif.

Begini pendapat dia tentang agama. Kata dia, agama itu adalah tuntunan. Baik itu agama Kristen, Islam, Budha, Hindu dan agama lainnya, itu semuanya tuntunan. Semua agama kata dia, menuntun pada kebaikan. Ia yang membuat manusia bisa beradab.

“Coba kalau tak ada agama, tak ada tuntunan kita bisa saling bunuh, kawin pun sembarang tempat seperti binatang. Jadi agama yang membuat kita ini beda dengan hewan,” kata Pak Deni.

Saya pun hanya manggut-manggut saja. Tapi ia heran dan merasa gemas, selalu saja ada orang angkuh, sombong yang tak menghargai kehidupan. Orang yang tak menghargai kehidupan, katanya, sama saja dia tak punya agama. Ia pun menyebut salah satu orang yang sombong dan angkuh yang tak menghargai kehidupan dan agama. Orang sombong itu adalah koruptor.

Padahal kita ini tak punya apa-apa. Mati tak membawa apa-apa. Kita ini kan sumber kehidupan, maka hargailah kehidupan ini,” katanya.

Badan kita, kata Pak Deni, juga merupakan kehidupan. Kita pusat kehidupannya. Sebab di badan manusia itu ada kuman, bakteri dan virus. Jadi kita ini, kata Pak Deni, seperti ‘Tuhannya’. Maka, kalau kita seperti Tuhan, bersikap dan berlakulah sesuai sifat-sifat Tuhan. Duh, pendapatnya bak filosof, berat dan bikin saya berkerut kening.

Untungnya tema obrolan berganti. Kali ini dia bicara tentang astronomi. Walakadalah, ini juga obrolan berat, pikir saya. Tapi baiklah saya dengarkan saja. Kali saja dapat pengetahuan baru. Kan pengetahuan itu datangnya dari mana saja. Dari mulut tukang becak pun kita dapat meraup pelajaran hidup. Upss, mohon maaf, Pak Deni bukanlah tukang becak.

Comment di sini