Sejarah Pemilu di Indonesia

by
January 16th, 2015 at 8:34 am

CiriCara.com – Pada tahun 2004, untuk pertama kalinya, bangsa Indonesia menggelar pemilihan presiden secara langsung. Rakyat menjadi juri pemilihan. Suara rakyatlah yang menentukan siapa yang layak dan berhak menuju Istana Negara.

tinta pemilu

Tinta Komisi Pemilihan Umum (KPU) – Ist/Tempo.co

Sebelumnya di era Orde Baru, nyaris selama 32 tahun lamanya, rakyat hanya jadi penonton prosesi pemilihan presiden. Sebab di era itu, bukan rakyat yang jadi juru pilih, tapi yang memilih presiden adalah Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Karena pemilihan via MPR itu juga, Soeharto menggenggam kekuasaan hingga 30 tahun lebih. Hal ini dimungkinkan, karena MPR dikuasai oleh Golkar, kendaraan politik yang jadi ‘mesin politiknya’ Soeharto. Selain memang, dua organisasi politik lainnya, yakni PPP dan PDIP, gampang disetir. Kalau pun ada riak resistensi, tak begitu berpengaruh menggoyang kekuasaan Soeharto.

Tiba pada 1998, kekuasaan Soeharto mulai merapuh, seiring deraan krisis moneter yang hampir melanda kawasan Asia. Gejolak pun muncul. Suara-suara yang menginginkan perubahan kian gencar dimana-mana. Di motori mahasiswa, suara menuntut perubahan di semua sektor termasuk perubahan kepemimpinan nasional, menggelinding bak bola salju. Puncaknya terjadi pada 1998. Mei di tahun itu, Soeharto yang sudah sepuh tersebut menyatakan mengundurkan diri dari presiden.

Wakil Presiden saat itu BJ Habibie naik kelas, menggantikan Soeharto. Namun usia kekuasaan Habibie, hanya seumur jagung. Tahun 1999, menjadi akhir dari kekuasaan mantan Menteri Riset dan Teknologi tersebut, setelah laporan pertanggungjawabannya ditolak MPR. Pada tahun itu juga digelar pemilu 1999, yang dianggap pemilu demokratis kedua setelah pemilu 1955. Bisa dikatakan pemilu adalah karya terbesar Habibie, selama jadi Presiden.

Setelah pertanggungjawaban Habibie ditolak, MPR menggelar pemilihan Presiden. Tak diduga-duga yang terpilih adalah KH Abdurahman Wahid alias Gus Dur, mengalahkan Megawati Soekarnoputri. Padahal di tahun itu, partai yang dipimpin Megawati, yakni PDIP menjadi partai dengan raihan suara terbanyak di pemilu legislatif 1999. Tapi karena pemilihan dilangsungkan lewat MPR, Mega pun kalah oleh Gus Dur yang kala itu didukung poros tengah, sebuah poros politik yang disokong partai-partai Islam plus Golkar. Gus Dur pun resmi jadi Presiden. Sementara, Mega didapuk jadi Wakil Presiden.

Tapi, usia kekuasaan Gus Dur pun tak panjang. Pada 2001, Gus Dur dilengserkan dari kursi kepresidenan oleh sidang istimewa MPR yang kala itu dipimpin Amien Rais. Kemudian Mega naik menggantikan Gus Dur, menjadi Presiden. Sebagai wakilnya, terpilih Hamzah Haz yang saat itu jadi Ketua Umum PPP. Lalu tahun 2004, bangsa Indonesia untuk pertama kalinya menggelar pemilihan presiden secara langsung. Lima pasangan calon bersaing memperebutkan tiket ke istana. Kelima pasangan calon itu adalah, pasangan Amien Rais-Siswono Yudo Husodo, Megawati Soekarnoputri-Kyai Haji Hasyim Muzadi, Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla, Wiranto-Solahuddin Wahid dan terakhir duet Hamzah Haz-Agum Gumelar.

Tentu setiap ‘pertarungan’ atau kompetisi hanya akan melahirkan satu pemenang. Sisanya adalah pihak kalah atau yang gagal. Sejarah mencatatkan pemenang pemilihan presiden 2004, yang merupakan pemilihan presiden pertama secara langsung adalah pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla. Pasangan ini, sukses menekuk pasangan Megawati-Kyai Hasyim Muzadi diputaran dua pemilihan. Padahal saat itu, Mega berstatus inkumben. Menariknya lagi, Susilo Bambang Yudhoyono adalah mantan anak buahnya Megawati di kabinet. Di kabinet Mega, terakhir sebelum mengundurkan diri Susilo Bambang Yudhoyono menjabat sebagai Menteri Koordinator Politik dan Keamanan. Pun Jusuf Kalla. Jusuf Kalla pun adalah mantan anak buah Mega. Di kabinet, jabatan terakhir saudagar asal Bugis itu adalah Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat.

Jadi, Mega adalah calon presiden yang gagal memenangi pertarungan. Begitu juga dengan Kyai Hasyim, mantan Ketua PBNU itu adalah calon wakil presiden pertama yang gagal jadi pemenang. Tapi yang bernasib sama tak hanya Mega dan Kyai Hasyim. Masih ada beberapa calon presiden dan wakil presiden yang menjadi pihak yang gagal. Mereka calon presiden yang gagal adalah Amien Rais, Wiranto dan Hamzah Haz. Sedangkan calon wakil presiden yang gagal adalah, Siswono Yudo Husodo, Solahuddin Wahid dan Agum Gumelar.

Daftar lengkap calon presiden gagal, adalah Megawati Soekarnoputri, Amien Rais, Wiranto dan Hamzah Haz. Sementara daftar lengkap calon wakil presiden yang gagal adalah Kyai Hasyim, Siswono Yudo Husodo, Solahuddin Wahid dan Agum Gumelar. Mereka semua adalah calon presiden dan calon wakil presiden pertama yang merasakan pahitnya kekalahan dalam ajang pemilihan presiden secara langsung.

Penulis: Agus Supriyatna

Comment di sini