Jakarta Kian Ringkih, Banjir Pun Tak Pernah Berlalu

by
February 13th, 2015 at 8:27 am

CiriCara.com – Kamis siang, 12 Februari 2015, juru kabar bencana Pak Sutopo Purwo Nugroho kembali mengirimkan broadcast messengernya. Broadcast messenger yang dikirimkan Kepala Pusat Data Informasi dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) masih seputar tentang banjir di Jakarta.

jakarta banjir

Banjir di Bundaran HI, Jakarta – Ist

Menurut Pak Sutopo dalam broadcast messengernya, Jakarta makin “ringkih” menghadapi banjir. Banjir pun tak kunjung berlalu. Faktnya, secara beruntun banjir merendam Jakarta sejak 2013, 2014, dan Februari 2015. Kata dia, data sementara total daerah yang terendam banjir pada Februari 2015 adalah 323 RW, 88 kelurahan, 33 kecamatan. Masyarakat yang terdampak langsung sebanyak 16.387 KK atau 56.883 jiwa.

Kata Pak Sutopo lagi, dampak ini memang lebih kecil dibandingkan dengan dampak yang diderita kala banjir menerjang Jakarta pada 2013. Pada banjir yang menerjang Ibukota dari tanggal 17 hingga 26 Februari 2013, luas wilayah yang terendam banjir mencakup 508 RW, 124 kelurahan. Menurut Pak Sutopo, rendahnya banjir pada 2015 lebih disebabkan karena total curah hujan wilayah lebih kecil dibandingkan dengan 2013. Selain itu juga pengaruh dari upaya-upaya pengendalian banjir yang terus dilakukan saat ini.

Namun kata dia, yang menjadi pertanyaan adalah mengapa banjir terus terjadi? Hujan tertinggi di Jakarta yang turun Minggu 8 Februari 2015 sebesar 177 mm/hari di Kemayoran dan pada Senin 9 Februari 2015 sebesar 361 mm/hari di Tanjung Priok. Di hulu dan tengah sungai-sungai yang mengalir ke Jakarta tidak terjadi hujan ektrem. Sehingga debit sungai masih aman. Jikapun naik hanya sampai Siaga 3. Tidak ada sungai yang melimpas.

Dengan hujan ektrem tersebut kata Pak Sutopo dalam broadcast messengernya, sudah pasti drainase perkotaan tidak mampu mengaruskan limpasan permukaan. Sebab intensitas pemanfaatan ruang terbangun di Jakarta bagian utara mencapai 90 persen dan kawasan hijau dan lainnya hanya 10 persen. Maka konsekuensinya curah hujan yang jatuh ke permukaan tanah sekitar 85 persen berubah menjadi aliran permukaan. Koefisien aliran permukaan di Jakarta itu sendiri mencapai 0,85. Sementara kapasitas drainase perkotaan Jakarta saat ini rata-rata hanya mampu mengalirkan debit jika hujan 50-60 mm/hari. Artinya saat hujan normal pun sudah sering timbul genangan. Apalagi hujan ektrem. Jadi dengan hujan 177 mm/hari dan 361 mm/hari sudah pasti akan banjir.

Pak Sutopo melanjutkan broadcast messengernya. Kata dia, hujan ekstren di Jakarta makin sering terjadi. Tentu itu akan meningkatkan ancaman banjir. Untuk itu ke depan perlu pembenahan menyeluruh terhadap drainase mikro, penghubung dan makro. Selain itu upaya-upaya struktural dan non struktural perlu dipercepat. Jika tidak banjir akan berkelanjutan, kata Pak Sutopo mengakhiri broadcast messengernya.

Penulis: Agus Supriyatna

Comment di sini