Cerita ‘Kecelakaan Sejarah’ Kapolri Pertama

by
January 19th, 2015 at 2:58 pm

CiriCara.com – Sabtu pagi, 17 Januari 2015, Pak Azis agak uring-uringan. Pagi itu ia sedang mantengin layar kaca di dalam pos jaganya di sebuah perumahan di Sawangan, Depok, Jawa Barat. Saya kebetulan mampir sebentar untuk ngopi. Sebelah pos jaga memang ada warung kopi.

soekanto

Patung Raden Said Soekanto – Ist/Tribunnews

“Wah Pak gara-gara Budi Gunawan, berita tentang AirAsia jarang lagi. Banyaknya soal Budi Gunawan,” kata Pak Azis.

Ya, sejak ribut Budi Gunawan jadi tersangka, pemberitaan tentang jenderal bintang tiga calon Kapolri baru yang sekarang sudah ditetapkan jadi Kapolri baru, namun pelantikannya ditunda Presiden Jokowi, memang mengharu biru. Hampir semua media, terutama stasiun televisi seakan berlomba-lomba menyiarkankannya. Bahkan dua stasiun berita yakni, Metro TV dan TV One, menyiarkan dalam program breakingnews. Jika sudah dikemas dalam breakingnews, ini sudah dianggap berita besar dan heboh, sama dengan saat AirAsia hilang.

Setelah ngopi, saya pun pulang ke rumah. Karena libur kerja, saya pun berinisiatif memberesi buku-buku milik saya lumayan berantakan di rak. Saya susun kembali agar kelihatan rapi. Satu buku saya pegang masih bersampul plastik, artinya buku ini belum saya baca. Buku itu berjudul, “Jangan Bosan Kritik Polisi” yang ditulis Bang Neta S Pane. Bang Neta ini adalah Ketua Presidium Indonesian Police Watch (IPW), semacam lembaga swadaya masyarakat yang konsen memantau kepolisiannya. Bang Neta memang pengamat spesialis kepolisian. Buku, “Jangan Bosan Kritik Polisi” sendiri diterbitkan PT Indonesia Satu pada 2009. Buku bersampul warna merah jumlah halamannya sebanyak 254 halaman.

Saya pun merobek sampul plastiknya. Saya ingat buku ini didapat dalam sebuah diskusi tenang kepolisian. Buku ini semacam souvenir yang dibagikan kepada peserta diskusi yang kebetulan Bang Neta adalah salah satu pembicaranya. Saya mendapatkan buku itu dalam kapasitasnya sebagai wartawan yang meliput acara diskusi tersebut.

Setelah sampul plastik dibuka, saya pun membaca halaman demi halaman buku yang ditulis Bang Neta. Mumpung lagi hangat kasus Komjen Budi Gunawan, mungkin ada info menarik yang belum saya ketahui tentang kepolisian dari buku tersebut. Ternyata, setelah saya buka-buka halaman demi halaman ada cerita menarik dari buku yang ditulis Bang Neta tersebut. Salah satu cerita menarik itu adalah tentang kisah Kapolri pertama Republik Indonesia, Raden Said Soekanto Tjokradiatmodjo. Sebutan untuk Kapolri ketika itu mengutip bukunya Bang Neta, adalah Kepala Djawatan Kepolisian Negara RI.

Ternyata menurut buku Bang Neta yang saya baca, Raden Soekanto jadi Kapolri pertama karena ‘kecelakaan sejarah’. Raden Soekanto, sebenarnya bukan Kapolri yang seharusnya akan diangkat pemerintah RI yang saat itu baru seumur jagung. Ceritanya begini…

Di halaman 32 buku, “Jangan Bosan Kritik Polisi”, Bang Neta menuliskan awalnya pemerintah RI yang baru terbentuk itu, menunjuk Komisaris R Soemarto. R Soemarto saat itu bertugas di Tegal, Jawa Tengah sebagai kepala kepolisian. Tapi karena Soemarto tak kunjung muncul ke Jakarta, akhirnya Raden Soekanto yang ditetapkan sebagai Kepala Djawatan Kepolisian Negara RI.

Di halaman 33-nya, Bang Neta juga menuliskan kronologis menarik ditetapkannya Raden Soekanto sebagai Kepala Djawatan Kepolisian Negara RI yang pertama. Bang Neta menuliskan, Raden Soekanto sendiri muncul di Jakarta secara tak sengaja. Saat itu, Soekanto adalah instruktur dengan peringkat paling senior di sekolah polisi milik Jepang di Sukabumi.

Waktu mendengar Jepang sudah kalah oleh Sekutu, Soekano mendesak penguasa Jepang di sekolah kepolisian melimpahkan kekuasaannya pada para instruktur asal Indonesia. Tapi pihak Jepang menolak. Karena penolakannya itu, Soekanto kemudian berangkat ke Jakarta. Di Jakarta ia bertemu dengan Mr Sartono. Di rumah Mr Sartono, ketika itu tulis Bang Neta dalam bukunya, kebetulan sedang bertamu juga Mr Iwa Koesoema Soemantri, Mr Sartono dan Mr Iwa oleh Soekanto diminta pendapatnya.

Di luar dugaan, pada 29 September 1945, Soekanto justru dibawa menghadap Presiden Soekarno. Saat itu juga Presiden Soekarno melantikk Soekanto jadi Kepala Djawatan Kepolisian Negara RI yang pertama. Di buku itu juga Bang Neta menuliskan, belakangan diketahui R Soemarto tak bisa ke Jakarta, karena disekap pelaku kerusuhan yang kemudian dikenal dengan sebagai “Peristiwa Tiga Daerah”. Soemarto sendiri lebih senior dari Soekanto, meski berpangkat sama. Diceritakan Bang Neta, Soemarto akhirnya bisa diselamatkan. Setelah diselamatkan Soemarto ditetapkan sebagai Wakil Kepala Kepolisian Negara RI mendampingi Soekanto.

Demikian sekelumit fakta sejarah menarik dari institusi kepolisian yang saya baca dari buku, “Jangan Bosan Kritik Polisi” yang ditulis Bang Neta S Pane, Ketua Presiden IPW yang diterbitkan PT Indonesia Satu. Buku itu saya baca sambil menyeruput segelas kopi pada hari Sabtu, 17 Januari 2015.

Penulis: Agus Supriyatna

Comment di sini