Budi Gunawan, Kapolri Kedua yang Batal Dilantik

by
January 21st, 2015 at 2:08 pm

CiriCara.com – Pada hari Jumat, 16 Januari 2015, di Istana Negara terjadi kesibukan lain dari biasanya. Presiden Joko Widodo (Jokowi), berulang kali menerima tamu-tamu ‘penting’. Padahal hari itu, Presiden dijadwalkan menghadiri pertemuan dengan para petani pemenang penghargaan Adhikarya Pangan Nusantara (APN) dan Petugas Operasi dan Pemeliharaan Jaringan Irigasi dan Rawa Teladan Tingkat Nasional Tahun 2014.

budi gunawan

Budi Gunawan – Ist

Tapi karena sibuk menerima ‘tamu-tamu penting’ itu, jadwal pertemuan Presiden dengan para petani penerima penghargaan
menjadi molor. Tamu-tamu penting yang datang menyambangi Istana adalah tiga jenderal dari Kepolisian. Tiga Jenderal tersebut adalah Jenderal Sutarman yang hari itu masih menyandang status sebagai Kapolri, lalu Badroedin Haiti, Wakapolri dan Komisaris Jenderal Budi Gunawan, Kapolri yang beberapa waktu lalu sudah ditetapkan DPR sebagai Kapolri baru.

Jumat malam, Presiden didampingi Wakil Presiden, Jusuf Kalla, Kapolri Jenderal Sutarman, Wakapolri, Komjen Badroedin Haiti serta Mekopolhukam, Tedjo Edhy Purdijatno muncul untuk menggelar jumpa pers. Dalam jumpa persnya, Presiden mengumumkan informasi penting yang selama ini dinanti publik, terkait kejelasan nasib Komjen Budi Gunawan, Kapolri baru. Mantan Wali Kota Solo itu mengumumkan, dirinya sebagai Presiden memutuskan menunda pelantikan Budi Gunawan sebagai Kapolri. Alasannya, penundaan itu untuk memberikan kesempatan pada mantan ajudan Megawati Soekarnoputri itu menghadapi proses hukum yang dialaminya, setelah pada Selasa 13 Januari 2015, ditetapkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai tersangka dalam kasus dugaan gratifikasi, saat Budi menjabat sebagai Kepala Biro Pembinaan Karir Mabes Polri di 2006.

Pengumuman lainnya, Presiden Jokowi juga secara resmi memberhentikan Jenderal Sutarman sebagai Kapolri. Karena posisi Kapolri ‘kosong’, Presiden juga memutuskan mengangkat Komjen Badroedin sebagai Pelaksana Tugas Kapolri atau Kapolri ‘sementara’, sampai adanya Kapolri definitif. Raut wajah Presiden saat mengumumkan itu tampak tegang. Pun tokoh lain yang ikut mendampingi Presiden, tak kalah tegangnya. Nyaris tak ada senyum terulas dari masing-masing yang hadir.

Maka dengan pengumuman itu, sepertinya pupus sudah mimpi Budi Gunawan menjadi orang nomor satu di kepolisian, posisi paling diidamkan setiap jenderal polisi di negeri ini. Karena jika merujuk pada bunyi Pasal 40 UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK menyatakan dinyatakan bahwa KPK tidak berwenang mengeluarkan surat perintah penghentian penyidikan dan penuntutan (SP3). Atau dalam kata lain, komisi anti rasuah ini tak mungkin menghentikan kasus yang menjerat Budi.

Apalagi bila mengutip pernyataan Danang J Widyoko, aktivis Transparency International Indonesia (TII) yang sekarang sedang melanjutkan kuliah di Australia National University, sang Jenderal tinggal menunggu waktu untuk dijebloskan ke penjara. Sebab berkaca pada kasus-kasus yang ditangani KPK yang kemudian dilimpahkan ke Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, tak ada satu pun yang lolos dari jeratan. Semuanya masuk penjara.

“Budi tinggal menunggu waktu dijebloskan ke penjara,” kata Danang dalam pernyataan persnya yang dikirimkan via email.¬†Artinya, sangat kecil Budi dikemudian hari akan dilantik. Budi kemungkinan besar akan masuk bui. Mimpi jadi Tribrata 1 pun selangkah lagi bakal pupus dan sirna.

Ternyata bila merujuk pada jejak sejarah kepolisian, Budi bukanlah Kapolri pertama yang batal dilantik. Pembatalan pelantikan Kapolri pernah terjadi, bahkan di awal pembentukan kepolisian RI. Hal itu dituturkan Ketua Presidium Indonesian Police Watch (IPW) Neta S Pane dalam bukunya, “Jangan Bosan Kritik Polisi”.

Jadi jika membaca jejak sejarah, Budi bukanlah Kapolri pertama yang batal dilantik. Soemarto, adalah calon Kapolri pertama yang batal dilantik. Hanya saja, Soemarto batal dilantik karena disekap pelaku kerusuhan, sementara Budi batal dilantik karena sudah berstatus tersangka dalam kasus dugaan korupsi.

Soemarto sendiri setelah diselamatkan dari penyekapan, diangkat jadi Wakapolri. Sedangkan nasib Budi Gunawan, setelah ditunda pelantikannya kian tak jelas. Bisa jadi nasib Budi tak akan semujur Soemarto yang meski gagal jadi Kapolri masih jadi Wakapolri. Bahkan sangat mungkin nasib Budi lebih buruk, terpaksa masuk bui karena tersandung kasus korupsi, seperti yang diprediksikan Danang J Widyoko, aktivis TII. Hanya waktu yang akan menjawabnya.

Penulis: Agus Supriyatna

Comment di sini