Apa Itu Hina-Matsuri?

by
February 5th, 2015 at 9:27 am

CiriCara.com – Ketika kamu membaca judul artikel ini, pasti yang terlintas di pikiranmu adalah suatu hal yang berbau Jepang. Ya, artikel ini membahas tentang kebudayaan di Negeri Sakura. Lalu, apa itu Hina-Matsuri?

hina-matsuri

Hina-Matsuri – Ist

Hina-Matsuri adalah sebuah perayaan yang ditujukan bagi anak perempuan. Festival ini diadakan setiap tanggal 3 Maret. Meskipun festival ini beragam bentuknya, umumnya orang Jepang merayakan Hina-Matsuri dengan memajang boneka Hina atau menghanyutkannya ke sungai.

Festival unik ini tak bisa dianggap sebagai perayaan biasa, lho! Perayaan ini layaknya perayaan selamatan tujuh hari setelah kelahiran bayi, dengan mengunjungi kuil. Perayaan ini merupakan acara untuk memohon pertumbuhan yang sehat bagi anak perempuan. Dan, boneka Hina dianggap seperti dewa pelindung dari kemalangan, pengganti penerima ketidakberuntungan/kemalangan yang mungkin menimpa anak perempuan.

Tahukah kamu sejak kapan festival ini diadakan di Jepang? Ternyata, Hina-Matsuri adalah salah satu dari Lima Festival Musim yang disebut Joushi pada awal bulan ketiga. Festival Joushi ini berasal dari tradisi kuno di China pada tahun 300. Tradisi ini yaitu sebuah acara penyucian diri untuk menolak bala dengan cara menghanyutkan sesuatu ke sungai.

Sejak dahulu kala, orang Jepang sendiri sudah memiliki ritual penyucian diri dan kepercayaan yang dinamakan katashiro. Katashiro adalah suatu kepercayaan dimana sebuah benda ditempatkan sebagai pengganti roh dewa pada saat melakukan penyembahan. Karena hal tersebut berhubungan dengan Festival Joushi, maka Festival Joushi dianggap sebagai budaya asli Jepang.

Pada masa Heian (794-1191), orang-orang Jepang pergi ke bukit dan gunung untuk memetik rumput yang berfungsi sebagai obat, lalu menyucikan tubuhnya dengan itu sambil berdoa memohon kesehatan dan terhindar dari kemalangan. Setelah acara penyucian ini, ada permainan Hina, yaitu boneka yang dipakaikan baju kertas. Dulu boneka ini terbuat dari jerami atau rerumputan, tetapi sekarang dibuat dari kertas. Melalui boneka ini, dipindahkan hal-hal yang buruk, lalu dihanyutkan ke sungai.

Lalu di masa Muromachi (1392-1532), tradisi tadi berganti dengan memajang boneka Hina yang mewah di istana dan menjadi sebuah perayaan meriah. Dari istana, acara ini meluas ke kalangan masyarakat kaum samurai, kemudian kaum pedagang, dan menjadi perayaan yang disebut Hina-Matsuri hingga kini. Orang Jepang sangat menjaga tradisi, ya?

Penulis: Khaeriya

Comment di sini