Sutanto, Jenderal Polisi Pertama yang Jadi Kepala BIN

by
February 9th, 2015 at 8:40 am

CiriCara.com – Badan Intelijen Negara (BIN) adalah badan strategis di negeri. Ini adalah badan intelijen yang bertanggung jawab langsung kepala Presiden. Badan telik sandi ini adalah CIA-nya Indonesia. Badan inilah yang memasok segala informasi ‘rahasia’ terkait semua hal kondisi dan situasi negara kepada Presiden. Tentu informasi itu adalah informasi rahasia yang hanya Presiden yang boleh mengetahuinya. Makanya sering disebut, BIN adalah badan yang misterius.

sutanto

Sutanto – Ist

Letjen Zainal Azhar Maulani, atau biasa dikenal dengan panggilan ZA Maulani, adalah Kepala BIN di era Presiden Habibie. Dulu, badan telik sandi itu belum bernama BIN, tapi masih bernama Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin). Pak ZA Maulani, adalah perwira bintang tiga dari TNI Angkatan Darat.

Di era Gus Dur atau Abdurahman Wahid jadi Presiden, Bakin berubah nama menjadi BIN. Gus Dur pun kemudian mengangkatan Arie J Kumaat, seorang Letnan Jenderal Angkatan Darat, sebagai Kepala BIN. Bisa dikatakan Pak Kumaat ini adalah Kepala BIN pertama pasca berubahnya nama badan telik sandi itu dari Bakin ke BIN.

Sejarah kemudian mencatat, kekuasaan Gus Dur hanya seumuran jagung. Mendiang mantan Ketua PBNU itu dijatuhkan lewat sidang istimewa MPR, karena dianggap terlibat dalam skandal Bulog yang saat itu dikenal dengan kasus Bulogate. Padahal keterlibatan Gus Dur, tak pernah terbukti di pengadilan. Namun Gus Dur mesti merasakan pil pahit jatuh oleh ‘pengadilan politik’ di MPR yang kala itu dipimpin oleh Amien Rais.

Karena Gus Dur jatuh, maka naiklah Megawati Soekarnoputri ke atas tampuk kekuasaan yang saat itu menjadi RI-2. Di era Megawati Kepala BIN mengalami pergantian. Pak Kumaat pensiun digantikan oleh Hendropriyono seorang perwira tinggi TNI Angkatan Darat. Ketika pertama jadi Kepala BIN, Hendro masih berpangkat Letnan Jenderal. Tapi di era Megawati pula, sang jenderal mendapatkan kenaikan pangkat kehormatan menjadi jenderal penuh alias jenderal bintang empat.

Kemudian Susilo Bambang Yudhoyono naik, setelah menang dalam pemilihan presiden yang baru pertama kali digelar secara langsung. Mantan Menko Polkam di era Megawati itu pun naik pangkat dari pembantu presiden menjadi Presiden. Bahkan dalam pemilihan presiden secara langsung itu, Pak SBY demikian panggilan akrabnya mengalahkan Megawati yang notabene adalah mantan bosnya di kabinet.

Di era SBY, Kepala BIN kembali mengalami pergantian. Hendropriyono pensiun digantikan oleh Syamsir Siregar, seorang purnawirawan Mayor Jenderal Angkatan Darat. Pada 2009, Pak SBY kembali terpilih sebagai Presiden. Pimpinan BIN pun kembali mengalami pergantian. Pak Syamsir Siregar turun digantikan Sutanto. Dipilihnya Pak Sutanto sempat jadi pembicaraan hangat. Sebab Pak Sutanto bukanlah berlatar belakang tentara. Meski menyandang pangkat jenderal Pak Sutanto bukan prajurit militer. Dia adalah jenderal polisi, mantan Kapolri. Ya, Pak Sutanto adalah eks Kapolri di era Pak SBY. Ini tradisi baru, seorang perwira polisi memimpin badan telik sandi.

Selama ini, bisa dikatakan BIN selalu menjadi jatah perwira atau pensiunan perwira tinggi TNI. Tapi dengan naiknya Pak Sutanto jadi Kepala BIN, tradisi pun berubah, tak lagi selalu tentara yang jadi Kepala BIN. Pengangkatan Pak Tanto, demikian panggilan akrabnya merubah pakem pengangkatan Kepala BIN. Pak Tanto, adalah Jenderal polisi pertama yang jadi Kepala BIN. Ia pembuat sejarah, menjadi polisi pertama yang diangkat sebagai kepala badan telik sandi.

Pak Tanto jadi Kepala BIN di era Kabinet Indonesia Bersatu jilid II. Di era Kabinet Indonesia Bersatu Jilid I, yang jadi Kepala BIN, adalah Pak Syamsir Siregar. Pak Tanto ini bisa dikatakan ‘orang dekatnya’ Pak SBY. Ia adalah kawan satu angkatan Pak SBY, namun berbeda akademi. Jika Pak SBY jebolan akademi militer, sementara Pak Tanto lulusan akademi kepolisian. Tapi ada satu kesamaan. Pak Tanto dan Pak SBY ini sama-sama lulusan terbaik di angkatannya. Pak Tanto adalah lulusan terbaik Akpol angkatan 1973. Ia peraih Adhi Makayasa, penghargaan bagi lulusan terbaik di akademi kepolisian dan militer. Begitu juga dengan Pak SBY. Mantan Presiden RI itu adalah lulusan terbaik Akmil angkatan 1973. Sebagai lulusan terbaik, Pak SBY berhak mendapat penghargaan Adhi Makayasa.

Namun masa jabatan Pak Tanto sebagai Kepala BIN tak sampai usia Kabinet Indonesia Bersatu Habis. Ia di tengah jalan digantikan oleh Letnan Jenderal Marciano Norman, eks Komandan Pasukan Pengawal Presiden. Dengan diangkatnya Letnan Jenderal Marciano, maka tradisi Kepala BIN selalu dari tentara kembali lagi, setelah di interupsi dengan pengangkatan Pak Tanto, jenderal dari kepolisian.

Penulis: Agus Supriyatna

Comment di sini