2014, Pertama Kali Golkar Punya Dua Nakhoda

by
January 20th, 2015 at 9:55 am

CiriCara.com – Tahukah Anda Partai Golongan Karya atau Golkar? Mungkin hampir semua warga negara di republik ini tahu dan mengenal Partai Golkar. Partai Golkar, adalah salah satu partai besar di Indonesia. Bahkan, di era Orde Baru berkuasa, Golkar begitu digjaya, selalu keluar jadi nomor satu dalam setiap Pemilu di era itu. Pesaingnya yakni Partai Persatuan dan PDI tak pernah sekalipun dapat mengalahkan Golkar. Alhasil selama 30 tahun lebih, Golkar jadi partai ‘penguasa’ jadi mesin politik pucuk pimpinan pemerintahan yang saat itu diduduki Soeharto, jenderal besar dari TNI Angkatan Darat. Soeharto berkuasa 30 tahun lebih lamanya di Indonesia. Selama itu pula Golkar mengalami masa keemasan politiknya.

golkar

Golkar – Ist

Namun sejak Soeharto lengser pada 1998, masa keemasan Golkar mulai hilang, meski tak hilang sama sekali. Golkar bukan lagi organisasi politik yang tak bisa dikalahkan. Pada 1999, Indonesia menggelar pemilihan legislatif pertama pasca Orde Baru runtuh. Sebanyak 40 lebih partai jadi kontestannya. Dan hasilnya lumayan mengejutkan, Golkar tak lagi jadi nomor satu. Yang keluar sebagai kontestan pemilu dengan perolehan suara terbanyak kala itu adalah PDI Perjuangan atau PDIP, partai pimpinan Megawati Soekarnoputri. Partai ini bisa dikatakan ‘sempalan’ dari PDI era Orde Baru. Sementara Golkar hanya bisa nangkring diurutan nomor dua, papan klasmen akhir perolehan suara Pemilu 1999.

Baru pada Pemilu 2004, kembali Golkar jadi nomor satu, setelah oleh Komisi Pemilihan Umum atau KPU dinobatkan sebagai partai peraih perolehan suara terbanyak. Saat itu yang jadi nakhoda beringin adalah Akbar Tandjung, mantan menteri juga mantan Ketua Umum PB Himpunan Mahasiswa Islam Indonesia (HMI). Tapi pada pemilu 2009, Golkar kembali turun peringkat. Kali ini yang berhasil menggusur beringin adalah Partai Demokrat, partai besutan Susilo Bambang Yudhoyono. Padahal pada pemilu 2004, Demokrat ada di peringkat ketujuh. Namun pada pemilu 2009, partai ini sukses melesat hingga bertengger di posisi puncak klasmen akhir perolehan suara partai-partai peserta Pemilu saat itu.

Namun riak di partai beringin kala itu belum terasa begitu kerasnya. Persaingan panas mungkin terjadi saat partai tersebut menggelar Munasnya di Pekanbaru pada 2009. Saat itu yang maju jadi calon Ketua Umum adalah Aburizal Bakrie, Surya Paloh, Yuddy Chrisnandi, dan Tommy Soeharto. Tapi dua calon terakhir, Yuddy dan Tommy mundur sebelum maju ka arena sebenarnya. Jadi yang maju ke gelanggang adalah Aburizal dan Surya Paloh. Dua bos atau pemilik stasiun televisi ini, bersaing ketat memperebutkan tampuk. Persaingan antar keduanya bahkan berlangsung sengit dan alot. Kala itu yang jadi Ketua Umum adalah Jusuf Kalla yang sedang menjabat Wakil Presiden, mendampingi SBY usai terpilih pada pemilihan presiden 2004.

Tapi dewi fortuna politik sepertinya lebih berpihak pada Aburizal, mantan orang paling tajir di negeri ini versi Majalah Forbes. Lewat rally suara, Aburizal atau biasa disapa Ical itu sukses mengungguli Surya Paloh. Ical pun jadi nakhoda Golkar, menggantikan Jusuf Kalla. Setelah itu, nama Surya Paloh seperti menghilang. Namanya pun bahkan tak tercantum dalam jajaran kepengurusan yang dinahkodai Ical.

Sampai kemudian Paloh kembali muncul saat membentuk ormas Nasional Demokrat. Ormas itu yang kemudian menjelma jadi partai dengan nama sama yakni Partai Nasional Demokrat atau Partai Nasdem. Pada akhirnya Partai NasDem dipimpin Paloh. Sebelumnya di awal terbentuknya NasDem dinahkodai Patrice Rio Capella. Partai besutan Paloh ini banyak diisi kader beringin. Sebut saja Ferry Mursydan Baldan yang memutuskan hengkang dari beringin lalu masuk NasDem.

Comment di sini