Mendung Datang, Warga Ibu Kota Pun Cemas

by
February 12th, 2015 at 11:45 am

CiriCara.com – Saat langit mulai terlihat dirundung mendung, kecemasan datang. Begitulah yang dirasakan sebagian besar warga Jakarta kala musim hujan tiba. Kecemasan itu terutama dirasakan warga yang tempat tinggalnya jadi langganan banjir. Ya, musim hujan dan banjir, memang dua situasi yang tak terpisahkan dari Kota Jakarta. Musim hujan tiba, cemas akan datangnya banjir pun datang.

hujan

Hujan di Jakarta – Ist

Apalagi bila mendung sudah berubah jadi gerimis, lalu menderas, kecemasan kian menjadi. Kerja pun tak tenang, ingat rumah yang di intai tamu tamu tak diundang. Tamu itu adalah tamu rutin yang selalu datang menyambangi kala musim hujan tiba. Masih beruntung, bila belum berangkat kerja. Tapi ketika sudah kadung berangkat dan tiba di kantor, lalu tiba-tiba turun hujan, kecemasan terasa begitu menyiksa. Bagaimana istri di rumah? Banjirkah? Pertanyaan-pertanyaan berbalut cemas itu menyesaki dada.

Kerja pun tak konsen. Handphone jadi andalan untuk terus memantau situasi rumah. Tiap menit, tak boleh luput untuk tetap waspada mendapatkan perkembangan demi perkembangan situasi rumah. Mata pun jadi sangat awas, mencermati setiap berita tentang kemungkinan datangnya banjir. Portal berita di internet jadi andalan untuk mendapatkan info terbaru tentang dampak hujan di ibukota.

Twitter jadi kanal lain yang harus dipantengin. Apalagi info lewat twitter acapkali lebih cepat dari berita-berita resmi. Bagaimana status bendung Katulampa di Bogor jadi perhatian utama. Semua perkembangan tinggi muka air di setiap pintu air tak lepas dari pantauan. Karena cemas, semua kanal informasi didayagunakan. Karena cemas pula, kita jadi pemerhati dan pembaca berita yang paling aktif. Jika tak seperti itu, mungkin akan kecolongan, banjir terlanjur datang menyambangi.

Namun, biar cemas tak menjadi-jadi di musim hujan, ada baiknya kita jadi sosok yang antisipatif. Musim hujan tiba, antisipasilah dampak datangnya banjir. Bungkus rapat dengan plastik kedap air, semua dokumen berharga kita, misal seperti ijasah, buku tabungan, buku nikah, paspor, rapor anak-anak, sertifikat-sertifikat, serta dokumen dan berkas berharga lainnya. Simpan di tempat yang diperkirakan tak akan kena banjir.

Bekali istri atau orang rumah, dengan nomor-nomor darurat yang bisa dihubungi kala banjir datang, misal nomor SAR, PMI, Pemadam Kebakaran, Kecamatan, Kelurahan dan nomor telepon instansi-instansi yang terkait dengan penanganan banjir. Bekali pula istri atau orang rumah pengetahuan bagaimana langkah yang harus diambil jika banjir datang menyambangi. Catat lokasi-lokasi yang bisa jadi tempat pengungsian. Apalagi bila tempat kita tinggal jadi tempat langganan banjir, tentu sudah ada referensi kemana kita pergi bila banjir menerjang.

Siapkan pula, bekal untuk digunakan di pengungsian, misal makanan, minuman botol, pakaian, obat-obatan dan lain-lain. Siapkan dan kemas dalam paket yang gampang di bawa atau ditenteng. Terus waspada. Cabutlah semua stop kontak barang-barang elektronik kita, jika sudah dapat kabar banjir tak bisa dicegah datang.

Isi power bank dengan penuh. Bila perlu, siapkan power bank cadangan. Ini sangat penting untuk tetap bisa berkomunikasi dengan siapa saja. Apalagi kerapkali PLN mematikan aliran listrik di daerah yang dilanda banjir. Maka,ketika banjir datang, kita tak kalut dan bingung harus bagaimana. Intinya biasakan kita jadi orang yang antisipatif.

Tiba di pengungsian, hal pertama yang dilakukan segera hubungi suami, kerabat, anak, saudara dimana kita ‘mengungsi’. Sehingga dengan mudah kita bisa ditemukan. Mungkin itu sedikit saran dari saya. Semoga bisa bermanfaat. Dan kita berharap, pemerintah pusat dan pemda Jakarta terus bekerja keras. Agar kelak, ibukota bebas banjir.

Penulis: Agus Supriyatna

Comment di sini