Dampak Banjir Jakarta Merembet Hingga ke Banyuwangi

by
February 13th, 2015 at 9:36 am

CiriCara.com – Pada hari Minggu, 8 Februari hingga Senin, 9 Februari 2015, hujan mengguyur Ibukota negara, Jakarta nyaris tanpa jeda. Akibatnya sudah dipastikan banjir tak bisa ditolak. Semua wilayah di Jakarta tak bisa menghindar dari banjir. Mulai dari wilayah Jakarta Barat, Jakarta Pusat, Jakarta Utara, Jakarta Selatan hingga Jakarta Timur, semua kebagian jatah banjir.

banjir

Banjir di Boulevard Barat arah MOI-Sunter, ketinggian air sekitar 40-50 cm – Twitter/TMC Polda Metro Jaya/@lusiani5

Ribuan warga pun terpaksa hijrah dari rumahnya. Mereka berbondong-bondong menuju tempat yang aman. Aktivitas warga pun terganggu. Pun kegiatan ekonomi di ibukota. Banyak pusat-pusat perdagangan yang digenangi banjir. Banyak pula perkantoran yang terpaksa tutup, karena banjir tak bisa dicegah. Jalan-jalan protokol pun tak luput diterjang banjir. Bahkan, Istana Negara kabarnya sempat kemasukan air, meski dengan tinggi hanya sampai mata kaki.

Kalau Istana sudah bisa dijebol banjir, walau dengan ketinggian yang tak berarti, itu menunjukan bahwa banjir di ibukota tak bisa lagi dianggap remeh. Ini mesti jadi warning bagi para pemangku kebijakan, agar lebih kerja keras lagi mengatasi penyakit banjir. Dan pastinya yang paling menderita oleh banjir, adalah warga ibukota itu sendiri. Terutama warga yang tinggal di wilayah yang jadi langganan banjir. Mereka terpaksa terusir dari rumahnya, karena banjir.

Kerugian pun tak bisa terhindarkan. Rumah rusak. Harta benda mungkin juga rusak. Boleh jadi, banyak warga yang kehilangan dokumen berharga yang dihanyutkan banjir. Belum lagi kerugian secara psikis. Jadi orang yang terusir dari rumah, lalu jadi pengungsi adalah derita yang cukup menyiksa batin.

Selain itu, banyak diantara yang mengungsi terpaksa tak bisa bekerja. Sekolah anak pun terbengkalai. Yang pasti hidup di pengungsian, walau hanya sementara adalah siksaan bagi warga. Belum lagi nanti bila terserang penyakit. Karena biasanya pasca banjir muncul penyakit-penyakit yang menyerang warga.

Banjir di Jakarta ternyata tak hanya membuat warga ibukota susah. Dampak banjir di Jakarta juga terasa sampai ke daerah lain. Para petani penghasil buah naga di Banyuwangi, adalah salah satu pihak yang ikut merasakan langsung dampak banjir di ibukota. Selama ini, Jakarta menjadi salah satu pasar utama buah naga yang dihasilkan para petani di Banyuwangi. Tapi karena banjir, kiriman buah naga ke Jakarta tersendat. Pesanan juga ikut berkurang. Bahkan pasokan terhenti sama sekali. Tiap harinya, petani buah naga di Banyuwangi memasok 2 hingga 4 ton buah naga ke Jakarta. Padahal, buah naga bukanlah produk pertanian yang punya daya tahan lama. Jika disimpan lama, nilai ekonomisnya pun berkurang. Bahkan, buah bisa busuk. Bila itu yang terjadi, petani tinggal menghitung kerugian.

Bukan hanya petani buah naga yang ikut kena dampak banjir Jakarta. Tapi para petani penghasil sayuran pun ikut menderita. Bahkan, mereka lebih cepat merasakan kerugian, karena sayuran bukan produk pangan yang tahan lama. Satu hari saja terlambat dikirim, sayuran bisa busuk. Begitu juga dengan pelaku bisnis lain, yang selama ini menjadikan Jakarta sebagai pasar produknya. Mereka terpaksa tak bisa mengirim barang, karena truk pengangkut tak bisa masuk tempat tujuan di Jakarta.

Yang paling kena dampak banjir Jakarta, adalah para eksportir. Mereka terpaksa tak bisa mengantar barang ekspornya, karena jalan menuju pelabuhan Tanjung Priok, menjadi salah satu ‘korban’ keganasan banjir Jakarta. Barang pun ngendon di truk atau di gudang. Biaya operasional pun membengkak. Alih-alih dapat laba, boleh jadi rugi yang terpaksa harus ditelan. Belum lagi kekecewaan dari pemesan. Jadi banjir Jakarta, memukul banyak pihak, tak hanya bikin menderita warga ibukota. Tapi juga membuat rugi para petani dan pelaku bisnis di luar Jakarta.

Penulis: Agus Supriyatna

Comment di sini